Jumaat, 29 Oktober 2010

TITIK KELAM DI MASYARAKAT PATANI

TITIK KELAM DI MASYARAKAT PATANI
Disusun oleh: Abdullah

Silih bergangti waktu, maka silih bergangti pula manusia di dalamnya, terang membawa harapan, kelam membawa kehampaan, titik kelam di dalam masyarakat melayu Patani sekarang kian terbuka jalan terang, sebelum terang terlebih dahulu ada kelam, masyarakat melayu Patani sekarang dilanda bencana yang amat pahit, bila disuluh dengan kaca mata kebenaran sejati, amat sedikit para tokoh masyarakat membangun lidah terang yang gederang, sebab ancaman keselamatan diri digangtungkan sama pihak pemberi ancaman, yaitu Siam.

Baru-baru ini kita semua dapat melihat titik kelam yang terjadi pada seorang gadis Melayu di Markas kecil askar Siam, sebuah kenyataan yang patut kita orang melayu membuat penilaian diri, mengapa terjadi hal demikian rupa, seorang gadis melayu Patani dibujuk rayu dan bermesra dengan seorang askar Siam, malahan menghabiskan dengan kehormatan diri sendiri, malu kita yang mengetahui, tergadai kehormatan keluarga, ternoda keturunan Melayu, malu seluruh penjaru yang berbicara, sungguh kelam kejadian itu pada seorang gadis Melayu.
Beginilah anak2 gadis patani dibawah jajahan siam

Kelam di dalam masyarakat melayu Patani meminta titik terang, para sarjanawan dan sarjanawati dituntut membuka tabir yang berwarna hitam untuk menjadi warna putih, dengan memecahkan permasalahan yang dilanda, entah itu dari kiri dan kanan, usaha-usaha jahat dan picik dari orang pandai Siam wajib dibungkar seluas-luasnya.

Hal-hal dan liku-liku kekacauan di masyarakat Patani, patut dihidangkan kepada pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi, supaya dapat mempelajari penyakit yang sedang dilanda, biar anak melayu dibelakang hari terselamatkan, jalan terang akan terbuka bila titik kelam hilang, masyarakat aman dan damai semua orang Patani berharap, sejarah Patani silam mempunyai cerita hidup aman dan damai, lembaran sejarah silam menjadi panduan dan cita-cita di masa kini.

Para pejuang kebangsaan melayu Patani sedang membuka tabir hitam dan tipu muslihat Siam itu, titik-titik kelam di dalam masyarakat melayu Patani akan hilang dengan pukulan letusan senapan dan letusan api, sebab ucapan lisan dan bersikap damai itu, Siam membuat tuli telinga kiri dan kanan, maka jalan pilih untuk membuka titik kelam perlu dengan kekuatan api dan keberanian sejati.
Panji kafir musyrikin siam budha di bumi Patani

Sedih dan marah ada disetiap dada orang-orang melayu Patani, malu dan terhina di dalam tanah moyang sendiri, kian hari kian terasa kesumat dalam dada, picik dan liar atas nama kedamaian yang ditawarkan Siam itu tipu belaka, permainan Siam demi membuat masyarakat melayu Patani jadi kelam ada semenjak ratusan tahun silam, maka patut lah kita ambil pelajaran dan gemgam api kebenaran, biar panas dan meletus tangan, tapi terjunjung budi bakti bangsa Patani sejati
Beginilah orang berkupiah putih jiwa Siam
.

'Di Hilangkan' Tok Guru Haji Sulong Vs Tokoh HAM Somchai Neelaphaijit (Abu Bakar) Dengan Misteri'

'Di Hilangkan' Tok Guru Haji Sulong Vs Tokoh HAM Somchai Neelaphaijit (Abu Bakar) Dengan Misteri'
Haji Sulong

Haji Sulong bin Haji Abdul Kadir bin Muhammad bin Haji Zainul Abidin bin Ahmad @ Muhammad al-Fathoni, ketika itu Haji Sulong mengabdi sebagai Ketua Majlis Agama Islam pada tahun 1945. Ia sangat dihormati oleh masyarakat-masyarakat Melayu Muslim di Selatan thai Patani Darussalam.

Menurut Muhammad Kamal terhadap Haji Sulong bahwa:

Haji Suloang, adalah salah satu tokoh ulama Patani yang ditakdirkan memimpin masyarakatnya untuk menghadapi politik siamisasi yang dilancarkan oleh pemerintahan Thailand. Karena setelah beliau tinggal di Patani, beliau berusaha menbangkit kesatuan dan persatuan semagat umat Islam Patani. “Haji Sulong tidak saja terkenal dengan kitab-kitab karya dan aktivis dakwahnya, tetapi juga terlibatan dalam memperjuangkan demi memperbaiki nasib masyarakat muslim Patani pada tahun-tahun pra dan pasca perang dunia kedua” (Muhammad Kamal K.Zaman, 1996, 6).

Haji Sulong benar-benar seorang aktivis politik dalam kedudukannya sebagai pemimpin moral yang diakui oleh Melayu Muslim. Mereka menjadi popular di kalangan para pelajar dan jemaah haji di Asia Tenggara di Mekkah, dan melalui mereka prestige dan pengaruhnya bertambah besar. Ia kembali ke Patani pada tahun 1930, dan memulai karir sebagai pengajar yang menarik murid-murid dari seluruh pelosok Dunia Melayu.

Surin Pitsuwan dapat menjelaskan tentang latar belakang pendidikan Haji Sulong ketika berada di Makkah bahwa:

Seperti kebanyakan ulama Asia Tenggara, Haji Sulong mula-mula masuk sebuah sekolah menegah Indonesia yang terkenal, yang didirikan bagi pelajar-pelajar yang berbahasa Melayu di dekat Ka’bah, di Masjid Haram, yang diberi nama Dar al-Ulum. Di sini diberikan pelajaran mengenai ilmu-limu tradisional seperti : Tafsir Al-Quran, Hadits, asas-asas ilmu hukum, dan tata bahasa Arab. Haji Sulong bergabung dengan lingkaran-lingkaran scholastic yang berbahasa Melayu di Masjid Haram, dimana dia menjadi seorang rector yunior mengenai hukum Islam mazhab Syafi’e. Pada tahun 1927, ia berkenalan dengan gagasan-gagasan pembaharu dari Jamaluddin al-Afghani dan Muhhammad Abduh selama tiga tahun belajar di Makkah, ketika ia mendapat kesemapatan untuk bergaul dari beberapa ulama dari Mesir. Dari pengalamannya di Makkah dan pergaulannya dengan ulama-ulama lain yang berbahasa Melayu yang juga mulai menyadari potensi dan kemungkinan Islam sebagai sesuatu kekuatan politik, Haji Sulong menupuk suatu keyakinan yang semakin kuat terhadap keterlibatan politik dan aktivis social (Surin Pitsuwan, 1989,114).

Pada 1 April 1947, diadakan pertemuan di antara pemimpin-pemimpin masyarakat Islam wilayah selatan di Patani. Hasil dari pertemuan itu adalah kesepakatan untuk menyerahkan sebuah memorandum – yang mengandung beberapa tuntutan dari masyarakat Islam di selatan – kepada wakil-wakil kerajaan Thai sewaktu mereka melakukan kunjungan ke Patani. Pada tanggal 24 Agustus 1947, Haji Sulong (Ketua Majlis Agama Islam Patani) dan Wan Uthman Wan Ahmad (selaku Pengurus Persekutuan Semangat Patani) secara resmi menyerahkan memorandum tersebut kepada 7 orang utusan pemerintah yang berkunjung ke Patani. Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada tanggal 3 April 1947, Haji Sulong mengirimkan secara langsung memorandum tersebut kepada Perdana Mentri.

Hasil kesepakatan Memorandum ini berisi rencana tujuh yang dikenal dengan tututan “Tujuh Pasal” dari gagasan politik Haji Sulong dalam upaya mempertahankan kemandirian dan kemurnian Islam di Patani. Tujuh tuntutan ini yang nantinya dikenal dengan nama "Tujuh Tuntutan Haji Sulong".

Menurut Kandidat Doktor Sejarah University of Hawaii at Manoa, Amerika, Sejarawan dari Barat Muhamad Ali (Media Indonesia. 02 November 2004, OPINI), bahwa Haji Sulong menuntut atas pemerintahan Bangkok dengan terdapat beberapa hal yang meliputi:
  1. Wilayah selatan harus dipimpin orang local;
  2. 80% pegawai pemerintah harus orang Melayu;
  3. Melayu juga harus menjadi bahasa resmi, selain bahasa Thailand;
  4. Bahasa Melayu harus menjadi medium pendidikan di sekolah-sekolah,
  5. Hukum Islam harus diakui selain hukum sipil;
  6. Segala pemasukan local harus digunakan untuk kepentingan local; dan
  7. Pembentukan sebuah Dewan Muslim.
Dengan terdapat beberapa alasan pada Haji Sulong bahwa sebagian orang Melayu keberatan karena bahasa Thailand bukan bahasa ibu mereka; jika mereka belajar agama Buddha maka pelajaran agama Islam akan terbengkalai. Dengan alasan modernization pendidikan, pemerintah Thailand waktu itu tidak menanggapi aspirasi ini.

Tuntutan tersebut tidak mengusulkan pembentukan sebuah negara merdeka, tapi hanya sebuah entity territorial dan kebudayaan yang untuk mempertahankan identity yang khas. Menurut Haji Sulong, masalah-masalah yang serius itu disebabkan oleh ketiadaan kepercayaan dan saling pengertian antara yang berkuasa dan yang diperintah. Rakyat Melayu tidak punya rasa kebersamaan (sense of belonging) yang diperlukan untuk memberikan kapada pemerintah Bangkok legitimacy atas kekuasaan mereka. Tuntutan mereka wajar mengigat kenyataan bahwa tuntutan itu didasarkan atas penderitaan-penderitaan yang nyata yang tidak dapat dikurangi dibawah struktur kekuasaan yang ada.

Haji Sulong tidak menginginkan pembentukan sebuah negara merdeka, hanya agar sebuah wilayah selatan dapat mempertahankan identitas serta sifat-sifat khasnya. Keinginan ini seolah menjadi syarat minimal yang harus terpenuhi karena golongan Melayu-Islam akan tetap mengupayakan kelangsungan cara hidup tradisionalnya serta menjaga kemurnian agama Islam yang mereka anut.

Semula, ada optimism dalam benak Haji Sulong mengenai tuntutan-tuntutan ini agar dapat dipertimbangkan oleh Bangkok, meski tidak seluruhnya. Perdana Menteri Pridi yang diketahui terpengaruh dengan bentuk federalism Switzerland, diyakini bersedia memberikan otonomi kebudayaan bagi etnik Melayu dalam lingkungan bangsa Thai. "Pridi lah yang oleh Haji Sulong sebagai pemimpin de factor kepada community Muslim, begitu diharapkan untuk memberikan dokongan politik kepada perjuangan untuk memperoleh otonomi politik".

Sayangnya harapan-harapan ini segera buyar dan gone ketika Phibul kembali berkuasa pada tanggal 8 November 1947, tidak lama setelah memorandum diserahkan. Meski Pridi telah pergi, Haji Sulong yang sudah terlibat dalam perpolitikan, tidak dapat menghentikan langkahnya demi memperjuangkan otonomi politik yang sudah berjalan. Belakangan, setelah peristiwa ini, beliau banyak terlibat dengan YM Tengku Mahmud Muhyiddin, putera Raja Patani yang terakhir, di Kelantan, dan ini juga yang menjadi sebab bagi penangkapan kali pertama Haji Sulong pada hari Jum'at tanggal 16 Januari 1948.

Setelah Phibul berkuasa, dalam hal hubungan Memorandum berisi rencana tujuh perkara ini, pemerintah juga tidak bersedia memenuhi tuntutan-tuntutan itu, dengan pertimbangan bahwa tuntutan-tuntutan itu terlalu melanggar kekuasaan pusat dan dari sisi ekonomi terlalu mahal.

Haji Sulong dibebaskan empat tahun kemudian yaitu pada tahun 1952. Selama dalam tahanan di Ligor, beliau menulis sebuah karya yang berjudul “Gugusan Chahaya Keselamatan” yang kemudian diterbitkan oleh anaknya, Haji Mohd Amin pada tahun 1958, tetapi apa dayanya pemerintah segera dilarang – penerbitan dan peredaran buku tersebut – oleh kerajaan Thai. Haji Sulong dalam bukunya “Gugusan Cahaya Keselamatan” menjelas bahwa, rakyat ketika itu di tindas dengan kejam, sesuatu yang tidak di sukai pemerintah Siam dituduh melakukan pelanggaran undang kemudian ditahan, di hukum dan dibunuh. Tragedy bukan hanya menimpa atas beberapa orang saja namun ratusana jiwa di daerah Patani (Chalermkiat Khutongpej, 1995, 29). Setelah dibebaskan, Haji Sulong kembali ke Patani dan meneruskan pekerjaan awalnya yaitu menjadi "Tok Guru" dengan mengajar di pondok pesantren dan juga dari kalangan masyarakat (Ahmad Fathi Al-Fathoni, 1994, 92).

Setelah dua tahun dibebaskan, pada tanggal 13 Agus 1954, Haji Sulong ke Songgora di jemput dari Gebenur Songgora untuk di intograsi oleh pihak kepolisian atas nama-nama yang tercantum dalam surat perintah dari pihak kepolisian di Songgora itu, yaitu Haji Sulong, Wan Usman bin Wan Ahmad, Cik Ishak bin Abas, dan Ahmad To,mina bin Haji Sulong anak kandung Haji Sulong sendiri. Menurut surat perintah Gebenur Songgora, Ahmad To,mina tidak tercantum dalam daftar pihak kepolisian di Songgora, keikutsertaan ayahnya ke Songgora dalam upaya menterjemah bahasa Thai ke dalam bahsa Melayu dan bahasa Melayu ke dalam bahasa Thai, dengan karena Haji Sulong tidak bisa mengerti dan berbicara dalam bahasa Thai.

Setelah di intograsi oleh pihak kepolisian mereka berempat telah di izinkan untuk pulang ke kampung halaman mereka masing-maising setelah ditandatangani oleh Gebenur Songgora. Ternyata Haji Sulong, serta dua rakan dan Ahmad To,mina anaknya Haji Sulong menghilangkan secara misterius. Sedangkan kepulangan mereka semua di tunggu-tunggu oleh masyarakat setempat. Dalam dugaan mesyarakat setempat bahwa mereka semua telah dihilangkan jejak dengan kelicikan yang di mainkan oleh pihak kepolisian Songgora (Ahmad Fathi Al-Fathoni, 2001, 151). Ini merupakan suatu pengakuan kegagalan di pihak pemerintah (Pitsuwan,Surin, Op.Cit.127). Ada teori yang mendugakan bahwa keempat-empat mereka “ditahan” di luar undang-undang setelah mereka berempat sudah ditandatangani izin pulang ke Patani.
Dengan bukti yang megatakan mereka berempat “dihilangkan”, terdapat seorang nelayan Songgora yang berasal dari Panarek (nama derah di Wilayah Narathiwat), yang bernama Hasin, katanya:

"datang seorang aparat kepolisian meminta bantuan supaya membuang lima bungkusan karung yang berisisi mayat kedalam pantai yang berdekatan Pulau Tikus".

Menurut Hasin, mereka tidak mengetahui apa jenis bukusan karung yang tersisi di dalam kelima-lima karung tersebut. Mereka dapat mendegar gosib kehilangan Tok Guru (Haji Sulong) setelah tiba mendarat, Hasin segera langsung “mencium” yang berhubungan diantara peristiwa kehilangan Tok Guru yang berkaitan dengan karung yang telah mereka campakan pada malam hari tersebut di pantai Senggora yang berdekatan dengan pulau Tikus dan pulau Kucing (Samila Beach) pada malam Sabtu 13 Agus 1954 (Ismail Che’Daud, 1988, 355-357). Terdapat empat karung yang diyakinkan empat mayat rombongan Tok Guru dan satu isi karung disebutkan aktivis komunis yang berbangsa Cina.

Pada peristiwa ini, keluarga Haji Sulong mengundang Hasin dan memberi perlindungan untuk menjadikan sebagai saksi dalam kasus kematian Tok Guru yang akan mendakwa kepegadilan mahkamah. Akan tetapi, sebelum Hasin dan keluarganga Haji Sulong menutut kasus “dihilangkan” Tok Guru ke pengadilan, Hasin telah pun terbunuh oleh orang tanpa diketahui. Pembenuhan Hasin berlaku seketika mereka keluar dari rumah berlindung untuk pulang ke rumah mereka dalam upaya ketemu isteri dan anaknya di Panarek.

Demikian kasus “dihilangkan” Haji Sulong, anaknya Ahmad To’mina dan dua orang rekannya tidak bisa membongkar ke pengadilan, dengan tanpa ada saksi dan tanpanya ada kerjasama pihak kepolisian antar keluarga Tok Guru, lebih lagi kasus “dihilangkan” ini menakutkan penduduk masyarakat yang sedia ingin menjadikan saksi berikut. Akhirnya peristiwa “dihilangkan” Haji Sulong oleh aparat kepolisian tidak bisa mengungkit ke mahkamah kepengadilan.

Sementara itu, tekanan internasional terhadap kerajaan Thai bertambah besar atas kehilangan Haji Suloang, anaknya Ahmad To’mina dan dua orang rekannya, sehingga peristiwa Haji Sulong enyebab masalah Patani mendapat perhatian Liga Arab dan PBB (Surin Pitsuwan, Op.Cit.,125).

Ahkirnya riwayat Haji Sulong, Wan Usman bin Wan Ahmad, Cik Ishak bin Abas, dan Ahmad To,mina (Anak Haji Sulong) semua mereka di bunuh dan jasad mereka juga tanpa perkubaran atau makom, hanya nama Tok Guru dan tempat pembuagan jasad mereka menjadi catatan sejarah hingga sekarang. Dengan terkenal nama tepat arwah Haji Sulong itu di pulau Tikus dan pulau Kucing (Samila Beach) almarhum pada malam Sabtu 13 Agus 1954.

Akan Ada Sambungan Yang Terakhir.. ( Tokoh HAM Somchai Neelaphaijit 'Abu Bakar')..













sumbur: http://www.facebook.com/#!/notes/patani-fakta-dan-opini/di-hilangkan-tok-guru-haji-sulong-vs-tokoh-ham-somchai-neelaphaijit-abu-bakar-de/162648633758525

Ahad, 24 Oktober 2010

Strategi Penjajah Siam Mematahkan Kebangkitan Rakyat Patani

Strategi Penjajah Siam Mematahkan Kebangkitan Rakyat Patani
Ditulis oleh: Abu Nuaim  

Setelah 6 tahun rakyat Patani bangkit menentang penjajahan Siam di bumi mereka secara berterusan pada 2004 hingga kini, pihak Thai Siam juga telah mengerahkan segala kekuatan mereka bagi mempertahankan penjajahannya yang begitu lama bertapak di bumi Patani. Thai Siam telah bekerja keras bagi memastikan mereka dapat mengekalkan penjajahan ini untuk selama mungkin dan akan berpuas hati jika seluruh rakyat Melayu Patani dapat di Siamisasikan sepenuhnya.
Pada peringkat permulaan kebangkitan (yang terbaru) iaitu sejak 4 Januari 2004, penjajah Siam seolah-olah menjadi histeria, bingung dan gelabah dalam menghadapi kebangkitan rakyat di Patani. Siam telah menerima satu kejutan yang hebat kerana ini pertama kali dalam sejarahnya kem tentera Siam ditawan dan diserbu dengan begitu mudah. Walau pun pada suatu ketika dahulu, mereka pernah berdepan dengan pemberontak Komunis Thai dan gerakan pembebasan Patani sebelum ini tetapi tidak pernah menerima “aib” seteruk kali ini kerana bukan sahaja kem tenteranya dapat ditawan bahkan banyak senjata-senjatanya dirampas dan 5 askarnya turut terbunuh.
Kebangkitan rakyat Patani pada kali ini, telah menarik perhatian seluruh bangsa Siam dan mereka memberi perhatian yang serius terhadap bumi jajahannya Patani, masing-masing melahirkan reaksi serta menimbulkan pertanyaan yang pelbagai; apa? kenapa? Bagaimana? Dan pelbagai soalan yang membingunkan mereka sehingga entah sudah berapa menteri, panglima tentera ditukar ganti hatta Perdana Menteri juga sudah empat orang silih berganti, namun rakyat Patani tetap konsisten dalam perjuangannya menuntuk hak kemerdekaan bagi Negara Patani yang sedang dijajah itu.   
Walau bagaimanapun, sepanjang tempoh ini juga Siam mula mengumpul segala maklumat dan mula menyusun semula strategi pertahanannya bagi memastikan kuasa penjajahannya dapat dikekalkan di bumi Patani.   
Setakat ini pihak Siam telah mengandaikan bahawa ada 3 peringkat dalam susunan barisan pejuang pembebasan Patani yang bergerak aktif menuntut kemerdekaan Patani sekarang iaitu peringkat pimpinan, kedua peringkat angkatan bersenjata, dan ketiga peringkat pendokong perjuangan yang terdiri daripada kalangan rakyat awam. Andaian ini Siam mendakwa berdasarkan kepada maklumat-maklumat suspek yang ditangkap dan juga berdasarkan kepada risikan dan penyelidikan yang dijalankan selama pergolakan berlangsung.
Andaian ini telah memberi erti bahawa Siam telah melangkah daripada satu tahap ke satu tahap yang lain, atau dengan kata lain, melangkah daripada “tidak tahu” kepada “tahu” walaupun andaian ini belum dapat dipastikan dengan tuntasnya oleh mereka, namun berdasarkan kepada tindakan-tindakan yang telah diambil oleh mereka pada ketika ini, jelas ia adalah usaha bagi merungkai persoalan dan andaian di atas. Hal ini dapat dilihat kepada strategi-strategi yang telah dijalankan oleh mereka terutama setelah kerajaan Surayud dan kerajaan Prachatipat berkuasa, kerana pada hakikatnya golongan inilah yang dikatakan bapa penjajah Siam di Patani yang sebenar, kerana mereka adalah mewakili golongan istana Siam yang sekaligus menguasai tentera dan kerajaan. Segala keputusan penting yang membabitkan kepentingan Negara Siam terutama wilayah-wilayah jajahannya dimonopoli oleh golongan ini bukan melalui proses demokrasi parlimen seperti yang difahami ramai.
Bertolak daripada andaian ini, maka mereka telah mengatur strategi penting bagi mematahkan dan menyekat kebangkitan rakyat Patani bagi memerdekakan tanah airnya. Secara umumnya strategi ini terbahagi kepada 2 strategi utama yang merupakan serampang dua mata; iaitu strategi ketenteraan dan strategi politik. Strategi ketenteraan diarahkan kepada angkatan bersenjata pejuang pembebasan Patani dan orang awam, sementara strategi politik pula diarahkan kepada peringkat pimpinan dan pendukong perjuangan pembebasan Patani.
Strategi ketenteraan dan tindakkan yang telah di ambil oleh penjajah Siam antaranya; mengisytiharkan darurat, mengisytiharkan perintah berkurung, menambahkan bilangan tentera, membentuk badan-badan pemerintahan, membentuk sukarelawan kerajaan, mengupah 4500, menekan ketua-ketua kampong untuk bekerjasama dengan Siam, meningkatkan kerja risikan, menyekat kebebasan media dan lain-lain. Semua tindakan ini adalah untuk menyekat kemaraan gerakan angkatan bersenjata pejuang dan sekaligus “menakutkan dan mendiamkan” rakyat supaya tidak memberi sokongan kepada perjuangan atau istilah lain disebut memisahkan ikan dengan air. Strategi ini dikenali sebagai menguasai 3, iaitu menguasai kawasan, menguasai rakyat dan menguasai penyokong pejuang yang dalam bahasa Siam disebut (3Ko’). Pendekatan ini merupakan satu pendekatan keganasan Siam terhadap rakyat awam yang lemah untuk mengugut, mengancam, menangkap dan seterusnya jika masih berdegil mereka akan membunuh sama ada dengan cara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.
Pendekatan ganas ketenteraan ini bertujuan “mendiamkan” rakyat awam supaya tidak bangun menentang mereka yang sering ditunjukkan oleh rakyat Patani melalui prinsip-prinsip demokrasi, sebagai mana sering dilihat sebelum ini seperti memprotes, demontrasi secara aman dan menentang tentera daripada menetap di kampung-kampung mereka. Namun setelah tentera Siam memperhebatkan strategi-strategi di atas, kini rakyat awam berada dalam keadaan “ketakutan” dan tidak lagi berani melahirkan “perasaan sebenar” mereka.   
Beginilah orang berkopiah puteh...Siapa mulia siapa hina?

Sementara Strategi politik pula ia dapat dibahagikan kepada 2 strategi utama iaitu strategi politik dalaman dan strategi politik luaran. Strategi politik dalaman yang telah diambil oleh penjajah Siam antaranya ialah mendekati golongan agama, pujuk rayu, menabur janji, propaganda politik, membentuk secara langsung atau tidak langsung kumpulan-kumpulan politik dan sosial sama ada yang bersifat kontra perjuangan rakyat atau bersifat pro kerajaan Siam atau pun yang bersifat neutral yang bergerak mengikut peraturan yang digariskan Siam atau dengan kata lain mengikut undang-undang Siam.  
Semua strategi ini bertujuan “memisahkan” rakyat Patani daripada perjuangan kemerdekaan dengan membiarkan pejuang “bersendirian” dan “terasing” dari semua kumpulan yang dibentuk tadi. Baik atas nama kumpulan parti politik atau pun kumpulan sosial yang tumbuh seperti cendawan di Patani sekarang. Sehingga akhirnya, gerakan pejuang kemerdekaan menjadi “asing” dan “disisihan” daripada arus perdana dalam masyarakat serta mengecopkan pejuang sebagai kumpulan “pengganas” yang menolak keamanan. Inilah yang dipanggil “menekan melalui birokrasi” atau istilah Siam dipanggil (Beeb duai kol kai). Iaitu membiarkan masyarakat menghukum terhadap gerakan pejuang kemerdekaan yang dianggap “asing” dan ketinggalan dalam arus perdana.
Demi menjayakan misi ini, maka Siam memperhebatkan propaganda politiknya dengan menggunakan golongan agama dan pemimpin tempatan (orang Melayu) untuk dijadikan alat tunggangannya dengan tujuan “melagakan” dan menjadikan “alatnya” itu sebagai “benteng” penjajahannya dalam menghadapi pejuang kemerdekaan. Maka akhirnya peperangan ini menjadi Melayu lawan Melayu yang merugikan perjuangan secra keseluruhannya.      
Sementara strategi Politik luar pula Siam telah menggunakan seluruh kebijakan diplomatiknya bagi meyakinkan dunia terutama dunia Islam bahawa permasalah Patani adalah masalah dalaman negaranya yang ditimbulkan oleh sebahagian golongan kecil sahaja bukan mewakili orang Islam seluruhnya. Maka dengan itu setiap kali hampir dengan persidangan OIC berlangsung, pelobi-pelobi Siam “ligat” menjalankan tugasnya samada melalui saluran-saluran yang tersedia ada atau sebaliknya. Antara contoh usaha-usaha Siam bagi meyakinkan dunia luar ialah dengan menjemput duta-duta asing dan setiausaha OIC ke Patani dengan menyediakan semua kemudahan dan keselesan kepada mereka tanpa menunjukan kecelaan dan kekurangan sedikit pun.            
Seluruh strategi-strategi di atas, Siam telan menjalankan secara serentak dan bersepadu dalam usaha “menyempitkan ruang” gerakan pejuang pembebasan Patani baik di dalam mahupun di luar negara serta ingin mematahkan semangat kebangkitan rakyat Patani dalam perjuangan menentukan “hidup” atau “mati” bangsa Melayu Islam di bumi Patani Darussalam pada masa kini.
25 Oktober Perestiwa Tabal



sumbur: http://ambranews.com/v1/index.php?option=com_content&view=article&id=150:strategi-penjajah-siam-mematahkan-kebangkitan-rakyat-patani&catid=41:politik&Itemid=34:

Isnin, 18 Oktober 2010

Hakikat Patani

                      
Hakikat Patani
Disusun oleh: Azrulshah Shah

Konflik di negeri Fathoni jika dihitung sudah mencecah 224 tahun semenjak dijajah pada tahun 1786. Dalam usia yang begitu lama ini pastinya pelbagai rintangan dan peristiwa yang dilalui oleh orang Melayu di Selatan Thailand.

Sukar untuk digambarkan difikiran akan keseksaan yang dilalui oleh umat Patani. Ribuan malahan jutaan nyawa yang tidak berdosa telah terkorban akibat sifat tamak dan holaba kerajaan Siam yang menjajah negeri Fathoni. Bermula zaman pemerintahan Chulalongkorn yang menjarah serta memecah negeri Fathoni kepada wilayah-wilayah kecil dalam usaha melemahkan orang Melayu serta menghapuskan kuasa raja-raja Melayu. Begitu juga dengan Phibul Songkhram yang terang-terang menghapuskan identiti Melayu sehinggalah Sarit Thanarat yang sagat benci kepada agama Islam sehingga menyerang sekolah-sekolah pondok. begitu juga dengan Tinasulanonde yang hanya bermuka-muka dalam menjalankan dasar penghapusan komunis tetapi dalam masa yang sama menghapuskan gerakan pemisah. pembangunan langsung tiada di Patani.

Hakikatnya, pada hari ini sukar untuk mencari perdamaian kerana kerajaan Thailand masih lagi menggunakan pendakatan penjajahan di tiga wilayah. Dasar-dasar yang dibentuk adalah tidak adil umpama layanan majikan dengan hamba. Bayangkan dari dahulu hingga sekarang masih belum ada pembangunan yang benar-benar membantu orang Melayu di Patani.

Kebanyakan ladang-ladang getah dan kelapa sawit adalah milik Thai dan Cina. Begitu juga kolam-kolam udang yang luas sehingga merosakkan sistem aliran sungai di Patani juga hak milik bangsa lain. manakala orang Melayu hanya menerima tempiasnya sahaja untuk hidup seperti kais pagi makan pagi kais petang makan petang. Saya pernah menemui seorang berbangsa Cina yang cukup berjaya di tiga wilayah dalam dunia perniagaan dan politiknya. beliau terus terang menyatakan bahawa orang Melayu adalah pemalas dan suka mengambil hak orang. Pada saya, itu telaah yang tidak benar sama sekali. Sebenarnya hak orang Melayu diambil oleh orang Siam dan mereka tidak diberi peluang dalam sektor ekonomi. Bagaimana boleh dikatakan orang Melayu pemalas sedang sejarah telah menunjukkan bahawa bangsa Melayu sebuah bangsa yang agong dalam dunia perdagangan. Kalau bukan disebabkan itu, masakan Siam yang tamak sanggup menjajah Patani.

Logiknya, sesebuah kerajaan yang membuat keputusan untuk menjajah negeri lain adalah disebabkan ada sesuatu yang memberi keuntungan kepadanya. Kalau negeri Patani kering kontang dan tiada apa-apa, masakan orang Siam mahu menaklukinya. Justeru, Patani dahulunya terkenal dengan perlabuhan yang termaju di seantero dunia. Malahan kerajaan Langkasuka yang diagongkan oleh dunia Melayu adalah wujud di Patani. Namun, semua ini tinggal kenangan sekiranya orang Melayu tidak bersatu dan sama-sama bangkit menentang kezaliman dan penjajahan. Dunia sekarang tidak lagi boleh mengikut logik akal kerana apa-apa yang mustahil apasti akan berlaku. Contohnya, israel sebuah negara yang dahulunya tiada boleh membunuh dan menyerang bangsa lain. Kalau ikutkan logik akal masakan benda ini berlaku kerana bangsa mereka adalah jumlah yang kecail dan berbentuk diaspora (bertaburan dalam dunia). Jadi, harapan kepada orang Melayu bersatulah dan bergerak atas jalan agama Islam. Jadikan tauhid sebagai titik persamaan untuk semua pihak.

Kalau nak cakap atas jalan Islam agak sukar diterima kerana sekarang dalam Islam sudah ada pelbagai pegangan dan pendapat. Jadi, ambillah tauhid atau beriman kepada Allah sebagai titik semua pihak untuk bersatu. Di Selatan Thailand sekarang memang diketahui bahawa banyak pertelagahan berlaku di kalangan umat Patani sendiri. Tetapi sampai bila hendak bertelagah sama sendiri sedangkan perlu menghadapi halangan yang cukup perit di hadapan. Bergabunglah dan berjuanglah secara baik yang mana difikirkan mempunyai cahaya untuk mencapai kejayaan.

Sekian dan wasalam



Sumbur: Patani Fakta Dan Opini
http://www.facebook.com/home.php?#!/note.php?note_id=144003535623035

Jumaat, 15 Oktober 2010

Ikan Besar (Ikan Lele Gergasi) Tanda-Tanda Nasrun Mina Allah (Pertolongan Allah)

Ikan Besar (Ikan lele Gergasi) Tanda-Tanda Nasrun Mina Allah (Pertolongan Allah)  
Ditulis oleh Abu Nuaim

Satu peristiwa yang telah berlaku bagi membuktikan kesucian dan keikhlasan hamba Allah yang selama ini sanggup berjuang demi membela agamanya. Peristiwa ikan besar (ikan lele gergasi) telah berlaku di suatu desa (kampong) baru-baru ini. Penulis sendiri pergi ziarah di kampong itu dan sempat bersembang berbual dengan penduduk kampong tentang cerita anehdan ajaib  ini. Dalam tulisan ini, penulis ingin guna hanya nama gantian dari nama sebenar desa (kampong) dan beberapa tempat yang berkaitan. Kerana itu adalah permintaan dari orang desa (kampong) di situ supaya merahsiakan nama desa (kampong) dan nama tempat yang berkaitan. Di sini penulis harus tunai janji dari permintaan mereka. Dalam tajuk ini, semua nama desa (kampong) dan tempat yang berkaitan adalah letakan nama dari penulis sendiri supaya pembaca senang dibaca dan sedap didengar.
Pada satu ketika Pejuang Pembebasan Patani sedang beristirahat di tepi lubuk sungai, di situ ada Tako Ikan (gambar) yang sudah dibuat oleh penduduk yang berhampiran. Semasa mereka sedang tunggu ikan masuk ke dalam tako, mereka sama-sama meriah dengan rakan-rakan yang lain dengan bakar ikan yang sudah masuk tako sebelum ini.
Apabila tiba waktu petang, Pejuang Pembebasan Patani meninggal pesanannya kepada kawannya, “biarkan tinggal tako ini dan nanti kita mari angkat 2 hari nanti”, jawab rakan “yananti aku mari angkat 2 hari lagi. Setelah itu mereka sama-sama balik ke rumah masing-masing, malam itu semua tidur dengan nyenyak dan lena.
Esokan pagi, seorang Pejuang Pembebasan Patani meneliphon kepada kawannya yang berada di luar kawasan supaya datang ambil dan jemput dia keluar pada petang hari nanti, kerana dia ingin beristirahat sekejap di luar.
Jam 2 petang waktu tempatan, suatu peristiwa yang tidak diingini pun berlaku apabila pihak polis dan tentera Thailand beribu-ribu orang masuk kepong kampong yang Pejuang Pembebasan Patani bermalam itu. Pejuang Pembebasan Patani yang baru sehaja selesai dari makan dan solat zohor terperanjat degnan kedatangan pihak askar dan polis. Pejuang Pembebasan Patani dengan pantasnya bangun bersama seputong senjata pendek tersayang lari ke arah belakang rumah. Allahu Akhbar, Allahu Akhbar, Allahu Akhbar!!! Pejuang Pembebasan Patani takbir dengan suara yang nyaring dan kuat, kerana ternyata di belakang rumah itu sudah penuh dengan manusia yang berpakaian hitam dan chokolat. Pejuang Pembebasan Patani mula ucap laung dengan takbir Allahu Akhbar. Namun, manusia yang berpakaian choklat dan hitam tadi terus jawab dengan terbangan peluru beratus-ratus ke arah Pejuang Pembebasan Patani. Namun sebelum Pejuang Pembebasan Patani menembus nafasnya kali terakhir dia juga sempat membalas peluru ke arah manusia yang berpakaian hitam dan chokolat tadi, 2 orang maut di tempat kejadian dan 2 cedera parah dikejar ke hospital tanpa diberitahu kepada orang awam.
Setelah Pejuang Pembebasan Patani hembus nafas kali terakhir, pihak polis dan askar dengan geramnya lepas tembakan berdas-das ke arah Pejuang Pembebasan Patani yang sudah tidak bernyawa sehingga keluar otak kepala, namun semua kekejaman jahat itu tidak pernah menakutkan kepada si Pejuang yang sanggup membela agama Allah.
Setelah Pejuang Pembebasan Patani ini syahid, khabar beliau sampailah kepada kawannya yang dia meneliphon untuk keluar rehat pagi tadi, “OO”, sebenarnya mu ingin keluar beristirahat selama-lamanya” kata rakan Pejuang itu.
Setelah  jinazah al-syahid keluar dari hospital, di rumahnya pada waktu 8 malam sudah penuh dengan beribu-ribu manusia yang sedang menunggu ketibaan al-syahid itu. diantaranya 4 orang pemuda yang sebelum ini ketagih daun ketong datang ke rumah al-syahid dan terus kucup jinazah sambil menangis kerana teringat dengan pesanan-pesanan yang diberi oleh al-syahid kepada mereka sebelum ini. Kayu api dan barang-barang untuk memasak di dapur bagi menjamu tetamu semuanya dicari dan diurus oleh 4 orang pemuda tadi. Kini kesemua 4 orang pemuda tadi mulai solat secara berjamaah tidak lagi tinggal, daun ketong yang diminum sebelum ini pun sudah ditinggalkan.
Allahu Akhbar, Allahu Akhbar, Allahu Akhbar!!! Suara takbir perarakan membawa jinazah ke kubur semenjak dari anak tangga rumah hinggalah sampai ke lubang kubur tidak pernah sepi sehingga sampai jinazah dikebumikan.
2 hari kemudian pada jam 2 petang iaitu waktu yang sama di mana Pejuang Pembebasan Patani di tembak oleh siam, rakannya yang dipesan oleh Pejuang suruh angkat tako ikan tadi pun pergi ke tempat tako di lubuk untuk tunai janji yang pernah berjanji dengan Pejuang yang syahid itu. Setelah tiba di tako, perlahan-lahan rakannya itu tarik tako naik, Adooh!!!kenapa tako ini berat begini ni??? mengeloh si rakan itu. Apabila tako ditarik naik, ternyata yang berat tadi adalah ikan besar. OOOOO!!!!!! Ikan besar, ikan besar, ikan besar!!!!!!! Terkejut si rakan itu dan lantas dia teringat pesanan yang diberi oleh Pejuang Pembebasan Patani sebelum ini bahwa nanti 2 hari lagi kita mari angkat tako ini, ternyata hari inilah yang dimaksud oleh Pejuang itu tadi, dan memang tanda-tanda pertolongan dari Allah kepada hamba yang sanggup berjuang untuk membela agamanya dan menghalau penjajah kafir siam dari bumi yang suci Patani Darussalam.
 Setelah tako (gambar) di tarik naik, rakan Pejuang itu pergi turut seorang lagi kawannya untuk angkat ikan itu naik dari tako, kerana dia seorang tidak mampu tarik. Setelah dari tarik naik ke darat, rakannya cuba letak ikan itu di atas kelo penimbang ternyata ikan itu berat 95 kelogram dan panjang 2 meter 20 sentimeter, daging ikan semua diagih kepada keluarga yang sahid untuk membuat jamuan untuk tetamu dan pelawat.
Kesah seperti ini sudah berlaku juga di kawasan yang hampir, di mana ikan itu berat 85 kelogram dan keadaan hampir sama juga iaitu ikan masuk dalam tako setelah Pejuang Pembebasan Patani sahid 2 hari sebelumnya apabila meraka bertempor dengan polis dan askar siam.             
Firman Allah yang bermaksud;
“ Sesungguh Allah telah menolong kamu pada peperangan Badar padahal kamu adalah orang-orang yang lemah” (Ali ‘Imrah :123)
Ayat al-Quraan di atas adalah satu dalil yang menegaskan bahwa pertolongan Allah itu bukan hanya pada perang Badar sehaja, ia bukan dikhususkan kepada Nabi SAW dan Sahabat-sahabatnya sehaja, bahkan ia untuk keseluruhan hambanya yang benar-benar yakin, tawakal, sabar dan istikamah apabila menghadapi peperangan.
Dalam perang Badar pada 17 Ramadhan tahun 2 hijrah, tentera Islam hanya 317 orang dan 70 unta yang dipimpin sendiri oleh Nabi saw. Manakala tentera musuh musrik pula jumlahnya lebih dari 1000 orang, 200 berkuda, 600 berbaju besi yang dipimpin oleh Abu Jahal. Dalam peperangan ini tentera Islam hanya gugur syahid 14 orang sehaja, manakala pihak musuh musrik maut 76 orang.
Dalam bilangan yang jauh berbeza jika dibandingkan dengan pihak musuh, tetapi kenapa pihak Islam dapat menang dengan gemilang? Ia tidak lain dan tidak bukan adalah kerana pertolongan dari pada Allah yang mengutus para Malaikat ikut serta dalam perang Badar itu.
Tidak hairanlah sehabat pernah berkata, ketika aku angkat pedang untuk memotong kepala musuh ternyata belum lagi aku angkat pedang musuh itu sudah terbaring dan sungkur, sahabat bertanya Rasulullah, apa kejadian yang berlaku itu? Rasulullah menjawab, “ itu adalah para Malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyertai perang bersama2 dengan kita”. Allah menjanjikan pertolongan ini apabila hamba sanggup menepati segala syarat-syarat untuk mendapat pertolongan yang luar biasa ini.                                                                                                                  
Kejadian yang berlaku terhapda al-syahid dalam tajuk ikan Lele Gergasi di atas adalah petanda bahwa nasrun mina Allah sudah pun tiba dan tidak akan putus selama mana hamba merasa yakin dan penuh dengan keimanan.
Perjuangan diantara Patani-Thailand tidak ada istilah mustahil bagi orang Melayu Patani boleh menang, kerana sejarah telah bukti kepada kita pada perang Badar bahwa jumlah dan senjata yang canggih bukan suatu penentuan dalam kemenangan dalam perang. Perang Viatnam-Amerika juga sudah pun kita ketahui bagaimana mereka dapat mengalah penguasa besar dunia sebesar dan secanggih Amerika??!!
Rasulullah SAW pernah mengingati kepada kaum Muslimin bahawa kemenangan mereka bukan terletak kepada kekuatan fizikal, bilangan tentera dan persenjataan semata-mata, tetapi yang utamanya ialah kekuatan dari Allah swt.
Ingatlah, Doa itu adalah senjata bagi orang-orang yang beriman.

Tako Ikan
Sumbur: http://ambranews.com/v1/index.php?option=com_content&view=article&id=55&Itemid=46

Pibul Songkram Dalam Penindasan Melayu Islam Patani

Pibul Songkram Dalam Penindasan Melayu Islam Patani
Disusun Oleh: Patani Fakta dan Opini

Pibul Songkram yang sangat digambarkan sebagai seorang pemimpin yang sangat “nationalistic” krismatik dari sebuah kelompak yang militaristic dalam lingkungan pimpinan nasional Thai dalam priode pasca-revolusi 1932. Bahwa Pibul benar-benar orang yang paling berkuasa dalam kedudukannya sebagai perdana menteri. Ia berhasil memaksa parlemen yang terpesona untuk memberikan kepadanya jabatan-jabatan Menteri Pertahanan, Dalam Negeri, Luar Negeri dan Pendidikan. Di samping itu, ia memegang jabatan Panglima Besar Angkatan Darat, Panglima Khusus Angkatan Laut, Pangliama Khusus Angkatan Udara, selain Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.
Sementara itu, Pibul tidak sekedar menempuh suatu politik diskriminasi keagamaan semata-semata terhadap golongan minority Melayu. Kebijakannya memang teridiri dari tindakan penindasan yang bertujuan untuk manghapus identiti golongan Melayu Islam Patani (Surin Pitsuwan, 1989, 68, 69,71,72).

Politik nationalist yang ditempuh oleh Pibul begitu menyeluruh, sehingga berbagai aspek kehidupan rakyat sehari-hari sekalipun, tidak lolos dari pengaruhnya. Orang Melayu tidak diperkenakan lagi mengenakan pakaian tradisionalnya, tidak boleh memakai nama Melayu-Arab dan mengunakan bahasa mereka sendiri.

Mengingat kebijakan semacam itu yang dijalankan oleh pemerintahan pusat, tidak mengherankan bila pemimpin tanpa kekuatan perlawanan Patani. Namun, hal itu ditambah dengan pendekatan persoalan yang tidak mau mengerti budaya dan aspirasi warga setempat. Muslim selatan itu tidak mau menghilangkan identity mereka, yang di sisi lain justru dipandang pemerintah pusat penting demi sebuah Thailand yang utuh.

Orang Siam mencoba sekuat tenaga untuk menyingkirkan agama Islam dari negeri ini, mencoba memaksa orang Melayu untuk menyembah Buddha. Mereka memerintah orang Melayu berpakaian seperti orang Siam—laki-laki mengenakan pants panjang, dan tidak peduli Haji atau Lebai, harus mengenakan topi helm atau topi Eropa untuk mengganti turban; sedangkan perempuan harus mengenakan rok atau gaun. Orang yang mengabaikan perturan-peraturan ini dihukum dengan cara bermacam-macam; mereka dihina dengan sepakan-sepakan kaki, dan sebagainya, perempuan dipaksa menanggalkan pakaian Melayunya dan dilarang melaporkan kepada pihak berwenang untuk mendapat keadilan tetapi harus berpakaian seperti diperintahkan (Masri  Maris, 2005, 214).

Pibul juga menciptakan sebuah konsep yang meresahkan mengenai negara racist: negara untuk ras Thai (Thai Rathaniyum). Hanya ciri-ciri kebudayaan rakyat Thai di daerah pusat sajalah yang akan diizinkan dan bahkan dikembangkan. Golongan-golongan minority harus tunduk kepada norma-norma Thai. Nama negara itu diubah dari nama Siam diubah menjadi “Negeri Thai” (Thailand dengan tekanan pada Thai) dalam bulan Juni 1939. Gerakan ini dinamakan “Pan Thai” atau “Thai Raya” (Surin Pitsuwan, Op.Cit. 69).

Pada tahun 1961, Bangkok mendorong pelaksanaan pendekatan policy yang berdasarkan ‘Transmingrasi Policy ’ untuk merangsang migrasi penganut Buddha Thai ke Selatan yang bertempatan di daerah-daerah (Patani) itu dalam upaya untuk ‘membenahi kepincangan perimbangan antara penduduk Buddha Thai dan Muslim Malayu di Selatan Thailand.

Menurut Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra bahwa pemerintah pusat Bangkok memonolitisme budaya Thai dengan mengorbankan budaya Melayu Muslim. Sejak 1970-an Pemerintah Thailand melakukan “Siamisasi” dengan mewajibkan orang-orang Muslim Patani menggunakan nama dan bahasa Thai (Azyumardi Azra, “Pondok Patani”, Republika, 2 Febuary 2006).  Dengan bahasa Siam menjadi bahasa kebangsaan di kawasan Selatan dan di sekolah-sekolah merupakan bahasa resmi, juga tulisan Arab Melayu digantikan tulisan Siam yang berasal dari Palawa.

Sebagian orang Melayu Islam di Selatan Thailand menganggap hal itu sebagai pemaksaan kehendak majority Budha terhadap mereka minority yang berugama islam dan berbangsa Melayu.
Pibul Songkram

Sumbur: http://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=158861134137275