Selasa, 13 September 2011

أنتوق أنق أنق فارا شهداء

UNTUK ANAK PARA SYUHADA
by Jeritan Rakyat Patani 
(Mr. JR Post) “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Amat berarti pepatah melayu ini yang mengajarkan kita agar saling tolong-menolong antara satu sama lain, agar kita kenal siapa kawan dan siapa lawan, agar kita kenal diri kita dan menerima takdir yang ditetapkan untuk kita jalani, dan agar kita percaya setiap perbuatan yang ikhlas ada balasan baik dari Allah SWT.  Segala puji dan syukur saya panjatkan pada Allah yang maha Kuasa yang telah melahirkan para pejuang di Patani untuk menegak keadilan dan membela mereka yang dizalimi.

Seorang anak yatim pun berkata ‘Ayahku telah meninggalkan aku karena dihujani peluru hina, matanya terpejam dalam selimut darah, berbantalkan tanah, dan dia pergi tanpa sempat meninggalkan wasiat karena meninggalnya dalam kejutan dan tiada saudara mara disisi yang sempat mengajarkannnya menucapkan kalimat suci. Tapi aku tetap bangga karena dia pergi dalam pelukan bidadari dalam bibirnya mengucapkan kalimat Laa ilaaha Illallah. Aku yakin dia pergi ke syurga karena kepergiannya demi membela agama dan membela nasib kita semua.

 Anak yang diriba oleh kakaknya yang sulong. Mereka 4 beradik kehilangan kedua ibubapaSurat ini dari anak para Syuhada yang saya sampaikan untuk anda. Tulisan ini saya tulis bukan bersumber dari kata-kata anak yatim itu dan mereka juga tidak menulis apa-apa surat untuk anda. Tapi tulisan ini saya dedikasikan untuk mereka karena suara mereka mungkin tidak pernah sampai kepada kita, mungkin tidak semua dari kita yang pernah melihat kesengsaraan anak Para Syuhada ini, mungkin juga ada antara kita yang telah lupa akan kewujudan mereka.

Dalam keadaan konflik di Patani seperti yang berlaku sekarang ini sudah pasti banyak masalah yang di hadapi oleh ramai pihak misalnya, para peniaga mungkin mengalami kerugian, tempat-tempat wisata/percutian mungkin mengalami kekurangan pengunjung, harga barang mungkin juga meningkat, dan yang utama ingin saya jelaskan adalah pasti ramai anak-anak yang kehilangan bapa mereka. Pernahkah anda terfikir akan nasib mereka setelah kehilangan pemimpin keluarga yang selama ini menyuapkan mereka rezeki, mengantarkan mereka ke sekolah, yang memberi mereka didikan, dan mereka hilang seseorang yang selalu menyelesaikan masalah mereka.

 Salah seorang anak kecil yang menjadi mangsa kekejaman Thai.Beliau Lumpuh seluruh anggota badan. Hanya kepala yang boleh bergerak !!!!Tangan saya tergerak untuk mencoret tulisan ini karena hati saya tersentuh setelah mengetahui beberapa keluarga mengalami kesengsaran akibat kehilangan orang tua. Ada sebuah keluarga yang kehilangan kedua orang tua mereka dan hidup mereka mengalami penderitaan yang berat sehingga mereka terpaksa menyusui adik mereka yang masih bayi hanya dengan air teh, dan adik-beradik mereka tidak bersekolah karena tidak mampu menampung biaya sekolah dan si kakaknya pula sangat kurus sehingga badannya hanya terlihat tulang dan kulit sahaja. Setelah kita perhatikan kisah ini, apakah sama dengan pepatah melayu yang saya sebutkan di atas?!

Kisah keluarga di atas saya jadikan contoh dan masih banyak lagi keluarga yang mengalami nasib yang sama atau lebih berat lagi. Menurut yang dikabarkan, pada November 2010 ada sekitar 5011 atau lebih anak yatim di Patani yang kehilangan salah satu orang tua mereka atau kedua-duanya. Hal seperti ini bukan saja terjadi di Patani, malah ada juga di Afghanistan, Iraq, Palestina, Chechnya, Kashmir, Somalia, Moro, Ambon, dan poso.

 
Gadis malang yang ditembak sehingga cedera parah .Badannya sudah tidak berisi akibat tinggal dirumah kekurangan makanan.Kedua ibubapa di bunuh secara kejam oleh Penjajah.
 Menurut perhatian saya, hal seperti ini bukanlah perkara yang boleh dianggap mudah dan kecil karena akibat dari ketidak-pedulian kita bakal mencetus suatu masalah yang amat besar suatu hari. Antara masalah yang saya lihat adalah meningkatya jumlah mereka yang mentang perjuangan kerna pihak kafir siam sedang berusaha untuk mengambil hati anak-anak yatim dengan memberikan bantuan makanan, pakaian, uang, dan juga membiaya sekolah mereka. Selain itu, pihak siam juga sering membawa mereka ke tempat-tempat semina atau kursus dan menurut ramai pihak mengatakan kursus itu bertujuan untuk mencuci otak para anak yatim agar membeci para perjuangan dan sekaligus menentang ajalan perjuangan. Hal ini bukanlah dari pemikiran saya tapi hal ini telah terjadi di mana-mana.

Haruslah kita sadar bahwa betapa pentingnya bagi kita membela anak yatim atau anak para syuhada. Di dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’un ayat  1-3 “Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama, itulah orang yang menghardik anak  yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin “.Dan dalam sebuah hadith dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw bersabda : barang siapa yang memberi makan dan minum seorang anak yatim diantara kaum muslimin, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga, kecuali dia melakukan satu dosa yang tidak diampuni.

Setelah anda membaca coretan tulisan ini, haruslah anda sadar akan kepentingan membela nasib mereka anak-anak yang ditinggalkan.

By : Imaduddin Bahee (Mr. JRP)

Isnin, 15 Ogos 2011

بغسا فطاني: دريتا يغ تأ كونجوغ أوساي

Bangsa Patani: Derita Yang Tak Kunjung Usai
Di Susun Oleh: Zulaikho (Telah diedit Oleh Patani Fakta dan Opini)
“Bangsa Thai-Siam senantiasa dengan tipu dayanya mencoba memerangi Umat Melayu Muslim di Patani dengan berbagai kemaupuan yang mereka miliki, baik secara halus dan tersembunyi maupun secara kasar dan terang-terangan”.
       
“Pembantaian demi pembantaian terhadap umat Muslim di Thailand Selatan bukan cerita baru, inilah demdam kesumat bangsa kolonialisme Thai-Siam Budha yang tidak pernah pudar terhadap Umat Muslim yang berbangsa Melayu di Patani, Thailand Selatan”.
Banyak yang tidak mengira, bangsa colonial Thai-Siam memendam kebencian  yang luar biasa terhadap umat Muslimin Patani.  “telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi…” (ali-imran: 188).

Di hati mereka sudah tertanam kebencian. Artinya, mereka sudah punya target, umat Melayu Patani harus dimusnahkan dari bumi ‘serambi Mekah’ atau Patani Darussalam. Jadi, pembataian itu target mereka. Sedang-kan target terakhirnya adalah meng-siamkan umat Melayu Patani dari berbagai sudut kehidupan, dari sudut budaya, bahasa maupun sudut agama  yang mereka anuti.

Selama menjalankan kolonisasi, Kerajaan Thailand memberi hak-hak istimewa kepada masyarakat Budha yang didiami di bahgian selatan Negara itu. Buah perilaku kerajaan Thai itu tetap terasa ketika Bangsa Melayu di bawah penjajah Siam. Seluruh masyarakat Islam Patani tidak mendapat keistimewaan di kediaman-nya, padahal mereka adalah penduduk asli. Yang pasti membalurkan warna suram bagi masa depan masyarakat Melayu Patani. Belum lagi kerugian immatiriil berupa rasa sakit hati yang sangat dalam menusuk perasaan yang entah dengan cara apa dapat dihapuskan.
Kini berkembang menjadi  “bakar, bunuh muslim.” Sampai disini adalah cukup beralasan bila disebut ini sebagai ‘moslem cleansing’, pembersihan komunitas muslim.  Selain rumah-rumah mereka dikepong, jiwa mereka pun diancam bunuh. Yang lebih mengagetkan lagi adalah upaya transmigrasi oleh Pemerintah Thailand yang ingin mentransmigrasikan sebagaian besar masyarakat Budha Siam dari Utara ke Selatan.
 Tragedi Masjid Fur'qon
Ada perumpamaan tentang pergeseran sosiologis di Patani yang menimbulkan percikan api. Masyarakat Siam Budha diumpamakan sebagai tuan dan Melayu Patani muslim diumpamakan jongos. Setelah kerajaan Siam menakluk Patani dan dampak pembangunan serta kegigihan untuk berubah, kini jingos telah kaya dan si tuan justru tertinggal.
Thailand Selatan sebagai daerah yang subur, Patani dijuluki “emas hijau” yang akan mengundang kedatangan kaum imigran Budha dari Utara Thailand ke Selatan sejak berabad lalu. Kerajaan membagun desa untuk kaum imigran Budha dengan sebuah nama "Nikom" terdiri di beberapa daerah bahgian propinsi selatan.
 Tragedi Tanjung Lima
Roda kehidupan terus berputar. Manusia-manusia yang di perangi, dibantai, dan dijagal kerana keimanannya, masih berlanjut. Sikap bangsa Kolonial tidak akan pernah padam dari waktu kewaktu. Ibarat api dalam sekam yang tersimpan di dada mereka hingga suatu saat dimana bara itu bisa berubah menjadi api yang sangat dahsyat, dan etnik Melayu Patani di bahgian propinsi selatan akan di hapuskan.
Pengawai kerajaan menjelaskan kepada pers bahwa awal kerusuhan hanya sebahgain kecil golongan yang tidak pendidikan. Sanggahan dari masyarakat Melayu Patani sudah dilakukan sehubungan dengan perantaan Pengawai kerajaan tersebut. Akan tetapi, mulut pengawai atasan jelas jauh lebih besar dibandingkan mulut-mulut kecil muslim Patani yang biasa bagi pers yang menjadi penyebar utama omongan pengawai itu. Anehnya salah seorang Pemerintah Kerajaan Thailand juga menganggap krisis di Thailand Selatan sebagai perang kemiskinan, narkotik, narkoba, mafia” Ini  omong kosong.
 Tragedi Tak Bai
Demikian juga terdapat ungkapan di pihak pengawai Pemerintah Thailand bahwa tidak ada konflik agama, atau etnik di bahgian propinsi Thailand Selatan, padahal lembaga pengawas HAM yang beroperasi di New York semacam Human Rights Watch saja menganggap Kejadian Konflik di Thailand Selatan itu tidak setakat konflik Historis, Suku, Etnik, dan kesenjangan Ekonomi, tetapi sudah bermotif Agama.
Ada yang berpendapat bahwa Konflik PATANI Selatan Thailand adalah murni SARA, ada juga yang berpendapat kerena pertarungan antar Pemerintah Kolonial Thailand dengan sebuah gerakan ‘Barisan Revolusi’ Patani yang sedang berjalan, bahkan ada yang mengaitkannya dengan isu mesianisme (ajaran Budhis Siam-Thai untuk “membersihkan” wilayah – wilayah Muslim di Thailand Selatan yang akan  menjadi tempat kehadiran Thailandisasi dan Siamisasi).
Ini merupakan koflik horizontal antara Islam dan Budhis – Melayu Patani dan Siam Thailand. Sehingga koflik horizontal murni antara kedua-duanya ini akhirnya di bawah benar-benar perang.
Adapun tentang pemahaman dokrin itu (mesianisme), bisa jadi seperti itu. Isu mesianisme bisa juga. Justru menambah pemahanan akidah yang siap mati bagi Pejuang Pembebasan Melayu Patani. Dan, Patani ini kalau kita perhatikan, mempunyai potensi konflik ideology sudah dalam , sudah lama, yaitu sejak kejatuhan Kerajaan Patani di bawah penjajah Siam (Thailand) pada tahun 1785.
 Tokoh HAM Sonchai danKiayi Haji Sulong 'dihilangkan' jejak
Kalau sampai saat ini, efektivitasnya belum tampak riil walaupun sedikit sudah dirasakan oleh Masyarakat Melayu Patani. Memang arah menuju perbaikan memang ada, tetapi ini akan menyelesaikan masalah apabila tidak di berengi dengan unsure-unsur yang lain. Itu baru sisi masalah keamanan. Dan, keamanan sendiri belum bisa menjamin sepenuhnya kerena umat Melayu di bahgian Selatan Thailand sendiri masih merasa tidak aman. Sementara, kepercayaan kepada aparat telah pudar, kerena track record pertama itu pihak parat justru membantai umat Melayu Islam (Tragedi Kresik, Tragedi Tak Bai, Tragedi Tanjung Lima, Tragedi Air Temapayan, dan beberapa tragedy dan peristiwa kejadian lain lagi).                                    

Jadi, Memang Ada Koflik Ideologi.

Konflik di Patani Selatan Thailand jelas SARA, tidak perlu dengan istilah-istilah lain seperti “perang kemiskinan” agar tidak menyebar luas. Mengapa harus menutup nutupi barang busuk. Kerajaan Thailand memang pandai dalam mengarah ‘cover” dengan istilah-istilah pemanis, tapi lama kelamaan terbongkar juga borok-boroknya. Dulu, Thailand dikenal sebagai Negara yang paling tinggi tingkat heterogenitasnya yang terkenal ‘the land of smile’ walaupun berbagai suku dan agama, sehingga mendapat penghargaan dari luar negara.

Tentu saja, Masyarakat Melayu Patani yang sebagian besar muslim mempertanyakan, mengapa Konflik di Patani yang memakan korban jiwa cukup besar tidak “dilirik” oleh kerajaan Bangkok?

Sebaliknya, mereka (masyarakat Melayu Patani) juga mempertanyakan, mengapa jika seorang atau dua orang yang beragama Budha terbunuh di bahgian tiga propinsi selatan, Patani, Yala, Narathiwat dan sebagian propinsi Songkla, Kerajaan sangat cepat bertindak tanpa harus didorong oleh pihak lain. Bahkan, kalau perlu, kerajaan membentuk tim pencari fakta untuk menuntaskan kasus tersebut.
          
Kalau dilihat dari pelanggaran hak asasi manusia, tragedy pembantaian orang Melayu Islam di tiga propinsi selatan jauh lebih tragis dibandingkan dengan orang Budha. Jumlah korban terbunuh di bahgian Selatan mangsa adalah orang Melayu Islam jauh lebih banyak.

Maka di sini tidak aneh lagi sekira seorang Ustaz sekolah Agama Islam di tembak tewas maka akan disusul pula seorang guru Budha yang tewas, seorang Pak Kiayi (Ulama) di tembak tewas maka disusul pula seorang Biksu, seorang masyarakat sipil Melayu Muslim di tembak tewas maka akan terus pula seorang sipil Budha tertewas. Ini telah terjadi percaturan konflik yang sedang berlanjutan di sini.

Sikap tidak puas terhadap peran komnas HAM Thailand dan ini merasa bingung mengapa harusya menang ‘diam’. Padahal kasus Pembantaian, Pembunuhan, Mangsa Keganasan, Pemerkosaan, Mangsa di Penjara, Mangsa Tewas di Tembak, Mangsa di Hilangkan menunjuk angka yang begitu besar. Jumlah korban begitu banyak. Hanya begitu terpukul dengan kasus-kasusu yang terjadi di Selatan nagara Thai ini, tetapi kenapa tidak ada reaksi yang begitu keras terhadap kasus- kasus semua ini.

Bahwa Komnas HAM Thailand tidak acuh terhadap konflik di Thailand Selatan. Komnas HAM Thailand sudah mengirim orang ke Selatan dan berusaha mendorong untuk menyelesaikan. Komnas HAM tidak perlu melakukan duplikasi pekerjaan. Sebab, kalau datang kesana (Thailand Selatan) hanya untuk meninjau, hanya dilihat sebagai peninjau amatir. Hanya untuk mengumpulkan data kemudian kembali ke Bangkok. Lalu, apalagi yang diharapkan???

Peristiwa dan kejadian yang berlaku ini  tidak hanya membuat kita  sangat prihatin, tapi juga sekaligus memperkeruh persoalan konflik yang berkepanjangan dan memperpanjang pertanyaan masyarakat Malayu di Selatan Thai: Apa yang sesungguhnya dilakukan aparat keamanan dan sejauh mana tangung jawap yang bisa menjamin kehidupan umat Melayu Patani disini?

Apa yang terjadi di Patani Selatan Thailand tidak dapat dianggap sederhana dan local, kerena dampaknya pasti sangat serius. Kerusuhan di Patani bukan lagi angka-angka tentang berapa jumlah manusia yang tewas, berapa rumah ibadah ditembak. Kerusuhan tentangan antar Etnis Melayu Vs Siam, dan Islam Vs Badha yang sedang terus berjalan di ‘the land of smile’ Gajah Putih’ini...!!!

Rabu, 10 Ogos 2011

بغكوك بري سموا.. كجوالي هركا ديري دان كمرديكأن

Bangkok Beri Semua, Kecuali Harga Diri dan Kemerdekaan
by jawa pos

Jawa Pos – Mengunjungi Pattani, Jantung Komunitas Muslim Melayu di Thailand yang Sedang Bergolak. Sudah puluhan tahun Bangkok mengerahkan tentara besar-besaran dan dana miliaran baht ke Thailand Selatan, namun kekerasan masih terus terjadi. Sejumlah tokoh yang ditemui di Pattani berpendapat, konflik tak berhenti karena memang bukan itu yang diperlukan.
Laporan oleh: Abdul Rokhim dari Pattani, Thailand
Mengelilingi Kota Pattani, satu hal yang harus diakui, infrastruktur amatlah baik. Jalan luas dan mulus. Sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, dan fasilitas umum dibangun dengan megah. Di kota berpenduduk tak sampai satu juta itu tersedia pusat perbelanjaan Big C Superstore dan puluhan diler mobil serta kedai seluler. Namun, apa yang tampak di mata itu bisa menipu. Beberapa warga Pattani dari kalangan pengusaha, mahasiswa, dan tokoh masyarakat yang ditemui Jawa Pos mengaku resah dengan naiknya eskalasi konflik akhir-akhir ini.
Nattapong Suwanmongkol, 56, pengusaha penjual mobil bekas, mengakui konflik Patani secara tak langsung mengusir warga Thai nonmuslim keluar dari Pattani dan kota-kota yang bergolak lain, seperti Yala dan Narathiwat. Mereka takut terhadap tindak kekerasan, termasuk kepada warga nonmuslim, yang terus meningkat. “Rasa curiga membakar warga karena pemerintah tak pernah menjelaskan siapa pelakunya. Kami seperti diikuti bayang-bayang gelap yang bisa merusak bisnis dan membunuh keluarga kami setiap saat,” keluh penganut Buddhis itu saat ditemui di tempat usahanya, Minggu (23/3).
Nattapong yang pernah dilibatkan dalam tim nasional rekonsiliasi Thailand Selatan bentukan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra itu menilai, ada kesan tentara menangkap orang hanya untuk menenangkan warga dan menunjukkan bahwa mereka mampu. “Tapi, setelah penangkapan, kekerasan semakin sering. Sekarang orang tak percaya lagi. Setelah bom di Hotel CS Pattani, bisnis terus memburuk,” kata Nattapong yang gerai dilernya berada di dekat Hotel CS Pattani. Saat ini Nattapong hanya menjual tiga sampai lima mobil dalam seminggu. Padahal, sebelum 2004, saat konflik meluas akibat tragedi Tak Bai dan darurat militer, jumlah itu dulu ludes hanya dalam satu hari. “Beberapa teman sudah menutup usaha dan pergi ke utara. Jika tak ada tanda-tanda membaik, sebaiknya saya juga pindah,” kata bapak empat anak itu.
Apa yang dirasakan Nattapong sesuai dengan data Pemerintah Thailand. Tercatat bahwa pertumbuhan ekonomi di selatan hanya 1,8 persen tahun lalu. Angka ini jauh di bawah rata-rata nasional 4,3 persen. Ada 108 pabrik tutup sejak 2004 dan 10,8 persen penduduk selatan berada di bawah garis kemiskinan. Bukan hanya di sektor bisnis. Kemunduran juga terjadi di bidang pendidikan. Kampus Prince of Songkhla University (PSU), universitas terbesar di Pattani, mencatat kini 90 persen mahasiswanya muslim. Padahal, dulu sebelum konflik, mahasiswa dari seantero Thai yang berbeda agama datang studi ke sana. Tak heran, pemandangan di kampus PSU Pattani sekarang mirip dengan kampus Indonesia. Banyak mahasiswi berjilbab, ada masjid, ada banyak tempat salat, serta makanan semua halal. Sangat berbeda dengan wajah kampus-kampus di Bangkok. “Mahasiswa nonmuslim yang bertahan di sini umumnya juga hanya menghabiskan sisa waktu belajar. Sedangkan mahasiswa baru nonmuslim belakangan ini hampir tak ada,” kata Nur Imani, 21, mahasiswi tingkat akhir Jurusan Fisika, saat ditemui sedang browsing internet di taman kampus PSU.
Ismail Ali, 37, seorang dosen PSU ditemui di tempat yang sama membenarkan adanya rasa takut yang menghantui mahasiswa nonmuslim. “Sebelum 2004, orang Melayu dan Siam biasa hidup berdampingan. Baru setelah itu (Insiden Tak Bai yang menewaskan banyak warga muslim), rasa saling curiga berkembang di antara kedua golongan. Apalagi jika mereka tak saling kenal,” kata direktur kajian Islam PSU yang mengaku sering diajak berdialog pemerintah Thailand itu. Rusdi Tayeh, 51, timbalan (wakil) ketua Majelis Umat Islam Pattani, mengungkapkan, keadaan sekarang sebetulnya bukan hanya membuat tak nyaman warga nonmuslim. “Kalau boleh, muslim di sini juga ingin pergi. Tapi, ke mana? Ke Bangkok tak lebih baik karena tak merasa sebagai negeri sendiri. Ke Malaysia kendati agama dan budaya sama juga mengundang masalah, karena negaranya berbeda. Apalagi, Malaysia cukup tegas terhadap pendatang haram,” katanya saat ditemui di kantornya, belakang masjid besar Pattani yang berdiri megah.
Rusdi yang pernah menjadi takmir masjid di kompleks Polri Jogjakarta (saat menuntut ilmu di IAIN Sunan Kalijaga) itu mengatakan, pemerintah Thailand berusaha men-Siam-kan rakyat Melayu di Thailand Selatan yang berpenduduk sekitar 4,5 juta jiwa dari sekitar 63 juta penduduk Thailand. Menghadapi kebijakan itu, kata dia, rakyat keturunan Melayu dengan identitas budaya dan agama berbeda melihatnya sebagai bentuk penindasan kolonial. “Kami adalah bangsa dengan identitas Melayu yang sangat berbeda dengan bangsa Siam. Ini fakta sosio-historis dan sudah ada jauh sebelum terbentuknya kerajaan Thailand,” ujar Rusdi merujuk penyerahan wilayah Thailand Selatan yang dikuasai Kerajaan Pattani kepada Kerajaan Siam oleh Inggris pada 1902.
Menurut Ahmad Khamil, 45, kepala sekolah Islam Mahad Attarbiyah, Pondok Bandar, Pattani, karena Kerajaan Pattani diserahkan secara paksa kepada Kerajaan Siam, dengan sendirinya bentuk hubungan kerajaan Thailand dengan rakyat di bekas Kerajaan Pattani (Pattani, Yala, dan Narathiwat), tidak berbeda dengan kekuasaan penjajah atas rakyat yang dijajah. “Hak-hak rakyat di negeri jajahan diabaikan. Lowongan kerja di pemerintahan hanya terbuka untuk pegawai rendahan. Sedangkan pembangunan sekadar lipstik yang menyentuh daerah ini,” kata Khamil yang pernah menjadi staf Prof Dr Amien Rais saat riset doktor di UGM Jogjakarta dulu.
Untuk mengekspresikan agama dan budayanya, lanjut Khamil, rakyat Melayu selalu mendapat halangan. “Untuk bekerja di jawatan rumah sakit, muslimah kami dilarang keras memakai jilbab. Bahkan, saat menghadiri pertemuan nasional di Bangkok, selalu ada imbauan untuk tidak memakai kerudung, peci, atau baju muslim,” kata pengelola sekolah yang mendidik 2.500 murid itu. Menurut Khamil, bangsa Siam selalu menganggap masyarakat muslim Melayu sebagai warga bodoh dan terbelakang, hanya karena kami memakai sarung, berkopiah, atau menggunakan serban. “Padahal, itulah identitas kami dan kami juga lulusan perguruan tinggi,” kata calon peraih gelar PhD dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Universiti Islam Antara Bangsa Malaysia, bahkan dari timur tengah Universitas al-Azhar, Madinah pun ada, itu dengan nada tinggi.
Karena itulah, sumber masalah di Thailand Selatan kini tidak lagi terbatas pada konflik antara kelompok miskin yang cemburu dengan kelompok kaya dan berkuasa di utara, tetapi sudah mencakup perlawanan terhadap penghapusan peradaban yang diyakini ratusan tahun.
Masuknya unsur agama dalam konflik ini merupakan hal yang tidak terhindarkan. “Identitas Melayu mencakup agama Islam, sementara pemerintah Siam beragama Buddha,” ujar Rusdi yang mengetuai bidang pendidikan di hampir 300 sekolah Islam di seluruh Pattani. Meski demikian, baik Khamil maupun Rusdi membantah bahwa konflik di wilayah Thailand Selatan sudah berubah menjadi perang agama. “Apa yang terjadi di sini semata-mata menyangkut perjuangan suatu bangsa yang ditindas,” ujar Khamil. Perjuangan rakyat Pattani, lanjut dia, mempunyai landasan historis, budaya, maupun etnis. Sebab, di Thailand Selatan, baik agama, budaya, maupun bahasa rakyat Pattani berbeda dengan masyarakat Siam yang berkuasa. Ini berbeda dengan kasus Aceh yang ingin memisahkan diri dari negara yang pemimpinnya juga muslim serta sama-sama menggunakan bahasa Indonesia.
Lantas apa solusi terbaik untuk konflik di Thailand Selatan? Tiga intelektual muslim Pattani mempunyai pandangan hampir sama. Ismail Ali mengatakan, pemerintah Thailand harus mulai realistis. Hingga Januari 2001, kata Ismail, pemerintah masih yakin tak ada gerakan separatis di Thailand Selatan. Semua baru terkejut setelah terjadi serangan dan perampokan senjata dalam jumlah besar di sebuah markas tentara, 4 Januari 2004, lalu dilanjutkan serangan masif dan terkoordinasi pada 28 April. “Pemerintah tak lagi bisa membantah, serangan-serangan itu dilancarkan kaum pemberontak dan bermotif politik untuk merdeka,” ujarnya.
Khamil dan Rusdi menambahkan, persepsi masyarakat muslim telanjur mengalami transformasi akibat berbagai peristiwa kekejaman yang dilakukan rezim Bangkok selama ratusan tahun. “Kami melihat sendiri ribuan pengunjuk rasa di Tak Bai diangkut dengan posisi tiarap dan tangan terikat ke belakang disusun bertindihan hingga lima lapis dalam satu truk menuju markas militer di Songhkhla,” cerita Rusdi. “Mereka memperlakukan warga keturunan Melayu melebihi binatang. Hal yang mustahil mereka perbuat terhadap warga Siam. Kami ingin semua ini berakhir. Satu-satunya cara adalah dengan kemerdekaan,” lanjutnya.


Khamil mengakui, tragedi Tak Bai beberapa lalu merupakan kebangkitan kesadaran rakyat keturunan Melayu di Thailand Selatan atas penindasan yang dialami mereka selama ini. “Mereka bisa memberi kami semua jalan yang lebar dan gedung-gedung megah, tapi kami tidak diberi kemerdekaan dan harga diri,” ungkapnya. Tragedi Tak Bai yang mengakibatkan 80 lebih warga muslim tewas membuat rakyat Thailand Selatan menuntut kemerdekaan. Mereka menagih dengan bom, serangan sporadis, bahkan pembunuhan pejabat.
Aparat keamanan Thailand mencatat ada 2.633 serangan terhadap personel militer di kawasan selatan sepanjang tahun lalu. Angka itu meningkat dari jumlah serangan tahun sebelumnya yang hanya 1.324. Untuk meredam serangan, aparat keamanan Thailand sudah menahan 3.000 orang.(Jawa Pos)

Selasa, 19 Julai 2011

PERJANJIAN 1909 ANTARA INGGERIS DENGAN SIAM SERTA LATAR BELAKANGNYA

PERJANJIAN 1909 ANTARA INGGERIS DENGAN SIAM SERTA LATAR BELAKANGNYA
Oleh: J Chandran. UKM

Satu peristiwa yang merupakan tanda yang panting dalam perkembangan sejarah moden Malaysia adalah Perjanjian 1909 antara Siam dengan Inggeris yang memisahkan empat buah negeri Melayu di Utara Semenanjung daripada naungan Siam dan mengikatkan mereka dengan jajahan British, Mulai 1909 sempadan di antara Siam dengan Malaysia telah ditentukan dengan cara kebetulan sahaja dan sehingga ini sempadan itu merupakan suatu soal yang besar maknanya dalam sejarah moden Malaysia. Kajian ini tidak bertujuan untuk meneliti samada sempadan itu munasabah atau tidak. Sebaliknya perkara yang akan lebih dititik-beratkan adalah kedudukan dan kesan Perjanjian 1909 itu didalam konteks dasar imperialis British dirantau ini sebelum Perang Dunia Pertama.
Kebanyakan buku-buku sejarah yang menyebut tentang Perjanjian 1909 itu memperlihatkan perkembangan dasar penjajahan Inggeris di Semenanjung Melayu sebagai satu proses yang bersambungan mulai daripada 1874. Malah mengikut pentafsiran beberapa ahli-ahli sejarah perluasan jajahan Inggeris yang berlaku pada 1909 hanya merupakan puncak dari usaha-usaha Kerajaan Penjajahan di Tanah Melayu sejak 1874 untuk dapat menarnpung seberapa banyak negeri Melayu di dalam satu kawasan jajahan yang luas serta bersatu. Pentafsiran-pentafsiran yang demikian biasanya mengambil perhatian tentang betapa pentingnya peranan Siam di dalam hal ini semata-mata kerana pada masa itu setiap negeri Melayu yang terletak kesebelah Utara Negeri Melayu Bersatu itu adalah terkandung didalam kawasan-kawasan Siam. Seringkali terdapat juga di dalam perbincangan mengenai perkara tersebut sedikit-sebanyak  yang menyentuh tentang hubungan diantara Inggeris dengan Perancis sebelum 1909 yang dikatakan memudahkan Perjanjian 1909 diantara Inggeris dengan Siam itu. Maka, memandang dari sudut keadaan antarabangsa, khasnya dari segi kedudukan hubungan diantara Inggeris dengan Perancis menjelang 1909, kesempatan untuk Inggeris mencapai matlamatnya di Utara Semenanjung Melayu adalah sangat baik. Namun demikian kajian ini akan menggambarkan bagaimana tujuan-tujuan dasar British di kawasan Negeri-negeri Melayu Utara itu telah pun diawasi serta dipelihara lebih awal lagi. Selain daripada itu kertas ini akan menegaskan bahawa sebenarnya Persetujuan  di antara  Inggeris  dengan  Perancis  pada 1904 tidak merupakan punca bagi Perjanjian 1909 yang berikutan, malah kedua-dua  kuasa imperialis itu memang telah bersetuju akan kepentingan masing-masing dikawasan-kawasan yang tertentu sejak 1896.
Sejak Inggeris menakluki Hulu Burma pada 1886 dan meluasnya jajahan Perancis di Annam dan Tongking, satu persaingan yang hebat diantara kedua-dua kuasa imperialis itu telah berlaku. Pertandingan peluasan pengaruh masing-masing mula tiba kepuncaknya pada 1893 manakala Perancis dapat mencapai matlamat-matlamatnya di Laos dan kawasan-kawasan sebelah timur Sungai Mekong dengan cara menggunakan kekerasan atas Kerajaan Siam, Pada masa itu kepentingan Inggeris dirantau Asia Tenggara, terutama sekali di T’anah Besarnya, tertumpu kepada dua kawasan: di sebelah timur laut Burma dan di Selatan China, khasnya diwilayah Yunnan; dan yang kedua, di Negeri Melayu Utara sehingga Genting Kra. Di kedua kawasan tersebut Kerajaan British mempunyai beberapa kepentingan seperti perdagangan dan stratejik. Sementara itu dasar jajahan Inggeris juga telah berubah akibat peluasan Empayarnya yang agak berselerak. Kerajaan British pada tahun 1890an enggan memperluaskan Empayar British kerana adanya banyak masalah yang berkaitan dengan peluasan itu, Maka seorang negarawan British pada masa itu, Lord Salisbury yang juga menjadi Perdana Menteri merangkap Setiausaha Luar Negeri, memegang kuat pada dasar liberal supaya dapat rnengatasi masalah diplomatik dengan mengadakan persetujuan dengan negeri-negeri asing, Berbanding dengan dasar Salisbury yang tidak agresif, Perancis masih lagi terlibat dalarn perjuangan jajahan dan hanya menunggu kesempatannya untuk menakluki lebih banyak lagi kawasan buru terutama sekali di Tanah Besar Asia Tenggara Matlamat pertama Perancis adalah penaklukan Kerajaan Siam supaya tanah jajahan Indochina Perancis dapat diperluaskaa. Dalam keadaan yang tidak menyenangkan itu Inggeris mula menjalankan rundingan dehgan Perancis pada 1895 untuk mengatasi masalah Siam itu tanpa sebarang pergolakan, Tujuan Inggeris di dalam rundingan tersebut semata-mata untuk menghindari Perancis daripada memansuhkan kebebasan dan kedaulatan Kerajaan Siam, akan tetapi kedua kuasa imperialis itu memang sedar akan kepentingan masing-masing dikawasan Siam yang berhampiran dengan jajahan mereka. Maka dalam Pengisytiharan Inggeris-Perancis pada 15hb Januari, 1896 mereka dapat memelihara kepentingan masing-masing serta mengelakkan penghapusan Kerajaan Siam. Dalam Pengisytiharan 1896 itu dirakamkan beberapa fasal yang ayatnya tidak begitu jelas menerangkan perkaitannya dengan sejarah Negeri Melayu Utara.
Penyelidikan baru-baru ini yang berasaskan surnber Pejabat Luar Negeri Inggeris (Foreign Office), sumber persendirian beberapa orang menteri Inggeris, sumber Pejabat Jajahan India (India Office) dan arkib Kementerian Luar Negeri Perancis (Service des Archives, Ministere des Affaires Etrangeres, Quai d’Orsay, Paris) jelas membuktikan bahawa dua kuasa yang telah menandatangani Pengisytiharan 1896 itu memang memaksudkan persetujuan antara mereka itu supaya meliputi kepentingan masing-masing di Siam Timur dan Siam Selatan jua, Pada surat resminya Pengisytiharan itu hanya menggariskan sempadan kawasan negeri Siam yang akan dianggap sebagai bebas dan berdaulat dan yang tidak akan diresapi oleh kedua kuasa asing itu, Fasal yang lain tidak bersangkut paut dengan soal masadepan atau kebebasan Siam walaupun menyentuh beberapa perkara yang lain yang selama itu telah menjadi punca persaingan diantara Inggeris dengan Perancis, umpamanya, masalah Hulu Sungai Mekong, memang disentuh. Sebetulnya Salisbury bercita supaya perjanjian dengan Perancis itu mengekalkan kebebasan dan kedaulatan Kerajaan Siam keatas seluruh kawasan dan wilayahnya termasuk juga Negeri Melayu Utara. Malahan kerajaan Perancis yang sentiasa dipengaruhi oleh unsur-unsur kolonialnya tidak sanggup rnenyetujui chadangan Salisbury kerana mereka mengharap-harap akan kedudukan Perancis di Indochina meresapi kawasan Timur Siam pada satu masa kelak. Maka Pengisytiharan 1896, walau pun menetapkan kebebesan Kerajaan Siam di dalam kawasan Lembah Sungai Chao Phya, tidak menyentuh sama sekali kedudukan kawasan yang diluarnya. Hingga kini ahli-ahli sejarah tidak dapat menerangkan apakah sebenamya maksud kedua kuasa imperialis itu mengecualikan Siam Timur dan Siam Selatan dalam Pengisytiharan tersebut. Hanya setelah meneliti sumber-sumber baharu yang telah disebutkan tadi sahaja dapat dipastikan bahawa Inggeris dan Perancis “telah bersetuju bahawa kawasan yang tertentu itu dikecualikan daripada jaminan am yang telah pun mereka berikan keatas kebebasan Siam di Lembah Chao Phya Sebetulnya mulai 1896 Inggeris dan Perancis telah mernpraktikan teori baharu bagi kepentingan masing-masing yang bermakna bahawa dikawasan Timur Siam yang berhampiran dengan Indochina, Perancis akan memainkan peranan. sebagai kuasa utama sementara Inggeris pula akan menuntut hak keutamaannya diwilayah Siam Selatan. Oleh yang demikian tidak benar pula jikalau dikatakan hanya pada 1909 sahaja Inggeris dapat mempertahankan kepentingan mereka di Negeri Melayu Utara secara berkesan. Setelah 1896 asalkan Perancis diberi kebebasan pada dasarnya di Siam Timur, Inggeris dapat membuat apa sahaja di Siam Selatan.
Namun bagitu Salisbury yang telah menandatangani Pengisytiharan itu tidak merasa senang hati kerana beliau sangat memikirkan tentang betapa mudahnya sebuah kuasa asing selain daripada Perancis boleh campur tangan dalam hal negeri Melayu itu. Bagi mencapai sebahagian dari tujuannya untuk mententeramkan perasaan Kerajaan Siam terhadap Pengisytiharan 1896 itu dan mengelakkan kemungkinan kuasa asing bertapak di Siam Selatan, Salisbury lalu memulakan rundingan dengan Raja Chulalongkorn agar satu perjanjian terlaksana diantara mereka. Disini perlu ditegaskan bahawa Kerajaan Penjajah Inggeris di Tanah Melayu telah mendesak sejak tahun 1880an supaya kuasa Inggeris diperluaskan ke Negeri Melayu Utara. Sekali pun Foreign Office di London telah menentang rayuan itu. setelah Sir Frank Swettenham menjadi Resident-General yang pertama bagi Negeri Melayu Bersekutu pada 1896, kempen untuk menggabungkan kawasan utara itu dengan jajahan British menjadi semakin rancak. Disamping itu seorang tokoh faham jajahan, Joseph Chamberlain, telah pun dilantik sabagai Setiausaha Hal Tanah Jajahan dan Salisbury menghadapi desakan yang tegas mengenai dasar British di Siam Selatan. Pada akhirnya rundingan Inggeris-Siam menghasilkan sebuah Perjanjian Rahsia pada April 1897. Mengikut Per­janjian tersebut Siam memberi jaminan bahawa ia tidak akan menyerahkan sebarang tanah dikawasan Semenanjung Melayu atau membenarkan kuasa asing menampil kenegeri Melayu Utara. sementara kerajaan Ing­geris pula berjanji akan menolong Siam menentang sebarang kuasa asing yang cuba menceburkan dirinya di kawasan tersebut secara kekerasan atau ketenteraan. Kerajaan Siam juga mengaku bahawa setiap permohonan dari orang asing untuk melombong, meniaga dan sebagainya di Siam Selatan rnestilah dirundingkan terlebih dahulu dengan Kerajaan British sebelum keputusan dibuat. Perlu ditegaskan di sini bahawa Salisbury hanya dapat persetujuan Siam bagi Perjanjian Rahsia itu setelah menjalankan beberapa muslihat, kerana Raja Chulalongkorn sangat enggan memberi peranan yang besar kepada Inggeris diwilayah Selatan. Pada penghujung rundingan Inggeris-Siam Salisbury telah mengugut Chulalongkorn dengan kemungkinan Inggeris tidak akan membantu Siam sekiranya serangan dari Perancis berlaku semula, Oleh yang demikian Siam dengan merasa sedikit keberatan terpaksa bersetuju dengan syarat dalam Perjanjian Rahsia 1897 itu.
Keadaan yang pada akhirnya menyebabkan Kerajaan Inggeris mengkaji semula kepentingannya dikawasan negeri Melayu Utara adalah berkaitan dengan beberapa tanda yang merbahaya yang telah wujud antara tahun 1899 dengan 1902 disekitar Empayarnya, khasnya dirantau Asia Tenggara. Kerajaan Inggeris mula rnerasa bimbang setelah tercetusnya Perang Afrika Selatan pada 1899 dimana penentangan gulungan Boers menjadi begitu hebat hingga sejumlah besar askar Inggeris dicurahkan kekawasan tersebut untuk membasmi pemberontakan itu. Tambahan pula negarawan British memang sedar bahawa selagi kekuatan tentera dan tenaga mereka tertumpu kepada Afrika Selatan, selama itulah kuasa Eropah lain yang sedang menyaingi pengaruh Inggeris diseluruh dunia akan cuba melakukan satu tindakan terhadap kawasan yang terpenhil dalam Empayar British supaya dapat memaksa Inggeris menyetujui kehendak mere­ka yang tertentu dibenua Eropah. Lebih kurang pada penghabisan abad kesembilanbelas juga kedudukan istimewa British di Empayar China telah menghadapi beberapa cabaran daripada kuasa Eropah seperti Rusia, Perancis dan Jerman. Disamping itu, setelah awal 1898 Jerman telah mula tampil ke Empayar China secara kekerasan dan banyak kemungkinan telah timbul bahawa negara lain juga akan berbuat demikian. Maka dengan kata lain kedudukan Inggeris di mana-mana sahaja dalam konteks Empayarnya pada awal kurun keduapuluh telah terancam. Namun begitu Foreign Office Inggeris sungguh khuatir akan Jerman mengambil peluangnya untuk campur tangan dalam hal ehwal negeri Melayu Utara, terutama sekali kerana Tentera Laui Jerman sedang membangun dan mereka sangat memerlukan pelabuhan yang sesuai dimerata dunia untuk menyaingi kuasa lautan Inggeris yang sehingga itu tidak boleh di landing. Ramalan yang tersiar daripada rantau Asia Tenggara pada ketika itu membayangkan keadaan di negeri Melayu Utara sebagai terlalu kucar-kacir dan oleh itu boleh memberi kesempatan yang baik kepada sebuah kuasa asing se­perti Jerman untuk bergerak. Meskipun Kerajaan Inggeris telah menandatangani sebuah perjanjian sempadan dengan Siam pada 1899 yang menggariskan sempadan antara Negeri Melayu Bersekutu bagi satu pihak dan wilayah Siam bagi satu piliak yang lain. Foreign Office di London tidak dapat melupakan soal hubungan di antara Siam dengan negeri Melayu Utara. Mengikut Kerajaan Penjajah di Singapura Siam tidak dapat menakluki negeri Melayu tersebut dengan tegas dan raja-raja Melayu di utara dikatakan pula bersiap untuk memberontak, terutama sekali Raja Patani, Memang benar bahawa  pendapat yang wujud  dari  pihak Inggeris di Semenanjung Melayu bertujuan untuk memperkecil-kecilkan      pengaruh Siam dikawasan Melayu Utara, akan tetapi beberapa kebenaran telah pun membuktikan kepada Kerajaan London bahawa sikap Negeri Melayu Utara terhadap Siam adalah bermusuhan. dalam hal ini perlu  ditegaskan  bahawa Foreign Office Inggeris mengambil berat ter­hadap   tindak-tanduk  negeri Patani yang dianggap sebagai kuasa yang mempunyai  daya utama antara Negeri Melayu Utara.
Perkara yang menyebabkan Inggeris menjadi sungguh khuatir ter­hadap perkernbangan politik di Negeri Melayu Utara adalah kegagalan Perjanjian Ralisia 1897, Pada tahun yang berikutnya Inggeris dan Sian telah berkali berkelahi tentang pelaksanaan Perjanjian tersebut. Disamping itu menurut sumber tempatan semakin ramai orang asing menceburkan diri di dalam perdagangan dan perlombongan di Negeri Melayu Uta­ra secara bersendirian. Meskipun hanya separuh dari mereka itu sahaja yang terdiri dari warganegara Jerman, Kerajaan Inggeris memang mensyaki bahawa Jerman adalah bertanggungjawab atas penambahan perhatian orang asing yang tiba-tiba ditumpukan kepada Negeri Melayu Utara itu, khasnya  Kedah, Kelantan dan Trengganu. Pertelingkahan antara Inggeris dengan Siam timbul kerana kebanyakan orang asing itu telah memohon kebenaran untuk melombong dan sebagainya secara langsung kepada raja Melayu sendiri tanpa sebarang permintaan kepada Kerajaan Siam di Bangkok. Tambahan pula Kerajaan Inggeris merasa curiga bahawa Siam tidak setia kepada peraturan dalam Perjanjian Rahsia, malahan pihak Bangkok mungkin membuat persefahaman secara sulit dengan kuasa asing seumpama Jerman, Maka segala kemungkinan itu lalu menyebabkan Kerajaan Inggeris, terutamanya Foreign Officenya, berusaha mencari cara baharu untuk mengatasi keadaan yang tidak menyenangkan di Negeri Melayu Utara pada awal kurun keduapuloh.
Di sini harus diingat juga peranan seseorang individu seperti Setiausaha Luar Negeri baharu di London, Lord Lansdowne. Beliau telah mengambil alih jawatan tersebut setelah pilihan raya 1900. Dalam pilihan raya tersebut Parti Konservatif telah sekali lagi mencapai kejayaan yang besar dan Lord Salisbury telah pun mengundurkan dirinya daripada menjadi Setiausaha Luar Negeri semula walaupun terus memegang jawatan Perdana Menteri. Salisbury adalah lebih tenang dan sabar dalam usaha diplomasinya mungkin kerana beliau sangat berpengalaman. Malah Salisbury sebenarnya tidak begitu khuatir akan keadaan di Negeri Melayu Utara menjadi merbahaya atau meruncing. Akan tetapi Lansdowne tidak sanggup memerhatikan sahaja perjalanan dasar Jerman yang sangat memusuhi Inggeris disekitar dunia dan disamping itu penasihatnya di Foreign Office pula mensifatkan peranan Jerman dirantau Asia Tenggara sebagai nakal. Maka Lansdowne berniat hendak rnengindarkan sebarang tindakan Siam atau Jerman di Negeri Melayu Utara yang mengancam kedudukan dan kepentingan Inggeris.

Dalam usaha yang demikian Lansdowne berpendapat bahawa dasar Inggeris terhadap Siam  dikawasan utara Semenanjung Melayu adalah tidak wajar atau sesuai kerana kegagalan Perjanjian Rahsia 1897. Pada hakikatnya perjanjian tersebut tidak mendatangkan sebarang hasil kepada kedua negara yang terlibat dan sebaliknya banyak masalah dalam pelaksanaannya sahaja yang timbul. Kedudukan Lansdowne sangat rumit memandangkan rahsianya Perjanjian 1897 yang tidak membolehkan Ingge­ris menafikannya supaya dasar mereka di Negeri Melayu Utara lebih bebas. Sementara itu Kerajaan Siam sendiri terikat kepada Perjanjian Rahsia itu kerana rnereka memang khuatir akan kuasa asing dapat tahu sejauh mana Siam telah memberi keistimewaan kepada Inggeris diwilayah Selatan. Lansdowne pertama sekali menitik beratkan  hubungan antara Inggeris dengan Perancis kerana beliau sedar bahawa peranan Inggeris di Negeri Melayu Utara itu tidak akan terbatas melainkan dengan satu persefahaman yang seluasnya dengan Kerajaan Perancis. Malahan pada awal kurun keduapuluh Lansdowne tidak. melihat sebarang peluang untuk memperbaiki hubungan antara Inggeris dengan Perancis yang agak tegang disebabkan oleh persaingan antara mereka di Mesir, Maghrabi dan Afrika. Pada ketika itu keadaan di Negeri Melayu Utara pula merosot dan menjadi makin buruk akibat tuntutan raja Melayu akan kebebasan mereka daripada kuasa Siam. Kerajaan Siam memang menghadapi banyak kesulitan dalam usahanya untuk memperkuatkuasakan pengaruhnya atas negeri Melayu tersebut dan pada 1902 satu peristiwa yang serius berlaku bilamana askar Siam menahan Raja Patani lalu membawanya ke Bangkok. Setelah Raja Patani digulingkan kempen-kempen kerajaan Penjajah Inggeris di Singapura yang didahului oleh Swettenham naik semangat dan kerajaan London dibanjiri oleh kian banyak desakan memintanya mengambil langkah yang tegas untuk rnempertahankan kepentingan Inggeris.
Secara kebetulan sahaja, pada akhir 1901 kerajaan Perancis telah berunding dengan Siam tentang beberapa masalah antara dua pihak itu di kawasan Siam Timur, Perkembangan tersebut lalu menggalakkan Lansdowne membangkitkan soal negeri Melayu Utara secara langsung dengan Kerajaan Siam. Beliau tidak sanggup menyokong rayuan Swettenham dan rakannya di Singapura supaya menakluki Perlis, Kedah, Patani, Kelantan dan Trengganu kerana sekiranya Inggeris berbuat demikian sudah tentu Perancis pula akan membalas dengan merebut kawasan Siam Timur, Dari segi keperluan stratejik Inggeris, ibukota Bangkok dianggap amat penting dan dasar Inggeris menghendaki tempat itu bebas dari pengaruh Perancis. Oleh kerana matlamat Perancis dikawasan Battambang dan Siemreapo yang terlalu berhampiran dengan Bangkok maka Lansdowne tidak dapat memberi peluang kepada Perancis. Namun demikian Lans­downe menyedari bahawa setelah pergolakan antara Siam dengan Patani keadaan di Kelantan dan Trengganu mula menjadi tidak tenteram Beliau yakin bahawa sekiranya pentadbiran Siam didua-dua negeri Melayu itu dapat diperbaiki mungkin keadaan akan pulih. Menurut dasar baharu itu Lansdowne telah mengadakan rundinsan dengan wakil Keraiaan Siam di London pada akhir 1901 dengan tujuan memaksa Raja Chulalongkorn supaya melantik Penasihat Am (General Advisers) kepada Raja Kelantan dan Sultan Trengganu. pada mulanya Siam cuba mengganggu rundingan itu akan tetapi setelah Lansdowne menunjukkan sikapnya yang begitu keras dengan lawatan Swettenham ke Kelantan dan Trengganu seolah-olah beliau akan membuat perjanjian secara langsung dengan negeri tersebut. maka Kerajaan Siarn kemudian menerima cadangan Inggeris. Hasil perundingan antara Inggeris dan Siam adalah satu perjanjian yang ditanda-tangani oleh Lansdowne dan Phya Sisahathep, Wakil Khas Siarn, di London pada 5hb Oktober 1902. Menurut perjanjian tersebut Siam bersetuju akan melantik Penasihat Am kepada Raja Kelantan dan Sultan Trengganu akan tetapi perlantikan itu akan dikenakan syarat seperti berikut:
  1. Penasihat tersebut mestilah warganegara British yang sedang bertugas dengan kerajaan Siarn.
  2. Perlantikan mereka mesti dirundingkan dengan pihak Inggeris terlebih dahulu.
Syarat tersebut telah pun dirakamkan dalam balas-membalas nota rahsia diantara Inggeris dengan Siam dan kemudiannya perjanjian yang resmi mengenai soal Penasihat Am telah ditandatangani hanya antara Siam dengan Kelantan kerana Sultan Trengganu menolak perjanjian itu dengan Siam habis-habisan. Perlu ditegaskan disini bahawa Kerajaan Siam telah berusaha kuat melalui diplomasinya untuk mengelakkan syarat rahsia itu dan sebenarnya mereka telah mengadakan rundingan dengan Kerajaan Perancis sebagai satu cara untuk menghindari cita-cita Lansdowne.  Walau bagaimana pun pada akhirnya Landsdowne telah rnengatasi muslihat Siam itu dengan keputusannya untuk membincangkan masalah Siam itu secara langsung dengan Kerajaan Perancis. Maka langkah yang demikian itu menyebabkan Siam terpaksa menyetujui cadangan Inggeris mengenai Penasihat Am. Sesudah sahaja rundingan antara Inggeris dengan Siam pada akhir 1902 mengenai Kelantan dan Trengganu, Kerajaan Inggeris pun terus melangkah ke arah perpaduan dasar Inggeris dan Perancis terhadap Siam dan usaha itu tidak lama lagi berhasil sebagai Persetujuan Inggeris Perancis atau Entente Cordiale pada April 1904 yang meliputi bukan sahaja masalah Siam bahkan menyelesaikan juga masalah Mesir dan Maghrabi.
Dapat disimpulkan Perjanjian Inggeris-Siam 1909 bukannya hasil daripada persefahaman antara dua kuasa imperialis, iaitu Inggeris dan Perancis, pada 1904. Bahkan Kerajaan Inggeris telah mengambil langkah untuk mempertahankan kepentingannya di Negeri Melayu Utara terlebih dahulu lagi iaitu pada 1897. Oleh kerana Perjanjian Rahsia telah gagal bagi memperlindungi keperluan Inggeris menjelang awal kurun keduapuluh, maka Kerajaan Inggeris dengan rancak bergerak terhadap kelemahan Siam di Negeri Melayu Utara, terutamanya di Kelantan dan Trengganu. Satu soal pokok bagi sejarah Malaysia dalam semua pergerakan ini adalah mengapa Inggeris tidak mempunyai niat untuk mara keseluruh kawasan Melayu di Utara itu hinggalah ke Genting Kra. Sebagaimana yang telah disebutkan tadi, pada amnya Kerajaan Inggeris memang  memerhatikan kawasan  di selatan Genting Kra sebagai kawasan pengaruhnya sejak tahun 1870an akan tetapi pada waktu itu mereka tidak berniat untuk menakluki kawasan tersebut   Kemudian, manakala masalah antarabangsa mula timbul pada penghujung kurun kesembilan belas, Kerajaan Inggeris memandang berat khasnya kepada Perlis, Kedah, Patani, Kelantan dan Trengganu mungkin sebab negeri itulah yang berhampiran dengan Negeri Melayu Bersekutu. Pada awal kurun kedua puluh Kerajaan Inggeris telah dapat mengawasi kepentingannya di Perlis  dan Kedah dengan perlantikan seorang wakil(atau Consul) yang bertugas dengan melawat dua negeri tersebut serta membuat lapuran kepada Keraiaan. Sebaliknya keadaan di Pantai Timur pula merupakan satu masalah yang lebih serius sebab Raja Patani, Kelantan dan Trengganu dianggap  sebagai gagah dan bebas. Pendirian Inggeris terhadap negeri Pantai Timur telah pun dibuktikan sering kali kerana Raja Kelantan misalnya, telah memberi kemudahan untuk melombong dan berniaga yang seluasnya kepada seorang British, William Duff, tanpa sebarang persetujuan daripada pihak Siam. Alasan yang penting bagi ketinggalan Patani di dalam Perjanjian 1909 tidak boleh dinafikan adalah akibat kejayaan Siam pada 1902 manakala mereka telah dapat menawan Raja Patani. Setelah peristiwa itu Inggeris memang mengakui bahawa Patani lebih bergantung kepada Siam dan Kerajaan Penjajah di Tanah Melayu pada amnya menumpukan perhatiannya kepada Perlis, Kedah, Kelantan dan Trengganu sahaja. Selain daripada itu mengikut cara penetapan sempadan yang digunakan oleh kuasa imperialis pada masa yang lampau, terutama sekali cara Inggeris, adalah dengan menggariskan sempadan melalui puncak pergunungan. Di sini jelas sekali dapat diperlihatkan bahawa sempadan 1909 itu sangat sesuai bagi teori Inggeris itu sedangkan sekiranya Patani juga dimasukkan dalarn sempadan itu Inggeris tidak akan mencapai keperluan stratejiknya.

Selasa, 5 Julai 2011

Rencana Kampanye Pemilu Partai Politik di Thailand Selatan

Rencana Kampanye Pemilu Partai Politik di Thailand Selatan
by. Patani Fakta Dan Opin
Rencana Kampanye Pemilu Partai Politik di Thailand Selatan:
Partai Demokrat menetapkan 'Zona Pembangunan Khusus' di Selatan, dan Partai oposisi Puea Thai  lebih memilih bentuk 'Desentralisasi' di bahgian Propinsi Selatan.
 
Provinsi-provinsi di Thailand selatan yaitu Pattani, Narathiwat, Songkhla dan Yala adalah pusat-pusat konflik sejak tahun 2004 yang telah menewaskan lebih dari 4.600 orang.

Dalam beberapa bulan terakhir, serangan pejuang pro kemerdekaan Patani kian meningkat, dengan serangan-serangan bom mobil terhadap pangkalan dan pos militer serta menargetkan para pejabat negara. Pemerintah militer dan sipil Thailand kesulitan mengatasi kekerasan tersebut, meskipun telah menerjunkan lebih banyak pasukan dan mengetatkan pengamanan.

Imtiyaz Yusuf, profesor studi dan agama Islam di Universitas Assumption mengatakan kekerasan itu telah memicu desakan agar diusahakan solusi politik di kawasan itu.

Walaupun sebagian besar penduduk Thailand beragama Buddha, para penduduk di provinsi-provinsi di bagian selatan ini umumnya adalah Melayu Muslim yang merasa diabaikan oleh pemerintah pusat di Bangkok. Pejuang pro kemerdekaan Patani di selatan itu tidak pernah mengidentifikasi diri mereka atau tujuan mereka. Namun, mereka biasanya menargetkan orang yang dipandang sebagai simbol negara Buddhis Thailand atau orang-orang yang bekerja sama dengan mereka.

Wilayah ini tetap berada di bawah undang-undang darurat. Lebih dari 30.000 tentara, sekitar 20.000 infantri ringan dan polisi ditempatkan di empat provinsi itu. Para pengecam menuduh militer menggunakan tindakan opresif terhadap penduduk setempat.

Tetapi dengan pemilu dijadwalkan tanggal 3 Juli ini, baik partai Demokrat yang berkuasa dan partai oposisi Thai Puea berharap bisa menarik dukungan di wilayah tersebut.

Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva, pemimpin Partai Demokrat itu, pekan lalu menetapkan kebijakan 'Zona Pembangunan Khusus'. Tapi Panitan Wattanayagorn, juru bicara pemerintah, mengatakan reformasi itu tidak berarti adanya otonomi daerah. Ia mengatakan,”Ada berbagai kelompok studi yang mempelajari isu-isu ini disamping menciptakan zona khusus untuk kebutuhan penduduk setempat berdasarkan konstitusi saat ini. Konstitusi tersebut tidak memungkinkan pemisahan daerah itu sedemikian rupa sehingga mengurangi kedaulatan atau kesatuan negara. “

Untuk memenangkan suara di wilayah yang secara historis selalu didominasi oleh Partai Demokrat, partai oposisi Thai Puea lebih memilih bentuk 'Desentralisasi', tetapi bukan otonomi penuh.

Militer Thailand menentang langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk memberikan kekuasaan lebih besar kepada pihak sipil di kawasan yang masih berada di bawah undang-undang darurat. Para pengamat mengatakan militer Thailand khawatir setiap langkah menuju otonomi akan meningkatkan tuntutan pemberontak untuk memperoleh kemerdekaan penuh dari negara Thailand.

Seminggu menjelang pemilihan umum (pemilu), Kepolisian Thailand mengerahkan sebanyak 35 ribu personel untuk mengamankan 557 tempat pemungutan suara. Sejak pukul lima pagi, mereka sudah berjaga-jaga di setiap tempat pemungutan suara.

Deputi Kepala Komando Operasi Keamanan Dalam Negeri untuk Kawasan 4, Mayor Jenderal Akara Thiprote, mengatakan sekitar 20 ribu penduduk akan memberikan suaranya lebih dulu di tiga provinsi di Thailand selatan dan empat distrik di Songkhla. Sebanyak 11 ribu pasukan mengamankan jalannya pemilu kemarin.

Sebuah organisasi internasional menghimbau para pemimpin partai di Thailand agar meminta pendukung mereka mengakhiri kekerasan dan berhenti menghambat proses kampanye para pesaing mereka.

The Asian Network for Free Elections (ANFREL) yang didukung kelompok-kelompok dari sektor swasta di 11 negara, telah mencatat beberapa kasus ancaman dan intimidasi selama kampanye menjelang pemilu 3 Juli di Thailand, termasuk di antaranya kematian tiga kandidat akibat kekerasan.

ANFREL menyatakan berbagai insiden itu memunculkan pertanyaan serius mengenai kebebasan bergerak bagi para petugas kampanye, dan tidak kondusif bagi proses pemilu yang bebas dan bersih.

Seorang petugas pemilihan umum ditembak mati di pedalaman Thailand selatan pada Senin (20/6) hanya beberapa jam sebelum perdana menteri berkampanye di wilayah bergolak itu.

Pria itu, yang sedang tidak bertugas, adalah petugas kedua tewas pada bulan ini. Pemerintah menyatakan tidak jelas apakah serangan terkini tersebut terkait dengan pemungutan suara pada 3 Juli itu.

Warga Siam berumur 55 tahun, pemimpin kecamatan setempat, tewas oleh penyerang di Pikep ketika mengendarai sepeda motornya untuk pulang dengan istrinya dari pernikahan di Kabupaten Muang di Provinsi Yala.

Korban itu adalah petugas untuk Partai Demokrat berkuasa pimpinan Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva yang dijadwalkan tiba di daerah tersebut untuk lawatan ke tiga provinsi terselatan yang di bawah keadaan darurat sejak 2005.

Rabu, 29 Jun 2011

KEBANGKITAN KHILAFAH

KEBANGKITAN KHILAFAH
by.mykhilafah
Sejak kehancuran Daulah Khilafah pada 28 Rajab 1342H (3 Mac 1924), seluruh sistem Islam turut musnah. Sistem pemerintahan Islam yang selama ini telah menguasai dan memerintah hampir dua per tiga dunia kini telah pun lenyap. Sistem Khilafah yang telah menaungi manusia selama lebih dari 13 abad dan yang telah membawa rahmat ke seluruh alam, kini telah berkubur dengan runtuhnya Daulah Khilafah lebih kurang 90 tahun yang lalu,. Justeru, generasi yang hidup selepas itu, hinggalah ke hari ini, sudah tidak lagi dapat merasai hidup di dalam Daulah Islam. Mereka sudah tidak dapat merasakan hidup di dalam sebuah Negara Islam yang benar-benar menerapkan sistem pemerintahan Islam.
 

Oleh yang demikian, di antara pelbagai kesulitan yang wujud di tengah-tengah umat Islam saat ini adalah bagaimana untuk mendekatkan gambaran sistem pemerintahan Islam di dalam benak mereka. Ini kerana, gambaran yang ada sekarang di dalam pemikiran umat Islam sudah tidak dapat lari dari sistem demokrasi kufur ciptaan Barat. Fikiran umat Islam sudah tidak mampu menggambarkan bentuk sistem pemerintahan Islam yang sebenar sebagaimana yang ada pada zaman Rasulullah SAW dan para Khulafa’ Rasyidun. Jika ada dalam gambaran mereka sekalipun tentang sistem pemerintahan Islam, mereka tidak dapat lari dari menggambarkannya dalam acuan sistem demokrasi yang ada sekarang. Dengan kata lain, mereka cuba menggambarkan atau menyesuaikan sistem Islam mengikut kehendak/acuan demokrasi yang sedia ada, tanpa dapat keluar darinya.

Kesulitannya tidak hanya berhenti di situ. Terdapat pula kesulitan-kesulitan lain iaitu untuk mengubah pemikiran umat Islam yang telah teracuni oleh tsaqafah Barat. Tsaqafah ini benar-benar telah menjadi senjata utama Barat dalam menghadapi umat Islam. Tsaqafah inilah yang telah Barat hunjamkan ke dalam tubuh Daulah Islam sehingga melahirkan kesakitan yang amat mendalam di dalam kehidupan umat Islam. Barat kemudian membawa senjata ini (tsaqafah) dan memberikannya kepada anak cucu Daulah, di saat senjata tersebut masih menitiskan darah ‘ibunya’ (Daulah Islam) yang baru sahaja di bunuhnya. Tatkala Barat membawa senjata ini, mereka berkata kepada anak-cucu Daulah dengan angkuh dan sombong, “Sungguh aku telah membunuh ibu kalian yang memang patut dibunuh kerana penjagaannya yang buruk terhadap kalian. Sekarang aku menjanjikan penjagaan yang lebih baik yang akan membuatkan kalian merasakan kebahagiaan hidup dan kenikmatan yang nyata.” Kemudian, anak-anak itu pun menghulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan sang pembunuh yang mana senjatanya masih terhunus dan berlumuran dengan darah ibu mereka!

Semenjak kematian ibu mereka, umat Islam sesungguhnya telah kehilangan orang yang selama ini mengasuh dan membesarkan mereka. Umat Islam sudah mula lupa akan orang yang selama ini menjaga dan menyayangi mereka. Racun tsaqafah yang dicucuk oleh Barat telah membiuskan mereka dari semua ini, sehingga mereka terus alpa dan tenggelam dalam tsaqafah yang menyesatkan ini. Apabila berlaku sesuatu yang mengetuk dan menghantuk mereka, maka sekali-sekala umat Islam tersentak lalu bangkit untuk menyatakan kemarahannya kepada Barat. Tetapi sayangnya pada masa yang sama mereka masih tetap mengambil tsaqafah Barat. Tatkala mereka bangkit untuk menentang Barat, dalam masa yang sama mereka masih berpegang erat dengan sistem yang dibawa oleh Barat. Padahal dengan tsaqafah dan sistem itulah yang telah mengakibatkan mereka selama ini terjajah dan berada di dalam kehinaan. Dengan kejahatan yang dilakukan Barat dari masa ke semasa, umat Islam terus terhantuk lagi, lalu mereka bangkit sekali lagi untuk memerangi Barat, namun dalam masa yang sama mereka masih menghulurkan tangan kepada Barat dari arah belakang dengan mengambil racun-racun yang mematikan itu, lalu meminumnya. Hal ini berlaku berulang-ulang kali. Lantaran itu, umat Islam terus tersungkur di dalam kelemahan, kekalahan dan kehinaan di hadapan Barat.

Justeru, pokok persoalannya sekarang adalah umat Islam itu wajib kembali kepada ajaran Islam, bukannya kepada ajaran Barat dan seterusnya menegakkan semula Daulah Islam yang akan menerapkan segala hukum-hakam Islam secara kaffah (menyeluruh). Umat Islam wajib kembali menerapkan sistem Islam di bawah naungan Daulah Khilafah kerana hanya dengan adanya Negara Islam ini, barulah hukum Allah dapat diterapkan dan umat Islam dapat dipersatukan kembali dengan sebuah kekuatan yang luarbiasa. Kita tidak mahu negeri-negeri umat Islam yang ada sekarang terus-menerus berada dalam keadaan lemah dan terpecah-belah dan menerapkan sistem demokrasi, kerana inilah sebenarnya yang dimahukan oleh Barat. Kita mahukan penyatuan semua negeri umat Islam di bawah seorang Khalifah yang menerapkan sistem yang berasal dari langit. Oleh itu, kita mesti bersatu membangun Daulah Islam yang satu untuk keseluruhan umat Islam. Dalam hal ini, kita bukannya mahu mendirikan sebuah negara yang hanya ‘dikenali’ dengan Negara Islam, namun menerapkan sistem demokrasi, yang nyata-nyata sebuah sistem pemerintahan kufur. Apa yang kita mahukan adalah sebuah Negara Islam (Daulah Khilafah) yang menerapkan sistem-sistem pemerintahan Islam semata-mata.

Sesungguhnya orang-orang yang meniti jalan dakwah untuk mewujudkan Daulah Islam mestilah mempunyai pemikiran dan pengetahuan yang jernih akan segala sistem yang bakal diterapkan di dalam Daulah Islam nanti. Sebagaimana kita meyakini firman Allah bahawa deen Islam ini sempurna, maka kita juga meyakini bahawa sistem pemerintahan Islam adalah sempurna. Justeru, kesempurnaan sistem Islam itu bermaksud sistem itu ‘berdiri sendiri’ tanpa memerlukan ‘pelengkap’ dari sistem yang lain. Dengan kata lain, umat Islam tidak memerlukan sistem demokrasi, baik sebagai ‘pelengkap’, ‘penghias’, ‘penumpang’, apatah lagi sebagai ‘asas’ untuk kita melaksanakan sistem pemerintahan Islam! Kerana itu, Hizbut Tahrir telah memperjelas dan merincikan segala bentuk sistem pemerintahan Islam di dalam kitab-kitabnya, yang kesemuanya disertakan dengan nas-nas dari Al-Quran dan As-Sunah dan Hizbut Tahrir menawarkan kepada setiap Muslim untuk mengkaji kitab-kitab ini di dalam usaha kita untuk mendirikan sebuah Negara Islam. Kitab-kitab keluaran Hizbut Tahrir seperti Ajhizah Daulah Al-Khilafah Fi Al-Hukm Wa Al-Idarah (Struktur Negara Khilafah Dari Segi Pemerintahan dan Administrasi), Nidzamul Hukmi Fil Islam (Sistem Pemerintahan Di Dalam Islam), Al-Amwal Fi Daulah Al-Khilafah (Harta-Harta Dalam Daulah Khilafah), Nizamul Iqtisadi Fil Islam (Sistem Ekonomi Dalam Islam) dan lain-lain, membahaskan hal-hal ini dengan terperinci.

Kemenangan Adalah Janji Allah Dan Ia Pasti Datang

Sejak Barat berjaya menghancurkan sistem pemerintahan Islam dengan menghancurkan Daulah Khilafah, golongan kuffar Imperialis ini telah ‘menghadiahkan’ sistem pemerintahan demokrasi kepada umat Islam dan menghiaskannya dengan solekan yang begitu indah agar umat Islam terus terpukau dengan kecantikannya. Dalam masa yang sama, kuffar Barat ini melakukan serangan yang bertubi-tubi terhadap usaha untuk menegakkan semula Khilafah. Mereka akan sokong dan redha dengan perjuangan umat Islam yang menginginkan demokrasi, namun mereka akan benci dan menghalang segala usaha umat Islam yang menginginkan Khilafah. Mereka melontarkan pelbagai kata-kata dan propaganda jahat bagi menggambarkan kepada dunia bahawa gerakan yang ingin menegakkan Khilafah adalah gerakan yang ekstrem, radikal, teroris dan pelbagai macam tohmahan lagi. Mereka berusaha untuk menakutkan dunia, khususnya dunia Islam sendiri bahawa Khilafah merupakan sebuah kekuasaan yang penuh dengan kejahatan dan kekolotan.

Namun, dengan usaha yang bersungguh-sungguh dari setiap golongan yang ikhlas untuk menolong agama Allah, semua propaganda jahat kuffar itu dapat di atasi sedikit demi sedikit. Seruan menegakkan Khilafah yang diseru oleh Hizbut Tahrir di seluruh dunia telah membuka mata umat Islam dari masa ke semasa. Hal ini sesungguhnya semakin menakutkan kuffar Barat (akan kemunculan semula Khilafah). Kaum Muslimin di seluruh dunia mulai sedar dan mengambil perjuangan ini sebagai agenda utama (vital) dan semakin sedar akan kewajipan mengembalikan Khilafah ini. Kaum Muslimin juga mula sedar bahawa Khilafah merupakan satu-satunya alternatif bagi segala kerosakan, kezaliman, penjajahan, perpecahan, kekacauan, pembunuhan dan sebagainya yang kini sedang melanda dunia Islam, yang diakibatkan oleh sistem yang buruk dan penguasa yang buruk.

Kita telah menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri dari masa ke semasa dan sejak beberapa bulan yang lalu di beberapa negeri kaum Muslimin seperti Tunisia, Mesir, Yaman, Bahrain, Libya, Syria dan lainnya, terjadi pergerakan besar-besaran umat Islam menentang para penguasa mereka yang zalim yang sekaligus adalah ejen Barat. Para penguasa ini memerintah dengan kuku besi dan menzalimi rakyat selama puluhan tahun lamanya. Mereka menghisap darah umat dan menerapkan undang-undang kufur mengikut arahan tuan-tuan mereka yang kafir. Mereka merompak kekayaan umat bersama tuan-tuan mereka, melanggar kehormatan umat dan menelantarkan umat, malah sampai ke tahap membunuh umat Islam walaupun rakyatnya sendiri. Ringkasnya, para diktator firaun masa kini telah sampai kepada puncak kejahatan dan melampaui semua batasan, sehingga tahap kesabaran umat telah hilang. Umat lalu keluar ke jalan-jalan di mana tidak ada seorang pun atau sesuatu pun yang akan dapat memalingkan mereka dari jalannya. Umat yang dizalimi ini telah melupakan rasa takut dan sampai kepada tekad bulat bahawa mereka tidak akan meninggalkan medan dan tidak akan kembali ke rumah-rumah mereka sehingga para penguasa zalim itu jatuh. Berdirinya umat ini telah merealisasikan berakhirnya usia para penguasa dengan membenarkan sabda Rasulullah SAW

“kemudian akan ada mulkan jabariyyan (kekuasaan diktator) dan akan tetap ada atas izin Allah kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya”
[HR Ahmad].

Para penguasa zalim seperti Ben Ali, Husni Mubarak dan orang-orang lain sebelum mereka, satu demi satu telah dicampakkan ke gaung sejarah yang busuk. Tuan-tuan kafir mereka tidak memperlihatkan belas kasihan sedikitpun terhadap mereka dan membiarkan mereka di akhir hidup mereka yang hitam! Manakala rakan-rakan sejawat mereka di beberapa negeri yang lain, ada yang masih belum sedar dan ada yang masih berusaha mempertahankan diri mereka dari dicampak ke gaung yang sama. Sama ada mereka mahu atau tidak, sesungguhnya sekejap lagi akan tiba hari-hari hitam mereka di mana penduduk langit dan bumi tidak akan menangisi pemergian mereka. Dengan izin Allah SWT, zaman kekuasaan mereka yang penuh kejahatan ini akan segera berakhir dan akan diganti dengan sebuah kekuasaan yang penuh berkat dan rahmat, yang mana kita kini sedang berjalan ke arahnya. Inilah jalan penyudah yang baik untuk kita semua yang diberitakan oleh Rasulullah SAW

“Kemudian akan kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian” [HR Ahmad].

Sesungguhnya kaum Muslimin di belahan mana sahaja dunia ini, adalah sebahagian dari umat yang satu. Maka mereka dengan izin Allah tidak akan ketinggalan dari arus kebangkitan saudara-saudara mereka. Ibarat tubuh yang satu, mereka bersama-sama bangkit dan bersatu untuk menumbangkan rejim yang opresif dan ingin menggantikannya dengan Islam. Para penguasa dan kakitangan mereka yang zalim ini sudah semakin sedar bahawa masa-masa untuk mereka berkuasa dengan kejahatan mereka, hanya tinggal beberapa hari sahaja lagi. Pintu sampah sejarah sedang terbuka luas menunggu mereka. Lebih dari itu, azab yang pedih di sisi Allah sedang menunggu mereka di akhirat yang masanya bukanlah lama sangat dari sekarang!

Wahai kaum Muslimin! Sungguh telah tiba waktunya di mana tembok ketakutan sudah sepatutnya roboh dari diri-diri kalian. Demi menegakkan agama Allah, kalian wajib berusaha menempuh jalan jihad yang lebih afdhal (utama). Rasul SAW bersabda,

“Ketahuilah, sesungguhnya jihad yang paling afdhal adalah kalimat (mengatakan) yang hak dihadapan penguasa yang jahat”.

Maka, berjihadlah kalian dengan kalimah yang hak ini dan janganlah kalian takut kecuali kepada Allah. Usahlah kalian gentar kepada pasukan keselamatan negara yang mematai kalian, kerana mereka itu tidak akan mampu untuk menghalang orang Mukmin dari berjuang menegakkan agama Allah dan amat hinalah mereka yang bersungguh-sungguh menghalang orang Mukmin dari menegakkan kebenaran. FirmanNya,

“Maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu”
[TMQ al-Baqarah (2):150].

Wahai kaum Muslimin! Hizbut Tahrir menyeru kalian dan menyeru golongan yang mempunyai pengaruh dan kekuatan (ahlul quwwah) untuk bergabung dengan barisannya mulai hari ini, sebelum tibanya hari yang mana kalian diminta persaksian. Oleh kerana keinginan dan kecintaan Hizbut Tahrir untuk mendapatkan kebaikan buat kalian, maka Hizbut Tahrir menyeru kalian, untuk memperlihatkan, mengingatkan dan memberikan khabar gembira.

Pertama: Untuk memperlihatkan kepada kalian kemuliaan yang kalian miliki pada suatu masa dahulu ketika Khilafah masih berdiri dan kehinaan yang sekarang ini menimpa kalian setelah lenyapnya Khilafah.

Kedua: Untuk mengingatkan kalian bahawa kalian berupaya untuk mengalahkan kaum kuffar penjajah dan negara asuhan mereka yakni Yahudi. Bahkan kalian dengan izin Allah akan menjadi umat yang terkuat dan terbaik di dunia ini, dengan mendirikan Khilafah dan seterusnya kalian akan mendapat keredhaan Allah serta kembali kepada kemuliaan.

Ketiga: Berita gembira yang kami serukan adalah bahawa sesungguhnya Hizbut Tahrir telah berjanji kepada Allah dan RasulNya serta kaum Mukmin bahawa ia akan terus berusaha untuk mendirikan Khilafah melalui thariqah (jalan) yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW. Walau betapa besar badai yang melanda sehingga ruh terpisah dari jasad sekalipun, namun Hizbut Tahrir akan tetap berusaha untuk merealisasikan janji Allah dan RasulNya untuk meraih kemenangan. Semoga Allah memberi kekuatan dan melindungi pejuang-pejuang di jalanNya.

Wahai kaum Muslimin! Sesungguhnya dunia ini akan terus berputar, sebagaimana pada zaman pengutusan Nabi SAW, Rom dan Parsi telah dikelilingi oleh orang-orang kuat yang terpedaya dengan kekuatan serta ke-egoan mereka. Mereka tidak memperhitungkan negara lain kecuali negara mereka sebagai negara yang besar dan kuat. Mereka langsung tidak mempertimbangkan kekuatan Islam yang ketika itu telah mula meresapi jiwa umat Islam, bahkan mereka memandang orang Islam seperti sama di zaman Jahiliyyah. Mereka hinakan risalah Islam ke tahap di mana Kisra mengutuskan kepada wakilnya di Yaman dengan berkata kepadanya, “Aku mendengar bahawa ada seorang lelaki di Mekah menganggap dirinya Nabi, pergilah kepadanya dan bawakannya kepadaku!”. Kemudian beberapa tahun selepas itu, setelah berdirinya Daulah Islam, Rasulullah SAW telah mengutus para utusan kepada Raja-Raja dan apabila ia sampai kepada Kisra, Kisra telah mengoyak-ngoyak surat Rasulullah. Selepas itu kerajaan Kisra pun hancur terkoyak-rabak, membenarkan sabda baginda SAW “Allah mengoyak-ngoyakkan kerajaannya”.

Khatimah

Wahai kaum Muslimin! Kembalinya Negara Islam bukanlah sebuah mimpi. Bukan pula sebuah khayalan atau imaginasi. Daulah Khilafah ini dahulunya pernah wujud dalam bentuk yang nyata. Ia benar-benar wujud dan telah memenuhi relung-relung sejarah selama lebih 13 abad. Apatah lagi kebangkitannya yang akan datang untuk kali yang kedua telah pun dikhabarkan oleh Junjungan yang mulia, Muhammad SAW. Maka dari itu, Daulah Islam yang akan kita dirikan ini juga akan pasti wujud secara nyata dengan izin Allah, sebagaimana wujudnya di masa lampau. Siapa sahaja yang berjuang ke arahnya sudah mulai nampak dan terasa akan kehadirannya. Hari demi hari yang berlalu, ia semakin hampir dan hampir. Keharumannya sudah mulai tercium dan sinaran cahayanya sudah mulai kelihatan. Betapa panjang dan gelap gelitanya malam, namun dengan kehendak Allah Azza wa Jalla, sinar fajar akan pasti muncul jua. Begitulah kekuasaan Islam, ia pasti akan menjelma dan apabila ia telah muncul, tidak ada satu kekuatan pun yang dapat menghalangnya atas kehendak Allah. Islam telah berkuasa di muka bumi lebih dari 13 abad dengan segala kemuliaan yang Allah berikan kepada penganutnya dan Insya Allah, putaran dunia akan berulang lagi di mana kekuasaan Islam akan kembali semula...dan kali ini, kembalinya kekuasaan Islam bukan sahaja tidak dapat dihalang oleh mana-mana manusia, namun ia akan kembali menguasai seluruh penjuru dunia tanpa kecuali. Sabda Rasulullah SAW,

“Sesungguhnya Allah telah menampakkan (seluruh) bumi di hadapanku, sehingga aku (dapat) menyaksikan bahagian-bahagian timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan menjangkau bahagian-bahagian bumi yang ditampakkan kepadaku” [HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah dari Tsauban ra].

CERITA UMMAH PATANI DI MAJALLAH2 MALAYSIA

CERITA UMMAH PATANI DI MAJALLAH2 MALAYSIA

Makan ''Nasi Goreng Budu Kakak''

Anak pengganas. Anak penjahat. Anak pembunuh.

Itulah gelar-gelar yang sering dilempar kepada anak-anak yang ayah mereka kena tahan di bawah akta yang berkaitan dengan keselamatan negara dalam konflik selatan Thai di sekolah oleh rakan-rakan.Mereka dibuli! Ada anak-anak ini terutama laki-laki membelas kembali ejekan itu dengan bergaduh."Aku nak tumbuk mereka,"tegas seorang anak yang ayahnya ditangkap. Bagi murid perempuan pula banyak berdiam, mereka memendam perasaan yang dalam bila mendapat diejek sebagai anak pengganas atau penjahat. Tidak kurang juga anak-anak ini tidak mahu ke sekolah lagi kerana tertekan dan malu.


Saya telah menyelami kesulitan dan payahnya hidup para anak-anak ini.Dan mereka ini akan tercicir dari persekolahan, sebahagian besarnya. Saya mudah tersentuh bila anak-anak tidak dapat sekolah kerana kemiskinan. Ia mengingatkan saya masa dulu, hampir-hampir diberhentikan sekolah.Makan nasi putih dan nasi cicah budu, itu menu biasa atau nasi goreng budu setiap pagi buat bekal ke sekolah. Untuk menyatakan simpati dan juga bantahan, saya didikasikan sebuah cerpen untuk anak-anak ini, Nasi Goreng Budu Kakak;


Seorang pegawai tentera lengkap beruniform menatap mereka." Kami memohon maaf Puan. Kami terpaksa menahan suami Puan di bawah Undang-Undang Darurat kerana kami syak dia...."


Fauzeeyah bingkas bangun."Bengong! Dulu tahan ayah kami ikut Undang-Undang Tentera! Sekarang ubah pula kepada Undang-Undang Darurat! Entah esok lusa , tahan ayah kami ikut Akta Keselamatan Dalam Negeri pula!’’ Fauzeeyah melepas rasa geram dengan menumbuk meja.Adik-adiknya jadi bersemangat meskipun mereka tidak faham apa yang dikata kakak mereka.


Sejak ayahnya ditangkap, dia banyak membaca perihal undang-undang dan perlembagaan negara, dari sini, dia baru tahu ada tiga set undang-undang yang dipakai di wilayah bergolak ini. Pertama, Undang-Undang Tentera yang memperuntukkan masa selama tujuh hari buat anggota keselamatan menahan suspek sebelum didakwa atau dibebaskan jika kekurangan bukti. Kedua, Undang-Undang Darurat yang membolehkan pihak berluasa menahan orang disyaki selama tiga puluh hari. Dan ketiga, Akta Keselamatan Dalam Negeri yang memberi kuasa kepada tentera menahan tanpa bicara untuk satu tempoh terhadap suspek. Malangnya, pihak berkuasa telah mengubah taraf tahanan seseorang dari satu undang-undang kepada undang-uandang yang lain termasuk terhadap ayahnya. Ini tidak adil!, keluhnya dalam hati. Dia sedar dia budak kecil baru berumur empat belas tahun, air mata sudah pun meleleh turun.Tangan emaknya sudah mengusap di kepalanya seraya memohon maaf kepada pegawai itu atas kelakuan tadi. '' Kami datang hanya mahu melawat ayah budak-budak ini. Boleh?''


Lanjut baca majalah Aniqah bulan Mei 2011.
 

Sebuah Catatan Perjalanan Pulang

Selalunya, saya akan mengikut jalan jauh setiap kali pulang ke kampung di Patani dengan pengangkutan awam, sesudah subuh, lintas sungai Golok, melalui wilayah Narathiwat, Yala dan Patani. Sedar-sedar, azan maghrib berkumandang bila saya menjejak kaki di Patani.Perjalanan pulang yang ''panjang'' inilah yang membuah catatan, sebuah cerpen, ''Perjalanan ke Sebelah Sana'' yang dimuat dalam majalah al-Muslimah, edisi Jun 2011.

''Kata ibu, saya dilahir di sebuah tempat bernama Patani di negara Thailand. Wow, saya lahir di luar negara! Jadi, saya ketika sekolah rendah dahulu saya begitu bangga mengatakan saya juga kacukan; kacukan Melayu-Siam. Tengok, saya berkulit putih, dan tidak seperti Melayu totok, tahu! Masa itu saya tidak faham apa-apa, yang saya tahu, Negeri Thai sebuah negara yang hebat; sebuah negara yang tidak pernah dijajah!; negara yang pernah melahirkan ratu cantik dunia!


Hinggalah, satu malam--saya sudah sekolah menengah ketika itu--kami duduk menonton berita. "Apalah, bodoh betul. Nak merdeka? Tapi senjata tak ada. Sepatutnya mereka bangga hidup di negara yang tidak pernah dijajah kuasa asing."


"Diam! Apa kau tahu!?" Suara ayah keras membentak setelah reaksi spontan saya bila berita mengenai pergolakan di selatan Thai dikhabarkan. Semua diam. Hanya suara wartawan TV3 Azura Zainal Ratin jelas di udara. Saya jadi terketar-ketar, kecut perut. Ayah bangun, dan keluar rumah dengan menghempas pintu.


Saya perlahan-lahan ke bilik, membenam kepala ke katil dan mula menangis. Sebentar, terasa tangan ibu datang mengusap-ngusap di kepala. "Baca buku ini. Kamu akan faham mengapa ayah begitu garang sekali tadi." Ibu menghulur sebuah buku lusuh bertulis jawi. Saya menatap, 'Sejarah Kerajaan Melayu Patani' yang ditulis Ibrahim Syukri. Semalaman, saya membaca habis buku itu. Akhirnya....saya menangis terisak-isak, azan subuh pun kedengaran.


Sejak itu, saya mula mencari dan membaca bahan bacaan tentang Patani. Dan azam untuk menjejak kaki di bumi Patani, tercapai juga hari ini, pagi ini. Saya sudah di pekan Sungai Golok.''

Lanjut baca di halaman muka surat 78, majalah al-Muslimah.