Sabtu, 14 Januari 2012

أونتوق سموا ايبو فارا مجاهددميدان فرغ..انق مو سئورغ مجاهد

Teruntuk semua ibu para mujahid: Ibu..anakmu seorang mujahi

 - Bissmillah..pesan berikut ini didedikasikan untuk semua ibu para mujahid, yang disampaikan oleh Abu Ibraheem, berasal dari Jerman,  seorang mujahid Taliban di Waziristan, Uzbekistan, melalui sebuah video yang dirilis oleh Jundullah Media baru-baru ini yang berhasil diterjemahkan oleh Arrahmah.com, semoga pesan-pesan berikut ini dapat membuka hati dan semangat para ibu dan para orangtua umumnya, terkhusus ibunda yang putra putrinya pergi hijrah dan jihad fisabilillah.


***
Sebuah pesan dari tanah yang diberkahi, Tanah para syuhada..
Aku dedikasikan kata-kata ini ketika aku sedang Ribath, menghadapi musuh, di jalan Allah aku berjihad, untuk meninggikan kalimat-Nya.
Ibu…anakmu seorang mujahid.
“Ibu..tetaplah tabah”
Bissmillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi Robbil’alamin wa sholatu wa salam ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa sohbihi ajma’in, amma ba’du.
Untuk ibuku…Untuk ibuku yang terhormat
Dan untuk semua ibu yang putra-putrinya hijrah fisabilillah
Kata-kata berikut ini adalah dari lubuk hatiku yang dalam, untuk ibu dan semua ibu. Maka bukalah hatimu untuk kata-kata yang datangnya dari hati.
Wahai ibu..setiap kali engkau mendengar telepon berdering, engkau segera menuju telepon sementara hatimu berdebar-debat, engkau segera menuju telepon itu dengan harapan untuk mendengar suara anakmu.
Wahai ibu..aku jauh, jauh dari dirimu untuk waktu yang lama, dahulu mungkin kau tak pernah merasakan ini, ketika aku absen dari rumah hanya satu atau dua hari. Tapi sekarang? Aku berpisah darimu sejak bertahun-tahun.
Ibu, Ketika aku memikirkanmu, kerinduan menyelimuti hatiku, aku mengingat kasih sayangmu, kesabaranmu, tentang cintamu kepadaku, hal-hal itu darimu yang membuatku mengetahui, membuatku merasakan bahwa engkaupun disana memikirkanku, “anakku..wahai dimana anakku?”, mungkin engkau menangis dalam kesedihan, mengangis dalam ketidakpastian, naluri keibuanmu menyebabkan kau menangis,”anakku..dimana ia? Di gunung manakah ia?, di gua manakah ia melalui malam?, pohon apakah yang menaunginya?, apakah sahabat-sahabatnya jujur kepadanya?” (mungkin engkau berpikir seperti itu)
Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut menyita perhatianmu, dimana matamu yang indah dipenuhi air mata. Aku rindu dekapanmu, aku rindu kehangatanmu, Ibu..aku merindukanmu..
Seorang anak merindukan ibunya, adalah fitrah dari Allah. Aku merindukan kelembutan tanganmu, yang lelah karena merawatku, engkau merasa lelah sehingga semua urusanku menjadi baik-baik saja, engkau tidak tidur sehingga aku tidur, engkau tidak makan sehingga aku makan, engkau menghilangkan rasa hausku, engkau menghapus air mataku, engkau adalah penyemangat dalam langkah pertamaku, engkau mengajariku untuk makan dengan tangan kanan, dan engkau memberitahuku “katakanlah bissmillah sebelum engkau makan, dan Alhamdulillah setelah engkau selesai”.
Ibu..aku merindukanmu..
Ibu..apakah engkau berpikir aku tidak mencintaimu?
Engkau berpikir aku tidak ingin melihatmu?
Aku akan memberikan apapun untuk memelukmu, bagaimana mungkin aku melupakan ibu seperti dirimu?, saat aku bicara, aku memiliki bayanganmu dalam benakku. Dalam pandanganku, engkau adalah perempuan tercantik, engkau memiliki senyum terindah, menyejukkan mata, matahari dalam hatiku, Ibu.. aku tidak melupakan apapun tentangmu!
Aku tidak melupakan apapun!
Aku tinggal di dalam perutmu selama sembilan bulan, saat lahir, aku tidak melupakan apapun! Dan tidak peduli dimanapun aku berada, aku berdo’a untukmu.
“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al Qur’an 17:24)
Ibu..kata-kataku tidak dapat menggambarkan sebesar apa cintaku kepadamu. Pastinya, engkau bertanya terhadap dirimu sendiri, mengapa aku meninggalkanmu, ayah, teman-temanku, dan orang-orang di sekitarku.
Ibuku sayang..anakmu meninggalkanmu, dan engkau bertanya terhadap dirimu sendiri “mengapa”. Ibu..alasan mengapa aku meninggalkanmu, dengarlah ibuku sayang..karena anak-anak kecil yang polos tak berdosa, yang engkau lihat di televisi, sangat muda dan tak berdosa. Mereka di bom oleh orang-orang pembawa kerusakan. Orang-orang perusak yang hati mereka sepenuhnya kosong dari rasa kasih, mereka tidak membeda-bedakan (dalam menyerang), mereka membom seluruh kota dan desa, anak-anak, para wanita, dan para orangtua. Ibu..rumah-rumah sakit penuh sesak dengan jasad-jasad tak dikenali (hancur) karena senjata kimia mematikan, dan jumlah kematian meningkat dari hari ke hari. Ibu, bagaimana aku bisa tinggal diam melihat semua itu?
Ketika aku melihat tragedi di Palestina? Lebih dari 60 tahun dan situasi disana semakin memburuk dan memburuk. Ibu, ketika air matamu jatuh di pipimu, darah-darah dari para ibu mengalir di Jalur Gaza, pemandangan yang membuat hati-hati terenyuh. Ibu, bagaimana aku bisa tinggal diam? Saudara-saudari kita dalam keadaan membutuhkan pertolongan.
“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”. (Al Qur’an 4:75)
Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam setelah membaca surat dari ukhti Fatimah?, Fatimah dari Irak dan suratnya dari penjara Abu Ghuraib. Ia menulis dalam suratnya bahwa dalam satu hari, ia diperkosa oleh sembilan tentara salibis Amerika selama sembilan kali dalam sehari!
Ia menulis bahwa banyak muslimah yang menjadi hamil karena diperkosa, mereka harus menanggung anak hasil para binatang biadab!. Ibu, seorang muslimah, seorang yang suci, wanita dari ummat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam diperkosa dan dihinakan dan dijebloskan ke dalam sel. Seluruh dunia tahu bahwa pemandangan Abu Ghuraib dan apa yang pernah kita saksikan adalah penjara yang terkenal dengan kekejamannya. Ibu, bagaimana aku bisa tinggal diam? Ketika beribu-ribu saudara-saudariku di tahan di penjara-penjara musuh-musuh Allah, mereka dipukuli, dicambuk, dan disiksa!
Ibu..Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (Al Qur’an 49:10)
Tidak ada perbedaan diantara mereka, saudara-saudaraku yang sebenarnya, dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“tidaklah beriman diantara kalian hingga kalian mencintai untuk saudara kalian apa yang kalian cintai untuk diri kalian sendiri”.
Ibu..hal pertama yang kau inginkan dan kau cintai untuk dirimu adalah untuk hidup dengan bebas. Apa tindakan kriminal mereka? Apa dosa-dosa mereka? Semua penyiksaan dilakukan hanya karena mereka beriman kepada yang Maha Perkasa,
“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Al Qur;an 85:8)
Melainkan karena mereka mengatakan, “Tuhanku adalah Allah”,
“Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah” (Al Qur’an 40:28)
Mereka dibelenggu di sel-sel tahanan yang gelap, mereka berteriak meminta pertolongan, tetapi ummat ini sibuk, ummat sibuk dengan urusan duniawi, atau bahkan sibuk dengan ibadah, ummat pergi dan melupakan saudara-saudari mereka. Ibu..bayangkan, jika aku dalam tahanan sementara anak-anak dari ummat ini duduk-duduk di rumah dan tidur dalam belaian ibu mereka di tempat tidur yang nyaman.
Ibu.. bagaimana aku bisa tinggal diam dalam situasi semacam itu?
Para musyrikin menginjakkan kaki mereka di tanah-tanah berkah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Mereka mengisi tank-tank mereka dan pesawat-pesawat tempur untuk membom saudara-saudari kita di Irak, sementara disana (penguasa Arab -red), beberapa mil dimana orang-orang mencium batu Hajar al aswad (Makkah, Saudi Arabia), kau akan berpikir, “Ya Allah!”
Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam? 50 negara menginvasi Afghanistan, haruskah aku tinggal bersama mereka (para penjajah)? Atau bahkan membayar pajak kepada mereka yang membunuh kaum muslimin?, ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam? Ketika aku mendapat kabar bahwa rezim Pakistan membunuh ratusan muslimah di Lal Masjid (Masjid merah).
Ibu..Allah Subhanu wa Ta’ala berfirman:
“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” (Al Qur’an 2:114).
Ratusan saudari kita dibunuh dan ummat ini tetap diam!. Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam? Ketika komunis di Chechnya merenggut hijab dari kepala saudari-saudari kita!.
Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam? Pergi bekerja, belajar, makan dan minum dengan enak, membeli pakaian baru? Sementara saudara-saudari kita di Nigeria berbuka puasa Ramadhan dengan daun-daun dari pohon.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda bahwa seorang wanita dimasukkan ke neraka karena ia mengikat seekor kucing dan tidak memberinya makan”.
Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam? Ketika orang-orang kafir menginjak-injak Al Qur’an dan menghina Islam!. Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam? Ketika Nabi kita tercinta ‘alaihi sholatu wa salam dihina.
Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam? Ketika mereka (kafirin) menaruh simbol salib di atas masjid? Ibu..bagaimana aku bisa tinggal diam? Tolong beritahu aku.
Di seluruh dunia, tidak ada negara yang menerapkan hukum-hukum Allah, hukum dari yang Maha Mengetahui, Maha bijaksana. Sekarang di sini (di tanah para syuhada), ada hukum yang diberlakukan dengan hukum Tuhan semesta alam.
Orang-orang muslim diatur tetapi mereka tidak memerintah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia” (Al Qur’an 12:40)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya? (Al Qur’an 95:8)
Para Thaghut/para penguasa murtad di negara-negara sekuler mengambil musuh-musuh Islam sebagai teman-teman setia mereka dan sekutu-sekutu mereka dan mengubah hukum Allah dengan hukum-hukum buatan orang kafir. Mereka menyatakan yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal. Alkohol (minuman keras), club malam, perzinahan, dsb.
Mereka memerintahkan kemungkaran dan melarang kebaikan. Para munafiqun melawan Islam dan ummat muslim tidak menyadarinya!
Ibuku yang terhormat, bagaimana aku bisa tinggal diam, disaat Jihad telah menjadi Fardhul ‘ayn, dimana Jihad adalah kewajiban. Ibu..jika aku tetap diam, bukan hanya pengabaian terhadap Islam, dan situasi kaum muslimin, tetapi lebih dari itu (pada hakikatnya) pengabaian terhadap hari akhir (kiamat), ketika Allah akan menanyaiku apa yang aku telah lakukan disaat melihat situasi saudara-saudariku dan apa yang telah aku lakukan disaat orang-orang Yahudi mengambil alih kiblat pertama Sholat ummat Muslim (Al Aqsa), maka dari itu aku pergi (berjihad), bertawakkal kepada Allah, untuk mempersiapkan diriku dengan amal-amal shalih untuk memberi jawaban kepada Allah. Demi Allah..aku tidak akan tinggal diam ketika ummat ini memanggilku dengan mengucapkan firman Allah,
“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”. (Al Qur’an 4:75)
Ibu..aku berpisah darimu untuk sementara waktu dan waktu akan berlalu, tempat bertemu kita di Surga nanti (insya Allah), yang lebarnya seluas langit dan bumi, yang belum pernah dilihat oleh mata, dan belum pernah didengar oleh oleh telinga, dan tidak dapat dibayangkan oleh angan, misik, za fa ran, mutiara, permata, sungai madu, susu, dan anggur, buah-buahan yang enak rasanya, kesenangan selamanya. Ibu, di salah satu istanaku, aku akan mengunjungimu insya Allah dan mengetuk pintumu, sebuah perkumpulan kembali di tempat yang jauh lebih baik dari dunia ini, kehidupan tanpa dukacita, kehidupan tanpa akhir, segalah puji bagi Allah.
“mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah Sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Al Qur’an 3:136)
Ibu..hidup di dunia ini, hanya sementara dan hina, hina bagi siapa saja yang puas akannya.
“ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al Qur’an 57:20)
Tempat kita sebenarnya adalah akhirat, di tempat keabadian. Hidup di dunia ini hanyalah ilusi.
“Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (Al Qur’an 35:5)
Ibu..janganlah khawatir akan perpisahan kita, bersedihlah akan situasi saudarai-saudari kita, bersedihlah akan anak-anak yatim-piatu dan para janda, bersedihlah akan Al Aqsa. Ibu, jangan khawatir tentangku, jika engkau hendak khawatir tentangku, maka hanya untuk satu alasan: Apkah aku akan masuk surga atau neraka.
Seperti Ummu Rubayyi’ ibunda Haritsah bin Suraqah radiallahu ‘anhu yang telah syahid pada saat perang Badr. Ia datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dalam keadaan menangis dan berkata, “Ya Rasulullah beritahu aku keadaan Haritsah, dimana ia? jika ia berada di Surga, aku akan bersabar atas kehilangannya, jika ia tidak disana, aku akan meratapinya,” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Wahai ibu Haritsah, di surga terdapat taman yang banyak dan putramu berada di Al-Firdaus Al-A’la (surga tertinggi)”. HR. Buhkari
Ibu, dan semua ibu yang anak-anaknya berada di jalan kebenaran, di jalan yang akan membawa kembali kejayaan Islam dan kaum muslimin, berbanggalah, dan kepada para ayah terhormat, para orangtua yang terhormat (yang menganggap jalan jihad adalah salah), jika kalian berpikir jalan kami salah, bahwa kami telah mempermalukan kalian, bahwa kami telah menyakiti kalian, bahwa kami telah menghancurkan keluarga, bahwa kami (dalam pandangan kalian) hijrah dan jihad kami adalah sebuah bencana, aku harus memberitahu kalian, “Jangan menyalahkan kami!”
Salahkanlah diri kalian sendiri, pemikiran-pemikiran tersebut datang karena kalian jauh dari Agama Allah walillahil hamd, dan tidak menigkuti sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Ada beberapa alasan mengapa kalian jauh dari dien ini, salah satunya adalah karena kalian tinggal di negara-negara kafir, orang-orang yang sepenuhnya jauh dari Agama Allah dan kalian hidup dibawah pengaruh pemerintahan Tahghut, yang menganggap diri Islam tetapi tidak hidup dengan Islam yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah bawa kepada seluruh ummat manusia. Para orangtua yang terhormat, kalian berkata bahwa kami telah dicuci otaknya, Subhalallah!
Para orangtua yang terhormat, lihatlah hidup kalian: apa yang kalian tonton? Apa yang kalian baca? Siapa teman-teman kalian, tetangga-tetangga dan dengan apa-apa yang membuat kalian sibuk untuk menggapai cita-cita kalian. Lihatlah hidup kalian dan bandingkan dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, dan kemudian tanyakan kembali kepada diri-diri kalian, siapa yang sebeneranya telah dicuci otaknya?!. Para orangtua yang terhormat, periksalah keimanan kalian dengan ujian ini dan mendekatlah kepada Allah.
“janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Al Qur’an 3:139)
Teruntuk ibu, dan para ibu yang terhormat, dari Timur hingga Barat di dunia ini, apakah kalian mengetahui kisah tentang Ummu Ibrahim seorang yang berbudi luhur? Jadi bukalah hati kalian sebelum membuka telinga kalian. Ummu Ibrahim Al Hashimiyah, seorang hamba yang berbudi luhur dari Basra. Ketika itu musuh-musuh Islam menyerang kota-kota kaum muslimin, para musuh berbaris (siap menyerang), maka dikumandangkanlah “Hayya ‘ala al jihad!” (Marilah kita berjihad).
Kaum muslimin mendukung dan bergabung untuk jihad, seorang ulama dan mujahid Abdul Ibn Zaid Al-Basri, menyampaikan Khutbah untuk menyemangati jihad, seperti yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Abdul Wahid berkhotbah di jalan-jalan dan Ummu Ibrahim berada disana, Abdul Wahid yang juga dipanggil (Ab Ubayd), mengingatkan ummat akan kewajiban mereka dan akan besarnya pahala bagi orang-orang yang berjihad, dan ia menggambarkan sosok bidadari yang digambarkan dalam Al Qu’an dan As Sunnah dan kemudian membuat syair tentang mereka.
Ummat muslim terkagum-kagum dan memandang satu sama lain, mereka bangkit dan bergairah di dalam hati-hati mereka, Ummu Ibrahim berdiri dan mendatangi Abu Ubayd dna berkata, “Wahai Abu Ubayd, Wahai Abu Ubayd, engkau tahu anakku Ibrahim? Para pria terhormat di Bassra menawarkan putri-putri mereka, tetapi aku pikir Ibrahim terlalu baik untuk mereka, tetapi demi Allah, aku menyukai gadis yang engkau gambarkan, aku akan sangat bahagia untuk menikahakannya dengan anakku, wahai Abu Ubayd kumohon gambarkan lagi tentangnya”, Abu Ubayd membacakan sebuah syair, dan ummat terkagum-kagum.
Ummu Ibrahim berdiri kembali dan mendatangi Abu Ubayd, “Wahai Abu Ubayd, demi Allah aku sepenuhnya yakin dengan gadis tersebut, aku ingin ia menjadi pengantin untuknya (Ibrahim), aku mohon kepadamu Abu Ubayd, biarkan anakku menikahinya, aku memiliki 10.000 dinar dirumah dan akan mengambilnya sebagai mahar, dan meneyrahkan Ibrahim bersamamu dalam Jihad, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkaruniakan kesyahidan, dan semoga menjadi syafa’at bagi ku dan ayahnya di hari kiamat”, Abu Ubayd berkata, “wahai Ummu Ibrahim, jika engkau berkeinginan demikian, itu akan menjadi keberhasilan agung untukmu, ibrahim dan ayahnya, demi Allah itu adalah keberhasilan yang agung”.
Kemudian, Ummu Ibrahim memanggil anaknya dari kerumunan ummat, Ibrahim mengatakan, “Labbayk ya Umma (aku disini wahai ibu)”. Ummu Ibrahim bertanya kepada Ibrahim, “anakku, apakah engkau senang untuk menikahi gadis itu (bidadari)? Dengan syarat engkau korbankan jiwamu dalam jihad?”, Ibrahim menjawab, “demi Allah, aku akan sangat senang”. Ummu Ibrahim berdo’a kepada Allah, “Ya Allah, engakulah saksiku, bahwa aku menikahkan anakku dengan gadis itu (bidadari), jika ia korbankan jiwanya dalam jihad dan tak pernah kembali, maka terimalah ia Ya Rahman Ar rahiim”. Setelah berdo’a, kemudian ia bergegas pulang ke rumahnya dan kembali dengan 10.000 dinar, ia membelikan Ibarahim seekor kuda baru dan sebuah senjata yang bagus. Masha Allah!
Wahai ibu, lihatlah wanita ini dan perannya. Lihatlah peran pentingnya yang seorang muslimah dapat lakukan.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (Al Qur’an 9:111)
Ummu Ibrahim datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada anaknya, “anakku aku memperingatkanmu, anakku aku memperingatkanmu, jangan lalai dan berikan yang terbaik di dalam pertempuran”, ia memberi Ibrahim kain kafan dan mencium keningnya dan berkata, “wahai anakku, semoga Allah tidak akan mempersatukan kita kecuali diantara tangannya Jalla Fi Ula di hari kiamat”.
Para mujahidin memulai barisan jihad mereka. Kemudian Abdul Wahid mengabarkan, “kami telah mencapai wilayah musuh dan menhadapi mereka dan Ibrahim berada di barisan terdepan, ia bertawakkal kepada Allah, menunggu dua hadiah, KEMENANGAN ATAU KESYAHIDAN!, ia menyerang para musuh dan membunuh banyak dari mereka, ia adalah duri bagi daging-daging para musuh”, itu merupakan keinginan terakhir ibunya (semoga Allah tidak akan mempersatukan kita kecuali diantara tangannya Jalla Fi Ula di hari kiamat), itu adalah buah dari upaya kebajikan ibunya. Ibrahim naik dan turun merusak musuh. Musuh melihat keberanian anak muda ini, mereka merasa harus mengambil tindakan karena kewalahan dengan Ibrahim dan mereka membunuhnya. Ibrahim, meninggal sebagai syahid!.
Abdul Wahid mengabarkan, “kami kembali ke Basra”, ummat menyambut pasukan mujahidin dan diantara mereka ada Ummu Ibrahim, ia berkata, “wahai Abu Ubayd, jika Allah menerima hadiahku, maka berikan selamat kepadaku, jika tidak, kasihinilah aku”. Abdul Wahid berkata, “Bushra, Bushra, demi Allah!, Allah menerima hadiahmu dan Ibrahim tetap hidup, Ibrahim diantara para syuhada”.
“mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah Sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Al Qur’an 3:169)
Kemudian, Ummu Ibrahim bersujud untuk bersyukur kepada Allah dan mengatakan “Alhamdulillah”.
Di hari berikutnya ia mendatangi masjid dan berkata, “Bushra, Bushra, wahai Abu Ubayd!, aku melihat anakku di dalam mimpi kemarin malam, ia berada di taman yang hijau dengan menara hijau, bersandar pada kasur yang terbuat dari mutiara putih, dengan mahkota di kepalanya, ia berkata kepadaku, “mahar telah diterima dan kami merayakan pernikahan”.
Ibu..tetaplah tabah, anakmu berada di jalan jihad. Ibu..disini para musuh telah datang, musuhmu dan musuhku, 50 bangsa menyerang tanah ini, dan bersama mujahidin aku mengangkat senjataku melawan mereka, dan kami berharap kepada Allah untuk membiarkan kami menjadi duri di dalam daging-daging para penindas, mereka akan menemukan kami keras (terhadap mereka) selama darah masih mengalir di urat-urat nadi.
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al Qur’an 48:29)
Ibuku sayang..seperti janji Ibrahim kepada ibunya, aku berjanji kepadamu bahwa aku akan memberikan yang terbaik tanpa kelalaian (insya Allah), tujuan kami telah dipahami oleh para sahabat dan musuh-musuh kita.
Ibuku tercinta, terhormat dan ibuku yang paling berharga, janganlah bersedih dan tetaplah angkat kepalamu (tabah), berbahagialah, kita hidup hampir di masa keemasan, dimana Allah Jalla Fi Ula, akan memenangkan kembali agamanya.
Ibuku sayang, jantung hatiku, maafkan aku, kelalaianku dan kesalahan-kesalahanku, berdo’alah untukku dan untuk ummat ini.
Jantung hatiku, pada perpisahan ini, aku ucapkan wa as salamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Do’a terakhir kami adalah Alhamdulillahi Robil ‘alamiin.
Abu Ibraheem
Semoga Allah memberkahinya dan mengkaruniakan kesyahidan kepadanya dan kepada seluruh mujahidin fisabilillah, Aamiin.
Ibu..bangga dan berbahagialah…anakmu seorang mujahid!



by:(siraaj/arrahmah.com)
Read more: http://arrahmah.com/read/2012/01/14/17389-teruntuk-semua-ibu-para-mujahid-ibu-anakmu-seorang-mujahid.html#ixzz1jYl4beDo

Khamis, 24 November 2011

ليما فورمولا نيء أنور أتسي كونفليك سلاتن تايلاند

5 formula Nik Anuar atasi konflik selatan Thai

Pengecualian Pattani daripada perjanjian Bangkok 1909 ibu segala masalah

PROFESOR Emeritus Datuk Dr Nik Anuar Nik Mahmud sebelum menghembuskan nafas terakhir pada 28 Oktober 2010 lalu sempat meninggalkan ‘formula’ bagaimana konflik di Selatan Thailand atau Pattani harus ditangani dan diselesaikan oleh kerajaan Thailand.

Formula penyelesaian Nik Anuar ini dibukukan Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia. Bagi menghargai sumbangan pemikiran beliau terhadap masyarakat dan negara, satu majlis Syarahan Kenangan Nik Anuar dilangsungkan ATMA baru-baru ini yang disampaikan Prof Dr Abdullah Zakaria Ghazali dari Jabatan Sejarah Universiti Malaya.
PROFESOR Emeritus Datuk Dr Nik Anuar Nik Mahmud
Ternyata, Nik Anuar sebagai seorang ilmuwan dalam bidang sejarah harus dikenang terutama oleh generasi muda negara ini. Sumbangan dan ketekunan beliau dalam bidang ilmu pengetahuan terutama bidang sejarah Malaysia dan isu persempadanan seperti pembabitan beliau dalam kumpulan penyelidikan isu tuntutan bertindih Pulau Ligitan dan Sipadan serta Pulau Batu Putih.
Satu daripada sumbangan pemikiran Nik Anuar yang penting ialah dalam sejarah Siam atau Thailand. Penumpuan beliau dalam kajian ini membawa Nik Anuar menelusuri penuh teliti punca konflik melanda Selatan Thailand yang sehingga kini belum berkesudahan.

Dalam bukunya, Mencari Perdamaian di Asia Tenggara, Merungkai Konflik di Selatan Thailand, Nik Anuar menjelaskan kegagalan penyelesaian konflik itu berpunca daripada ‘keengganan kerajaan Thailand melihat masalah di tiga wilayah itu dari perspektif sejarah’.

Beliau menambah sejarah sudah membuktikan ibu segala masalah di wilayah itu ialah apabila Pattani dikecualikan daripada perjanjian Bangkok 1909.

Untuk makluman, pada perjanjian Bangkok 1909, hanya Kelantan, Terengganu, Kedah dan Perlis saja diserahkan kepada Britain, manakala Pattani yang juga antara wilayah penting kerajaan Melayu-Islam ketika itu kekal sebagai sebahagian tanah jajahan Siam.
Keadaan ini terpaksa dilakukan demi kepentingan Britain di Asia Tenggara iaitu bagi memastikan Siam tidak menjemput kuasa luar lain menguasai Tanah Besar Asia Tenggara. Dalam kata lain, Pattani adalah taruhan bagi menjaga hati Siam walaupun diketahui bahawa ia salah sebuah kerajaan Melayu-Islam yang penting ketika itu.

Pengekalan Pattani sebagai tanah jajahan Siam memburukkan keadaan dan mengukuhkan gerakan penentangan terhadap kerajaan Siam yang sebenarnya sudah wujud sejak negeri itu ditakluki Siam pada 1786.

Sepanjang sejarahnya, Siam sudah menjayakan banyak langkah bagi mengukuhkan penguasaannya di Pattani. Menurut Nik Anuar, antara langkah kontroversi ialah pengenalan sistem Thesaphiban iaitu satu kaedah pentadbiran di mana pentadbiran wilayah dikumpulkan dan ditadbir seorang pesuruhjaya. Menerusi sistem ini, autonomi atau kedaulatan pemerintahan Raja Pattani mula terhakis. Keadaan ini menjadi lebih parah lagi apabila pemerintah Siam memperkenalkan dasar Thai Rathaniyom atau program asimilasi budaya dan adat Thai secara paksaan.

Dasar ini ternyata mendorong kebangkitan perjuangan rakyat Pattani. Mereka mula berasakan jati diri mereka telah diceroboh dan masa depan ketamadunan mereka bakal runtuh menerusi dasar paksaan kebudayaan. Beberapa nama pejuang awal Pattani ialah antaranya Haji Mat Pauh, Tuan Guru Haji Bermin atau Haji Wan Ahmad bin Wan Idris, Haji Hasan dan Haji Abdullah Embung bangkit bagi menghalang usaha penjajahan secara kebudayaan ini.

Inilah sebahagian kutipan ringkas penjelasan Nik Anuar mengenai sejarah konflik dan perjuangan rakyat Pattani bagi mempertahankan maruah dan jati dirinya. Sehingga saat ini, perjuangan ini belum tamat. Ia menjadi lebih rumit lagi sejak berlakunya peristiwa berdarah di masjid Krisek dan pembunuhan di Tabal pada 2004.

Bagi Nik Anuar, konflik di Selatan Thailand ini boleh diselesaikan menerusi formula berikut:

Kerajaan Thailand perlu mempertimbangkan kemungkinan mewujudkan satu bentuk Pentadbiran Istimewa di wilayah majoriti Melayu. Pentadbiran ini akan diurus oleh penduduk tempatan dalam kerangka negara Thailand.

Kerajaan Thailand perlu menerima hakikat akan keunikan orang Melayu. Mereka mesti diberi kebebasan untuk mengamalkan adat resam dan kebudayaan mereka. Kerajaan Thailand perlu mengiktiraf Bahasa Melayu sebagai bahasa rasmi wilayah berkenaan, manakala agama Islam diberi keistimewaan khusus.

Hubungan antara wilayah istimewa dengan kerajaan Pusat perlu berasaskan kerangka federalisme. Wilayah istimewa perlu diberi hak yang adil ke atas hasil kekayaan ekonomi yang dimiliki. Pejuang perlu meletak senjata dan menyertai rancangan penempatan atau demobilisasi.

Pelaksanaan perjanjian ini mesti dipantau oleh badan antarabangsa bagi memastikan kejayaannya.

Begitulah lima formula penyelesaian konflik Selatan Thailand menurut Nik Anuar. Bagi beliau, keamanan di Selatan Thailand harus diberi perhatian kerana ia akan menjamin keselamatan dan keharmonian masyarakat Asia Tenggara secara keseluruhannya. Bagi Nik Anuar, inilah formula terbaik dan ia boleh dijayakan sekiranya kerajaan Thailand ikhlas bagi menamatkan konflik yang melanda sejak sekian lama.

Begitulah sumbangan ahli ilmuwan kepada masyarakat. Pemergian beliau adalah satu kehilangan besar kepada masyarakat dan negara ini. Kita perlu melahirkan lebih ramai tokoh ilmuwan seumpama Nik Anuar. Ahli ilmuwan ibarat pelita penyuluh kegelapan. Dalam syarahan yang diberikan, Prof Dr Abdullah menggelarkan Nik Anuar sebagai ‘Sejarawan Dalam Kenangan’.

Oleh Muhamad Razak Idris

Penulis ialah pensyarah di Fakulti Pengajian Islam, UKM. 

sumber malayu: http://www.bharian.com.my/bharian/articles/5formulaNikAnuaratasikonflikselatanThai/Article/index_htm
sumber thai: http://thai.amannews.org/view/view.php?id=941

Selasa, 15 November 2011

سليمان ناسي: سفغكل هارفن يغ ترسيسا

Sulaiman Nasae : Sepenggal Harapan Yang Tersisa
by: Peristiwa Berlaku

Sabtu ,22 Mei 2010
Sulaiman mencapai tukul dan beberapa batang paku dinding. Sedang dia tekun mengetuk kayu, beberapa lelaki beruniform merapatinya. Sulaiman berhenti memahat. Lelaki-lelaki berkenaan dengan kasar memaksanya bangun dan menyoal dengan bberapa soalan . kemudian mereka membawa dia pergi. Tanpa sesiapa pun yang melihat kejadian itu. Melainkan seekor burung tempua yang mengintainya dari sebalik rimbunan daun pohon machang.
Ahad, 23 Mei 2010
Sulaiman ditahan di Kem Ingkhayutabarihan Mukim Bothong Daerah Nongchik Wilayah Pattani. Sebaik sahaja khabar itu sampai kepada keluarganya, si ibu tanpa berlengah-lengah lagi menyiapkan bekal makanan untuk dibawa kepada Sulaiman. Sedang hatinya tertanya-tanya apa salah anaknya? Mengapa dia ditahan? Dalam sela waktu yang sama, si ibu tidak putus-putus berdoa, moga anaknya itu tidak diapa-apakan.
Si ibu dan si ayah dibenarkan untuk masuk berjumpa dengan anak sulung mereka. Sayang, mereka tidak dapat bersua muka untuk satu jangka waktu yang lama. Setelah bekas makanan berpindah tangan, si ibu dan si ayah diarah pulang. Dalam pertemuan singkat itu, si ibu dan si ayah perasan perubahan pada wajah anak mereka. Bagaimana tiada darah yang mengalir ke muka. Pucat lesi.
Dengan perasaan bergulat hampa, si ibu dan si ayah pulang tanpa mendengar suara Sulaiman. Mujur, wajah Sulaiman sempat ditatap. Sekurang-kurangnya mereka tahu saat itu Sulaiman masih lagi bernyawa.
Situasi demikian berlangsung selama empat hari.
Khamis, 27 Mei 2010
Pada hari kelima Sulaiman ditahan, si ibu dan si ayah tidak dibenarkan untuk berjumpa dengannya. Puas si ibu dan si ayah memujuk rayu memohon belas kasihan daripada para pegawai. Sekurang-kurangnya beri mereka kesempatan untuk menatap wajah anak mereka walau sekadar satu kerlipan mata. Seperti hari-hari sebelumnya.
Namun permintaan mereka dianggap tidak ubah seperti angin petang yang sekali lalu bertiup menyapa wajah.
Badai kegalauan mula merempuh benteng dada si ibu. Andaian demi andaian mula bergayut di pangkal hatinya. Seperti ada yang tidak kena. Naluri si ibu yang halusnya membayangi suatu perkara buruk sedang menimpa anaknya. Cepat-cepat dihalau perasaan itu. Biarlah andaian itu hanya jelmaan syaitan sahaja bukan ilham dari tuhan.
Si ayah pula seperti pengembara yang hilang peta perjalanannya. Terhenti seketika di pinggir jalan menatap langit dengan mata dibayangi kebuntuan. Kesedihan turut berlabuh di hati si ayah.
Perlahan-lahan dia memimpin tangan si ibu keluar dari kem tentera tempat anaknya ditahan. Bekalan yang dibawa untuk Sulaiman turut dijinjit pulang.
Malam itu, mata si ibu enggan lelap. Dia membalikkan tubuh sekejap ke kiri dan sekejap ke kanan. Dia memintal-mintal pelbagaian andaian sehingga kusut hatinya. Terus terang, dia tidak mampu bersangka baik lagi. Ditoleh pada suaminya yang sudah lama dibuai mimpi. Perlahan-lahan dia menolak kain selimut, berjalan menuju bilik air dan berwudhuk. Dinihari itu, air matanya mengalir di hadapan Ilahi memohon agar anaknya tidak dianiaya oleh mereka yang kemarau sifat perikemanusiaan.
Jumaat, 28 Mei 2010
Pagi itu, si ayah keluar lebih awal dari biasa. Doanya, moga-moga hari itu dia diberi kesempatan bertemu dengan anaknya. Dia tahu semalaman isterinya tidak dapat tidur kerana bimbangkan keadaan anak mereka. Dia sendiri tidak dapat lena walau zahirnya nampak dia memejamkan mata.
Hari itu si ibu keberatan untuk ikut serta menziarahi Sulaiman. Bimbang dia tidak gagah menerima takdir yang telah tertulis untuk keluarganya. Biarlah dia menanti di rumah sahaja. Mungkin itu lebih baik. Dari muka pintu dia melambai si ayah. Jauh di sudut hati, si ibu mengirim doa agar si ayah tidak pulang membawa khabar duka.
Rasanya tidak sampai setengah jam si ayah keluar , tiba-tiba kedengaran bunyi enjin kenderaan memenuhi perkarangan rumah. Cepat-cepat si ibu keluar menjenguk. Buat kesekian kali hatinya bergetar. Saat matanya menyapa ruang halaman, tampang tubuh Sulaiman menerjah indera lihat. Tanpa membuang masa si ibu berlari-lari anak menuruni anak tangga dan cuba meraih tubuh Sulaiman sebaik sahaja mendekat.
Beberapa askar yang mengiringi Sulaiman segera menghalang. Tubuh tua si ibu ditolak kasar. Baru si ibu perasan, Sulaiman dipakaikan topi sudu di kepalanya. Tidak pernah dalam seumur hidup, si ibu melihat Sulaiman mengenakan topi berkenaan. Sementara sehelai tuala kecil di lilitkan ke leher Sulaiman. Dipanggil Sulaiman berulang kali. Namun, Sulaiman hanya mampu membalas setiap panggilan itu dengan pandangan mata yang redup.
Seperti ada yang tidak kena. Si ibu mengesan wajah Sulaiman yang kian pucat dan tulang pipinya sedikit tersembul. Tangkai hatinya bagai ditetak sembilu saat melihat belahan jiwa yang ditimang penuh kasih sayang diperlakukan seperti binatang.
Askar-askar tadi memanjat anak tangga rumah tanpa ucapan salam. Habis ruang tamu, dapur dan bilik digeledah . Pakaian di dalam almari dicampakkan keluar. Kertas-kertas berterbangan di udara sementara buku-buku bersepah-sepah di atas lantai. Rumah yang pada asalnya kemas tersusun kini tidak ubah seperti tongkang pecah.
Setelah apa yang dicari tidak ditemui, askar-askar tadi turun kembali di halaman rumah, berbicara serius antara satu sama lain sebelum berlalu pergi bersama Sulaiman. Tinggal si ibu terduduk di atas tanah dengan kucuran air mata yang tidak mahu berhenti.
29 Mei 2010
Bangun dari tidur pandangan si ibu jadi berpinar-pinar. Batuk yang tak terhitung peritnya itu menghambat seluruh tenaga tua si ibu. Dia menyeringai sendirian sambil mengurut dada yang berombak deras. Batuk yang meledak membuatkan nafasnya tersekat-sekat. Kelesuan merayap di segenap tubuh. Si ayah meraba-raba dahi si ibu. Panas.
Lalu si ayah membawa si ibu ke hospital walau si ibu berkeras mahu pergi melawat anak mereka. Sebaliknya Norma, adik kepada Sulaiman mengambil giliran menziarahi abangnya di kem tahanan.
Malangnya, Norma turut dihalang untuk bertemu dengan Sulaiman. Dia pulang dengan hampa.
30 Mei 2010
Telefon berdering memecah keheningan yang menyelimuti ruang rumah Sulaiman. Tersentak si ibu yang saat itu sedang menyarung jilbab ke kepala. Niatnya hendak melawat Sulaiman lantaran sudah beberapa hari tidak bersua muka biarpun demamnya belum benar-benar kebah. Si ayah cekat mengangkat telefon. Si ibu mendekat.
Jantungnya berdenyut menyalahi tempo melihat awan suram berlabuh pada air muka suaminya. Si ayah terduduk di atas lantai. Telefon di dalam genggamannya terlepas jatuh ke atas lantai.
“Sulaiman sudah tiada lagi. Mereka kata dia mati bunuh diri,” lirih si ayah sebelum sempat si ibu membuka mulut bertanya apa-apa. Mendengar khabar itu, si ibu merasakan bahawa kakinya tidak menjejak tanah. Badan nya ringan terawang-awang di udara sebelum akhirnya tubuh wanita itu jatuh terjelepok di sisi suaminya.
Pohon-pohon Machang yang tumbuh banyak menghiasi sepanjang perjalanan krew kami ke rumah mulah Sulaiman Nesae di Kampung Hutan Machang, Mukim Kadunong, Daerah Saiburi, Wilayah Pattani. Di atas jalan, kereta podi yang kami tumpangi acapkali berpampasan dengan motorsikal-motorsikal yang ditunggangi oleh penduduk tempatan.
“Minyak di Thailand ini mahal. Sebab itu, penduduk di wilayah ini gemar menunggang motorsikal berbanding kenderaan-kenderaan lain,” jelas Nurhayatee Samoh, salah seorang sukarelawan Hak Asasi Perikemanusiaan atau lebih dikenali sebagai HAP.
Baik lelaki baik perempuan tenang menyelusuri jalan berturap tar yang tidak begitu rata di wilayah tersebut. Bagai tiada apa-apa tragedy yang pernah berlaku. Itulah yang dapat kami simpulkan. Namun, di sebalik cerah matahari yang terbias di langit bumi tiga wilayah itu, tidak ramai yang tahu sudah sedemikian banyak darah dan air mata tumpah mewarnai kehidupan sehari-hari mereka.
Setibanya kami di sana, Che’ We Nesae dan Mek Esah sudah sedia menanti. Krew kami diiring naik ke rumah bagai tetamu kehormat. Terharu kami dibuatnya.
Berdiri sahaja di lawang pintu, kami dapat melihat terus ruang dapur. Lantai kayu itu berdetap-detup berbunyi saat dipijak. Rumah beratap dan berdinding zink itu sedikit berbahang lantaran matahari semakin meninggi di dada langit. Almari-almari pakaian dan perkakas pinggan mangkuk disusun kemas. Apa yang menarik hati, almari-almari ini dijadikan dinding untuk membentuk sebuah bilik. Mata kami menangkap alatan memancing terlekap di dinding zink rumah bercat hijau itu.
Di ruang tamu, sudah ramai ahli keluarga dan jiran tertangga mulah menanti.
“Itu alat memancing mulah. Dia gemar sungguh memancing ikan pada waktu terluang,” ujar Mek Esah, ibu mulah. Barangkali dia mengesam beberapa orang dalam kalangan kami asyik memerhati alatan memancing berkenaan.
“Bukan saya bermaksud untuk memuji anak sediri namun ikhlasnya, Sulaiman anak yang baik. Di dalam kawasan kampung ini banyak anak muda yang minum air ketung. Alhamdulillah, Sulaiman tidak terlibat langsung dengan aktiviti-aktiviti yang tidak berfaedah berkenaan biarpun dia tidak mengaji tinggi,” ulas Che’ We Nesae, ayah mullah Sulaiman.
Sulaiman berkawan baik dengan dua pemuda yang bertugas sebagai guru di sebuah tadika dalam kampungnya yakni Abdul Rahman dan Lukman. Ibubapa kedua-dua sahabat baik Sulaiman ini turut hadir di situ.
Tadika atau Taman Didikan Kanak-kanak merupakan satu madrasah atau sekolah yang beroperasi pada hujung minggu yakni pada hari Sabtu dan hari Ahad. Tadika ini mirip dengan kelas KAFA yang dijalankan di negara kita. Istimewanya, tadika ini menjadi satu-satunya wadah untuk membantu generasi muda mengekalkan bahasa melayu sebagai bahasa pertuturan di samping menyalurkan pendidikan agama dan sejarah Kerajaan Fathoni. Di sekolah kebangsaan, anak-anak ini tidak berpeluang berinterkasi dalam bahasa ibunda apatah lagi mempelajari Fathoni.
Guru-guru yang mengajar di tadika juga bukan calang-calang orang. Andai mereka dari golongan yang menyintai hayat jauh berbanding cintakan jihad, atau mengasihi rehat jauh mengatasi kasihkan rperjuangan, atau merindui limpahan nikmat dunia melebihi janji Allah di negeri akhirat, sudah tentu mereka tidak akan berdiri di hadapan anak-anak kecil generasi pewaris masa depan itu. Apa tidaknya, gaji guru-guru tadika ini hanyalah hasil belas ihsan masyarakat tempatan.
Sulaiman sendiri tidak betah duduk diam di rumah saat tenaganya diperlukan di tadika. Setiap kali pihak pengurus tadika menganjurkan aktiviti kepada kanak-kanak yang belajar di situ, Sulaiman pasti tidak ketinggalan untuk turun membantu. Walau sekadar membantu menyiapkan pentas untuk acara kanak-kanak.
Dia sedar dia dia tidak berpelajaran tinggi namun itu tidak dijadikan alasan untuk berpeluk tubuh di rumah sedang sahabat-sahabatnya bertungkus lumus membantu anak-anak bangsa Fathoni mengenal agama dan tuhan.
“ Sesungguhnya setiap kamu adalah penjuru dari penjuru-penjuru Islam, musuh akan menyerang dari penjuru kamu, maka pertahankanlah penjuru kamu itu.”
Sulaiman tahu, dia juga memegang penjuru dari penjuru-penjuru itu. Justeru, dia sedaya mampu mahu mempertahankan agama dan bangsanya dari penjuru yang dikawal. Sungguhpun dia tahu natijah yang bakal diterimanya suatu hari nanti.
Kehadiran tadika –tadika ini tentu sahaja mengundang ketidak selesaan pihak kerajaan. Mereka mengintip dan melemparkan tuduhan yang pelbagai terhadap tadika. Guru-gurunya terutama kaum Adam, diburu kerana menanam benih perjuangan dalam diri anak-anak kecil ini. Selalu sahaja pihak tentera dan pihak polis membuat huru hara di taman-taman ilmu ini.
Atas alasan inilah, Abdul Rahman dan Lukman diburu. Kini, mereka terpaksa berhijrah ke daerah asing untuk menyelamatkan diri.
Dek kerana tidak dapat memberkas Abdul Rahman dan Lukman, Sulaiman yang dikesan bergaul rapat dengan mereka dikambinghitamkan oleh pihak tentera. Sehingga nyawa Sulaiman akhirnya menjadi taruhan.
Lebih malang lagi arwah Sulaiman disahkan meninggal dunia kerana mengantung diri diri. Kematian yang paling hina dalam agama. Fitnah yang dilemparkan itu merobek-robek maruah Sulaiman sekeluarga.
Kesan-kesan luka ditubuh Sulaiman membuatkan banyak pihak sangsi dengan punca sebenar kematian Sulaiman. Ketika jenazah dibawa pulang ke rumah, Che’ We Nesae mengesan tengkuk anaknya patah. Apabila ditanya kepada pegawai kerajaan, dengan mudah mereka menjawab hal itu adalah perkara biasa yang berlaku kepada mereka yang menggantung diri sendiri.
Arwah ditemui dalam keadaan tubuhnya tergantung dengan sehelai tuala di jendela. Namun, yang menghairankan, mata arwah tertutup elok. Kebiasaannya, mereka yang mati mengantung diri ditemui dalam keadaan mata terbeliak.
Kelihatan di leher arwah terdapat bekas-bekas luka tersiat dan lebam yang tidak terlihat baru. Bukan di bahagian leher sahaja, malah di beberapa bahagian tubuhnya seperti perut, dada, kaki dan bahagian belakang turut terdapat kesan-kesan luka.
“apabila disoal pada pegawai bertanggungjawab me
“Satu badan telah ditubuhkan untuk menyiasat kes Sulaiman ini. Pihak kami akan melantik peguam untuk melawan kes ini di mahkamah . Sekarang kita tunggu pihak mahkamah panggil. Walau apapun kita tidak boleh terlalu mengharap badan yang ditubuhkan ini banyak membantu. ” Bicara Fahmi Yaakub, pembantu peguam yang bertugas dengan Muslim Attorneys Centre, Thailand (MAC) berbaur sindiran.
Hakikatnya, tragedi hitam yang menimpa Sulaiman ini saling tidak tumpah seperti yang berlaku kepada Imam Jaafar Kaseng dua tahun lalu. Bahkan ada yang menggelar Sulaiman sebagai Imam Jaafar kedua. Sehingga kini, kes Imam Jaafar masih tertunggak dan belum mendapat pembelaan sewaajrnya biarpun telah terang lagi bersuluh siapa yang bertanggungjawab akan kematian imam berkenaan.
Inikan pula Sulaiman. Bukti-bukti untuk membela kematian terkubur bersama-sama dengan jasadnya di dalam perut bumi. Maruahnya yang tercalar turut terbungkus dan terbungkam dalam kain kafan yang menyelimuti tubuhnya. Sungguh, kami sendiri melihat sinar impian itu kelam seperti kelamnya malam saat cahaya bercerai daripada matahari.

AL-Syahid Sulaiman Nasae

“Pak Cik akan perjuangkan kes ini setakat yang mampu agar pihak kerajaan tidak memandang kita sebelah mata. Andai kita diam sahaja, mereka akan naik kepala dan terus menindas kita,” ujar Che’ We Nesae. Dan pada matanya ada cahaya rembulan mengapung di sana. Dia sedemikian yakin , walau keyakinan itu berpaut pada ranting-ranting harapan yang rapuh. Barangkali Che’ We Nesae percaya, andai namanya masih ada harapan, dia masih punya peluang walau cuma sepenggal harapan yang tersisa.

Abu Ja'far Islamic Defenders Front HTI Channel Media Propoganda Abu Dujanah Fie Khurosany Achmad Imam Faizal Al Jazeera Channel - قناة الجزيرة الفضائية Abdul Jamal Kucing Tani Hizbut Tahrir
http://www.ambranews.com/berita-tempatan/kes-sulaiman-naesa-di-youtube/