Selasa, 21 Disember 2010

TRAGEDI PEMBUNUHAN DAN PENYIKSAAN YANG KEJAM

TRAGEDI PEMBUNUHAN DAN PENYIKSAAN YANG KEJAM
By : Imaduddin Bahi (Mr. JR)
 
(Mr.JR News)Persoalan siapa yang kejam tidak perlu di ungkapkan lagi, buktinya sudah di depan mata kita semua. Segala cacian memang layak kita berikan kepada siam si kafir laknatullah. Pada tanggal 18 dec 2010 ditemui mayat yang disksa dan dibunuh dengan kejam oleh siam.  Pemuda ini dikenal pasti sebagai pelajar pondok/pesantren Benang Bandang di wilayah Pattani. Si mangsa tinggal bersama keluarga di Pohon Jenerih, kayu Bokok, Raman Yala.  Salah seorang dari pemuda yang terbunuh itu dikenal pasti bernama Mohd Kidri Bin Abd Rahman yang baru berusia 13 tahun.

 
Dia dikatakan keluar dari tempat belajarnya pada tanggal 17 dec 2010 bertepatan dengan hari juma’at. Beliau dikatakan pergi mengerjakan solat juma’at dan keluar dari tempat belajarnya setelah selesai mengerjakan solat jum’at karena ingin melawat orang tua temannya yang sedang sakit di hospital. Bermula pada waktu itulah keberadaannya tidak lagi diketahui. Sehinggalah mayatnya ditemui pada hari sabtu pada tanggal 18 dec 2010. Anak bongsu ini ‘pergi’ meninggalkan kedua orang tuanya dan tiga adik-beradik yaitu, dua abang dan seorang kakak.

Dari mayat mangsa yang ditemui dapat kita simpulkan bahwa beliau telah mengalami pemyiksaan yang berat. Ada kesan bakar pada mukanya, di badan dan kepala terdapat kesan tetakan dari senjata tajam, dan tangannya hancur.
Apa tanggapan keluarga beliau tentang kejadian ini dan telah kita ketahui bahwa kesedihan yang teramat sangat sedang menimpa mereka. Satu hal yang harus kita sadari yaitu manusia tidak akan luput dari musibah. Musibah yang menimpa kaum muslimin adalah berfungsi sebagai penghapus dosa karena manusia tidak lepas dari melakukan dosa dan juga sebagai ujian kenaikan darjat di pandangan Allah SWT apabila kita sabar menerimanya. Bukan kaum muslimin sahaja yang melakukan yang ditimpa musibah malah kaum kafir turut merasainya yaitu sebagai azab dari Allah SWT untuk hukuman dari pembangkangan mereka.
Yang harus kita pertanyakan sekarang adalah “apa mutiara disebalik musibah” ini. Sampai bilakah akan kita biarkan kejadian ini berlanjutan?! Belum sadarkah mereka?

Sumber:
http://www.facebook.com/notes/jeritan-rakyat/tragedi-pembunuhan-dan-penyiksaan-yang-kejam/140924972629641
http://harampatah.blogspot.com/2010/12/siapa-yang-membunuh-anak-pondok-benae.html
http://www.mkn-yala.com/phpbb/viewtopic.php?t=476
Jeritan Rakyat

HORMATI KEADILAN DAN HAK ASASI DI PATANI

HORMATI KEADILAN DAN HAK ASASI DI PATANI
By: Imaduddin Bahi (Mr. JR) 
 
Hak Asasi Manusia (HAM) pada hakikatnya harus terwujud semenjak dari kita lahir. Dengan adanya HAM, manusia tidak boleh membeda-bedakan status, golongan, keturunan, jabatan, dan sebagainya. Inilah layaknya kehidupan rakyat Patani, Tapi apakah rakyat Patani dapat menikmati hak-hak ini? Malah mereka bukan sahaja tidak mendapat hak-hak mereka bahkan mereka di perlakukan dengan kejam oleh pemerintah Thailand.
1.      Hak untuk hidup, hak untuk memperoleh pendidikan,
2.      hak untuk hidup bersama-sama seperti orang lain,
3.      hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama,
4.      hak untuk mendapatkan pekerjaan.
Inilah hak yang seharusnya mereka kecapi setelah mereka dilahirkan. Bagi rakyat biasa, mereka hanya menganggap ini hanya mimpi dan berharap suatu hari mereka akan menikmati kebebasan ini tapi bukan di dunia, yaitu di Syurga impian.

Pesan Sayyidina Ali : Taatilah hak-hak Allah dan hak-hak orang lain dan ajaklah keluarga dan teman-temanmuserta rakyat-rakyatmu untuk melakukan hal yang sama. Dan bila yang terjadi sebaliknya, maka kau sudah berbuat zalim, pada dirimu sendiri juga pada kemanusiaan. Pada saat itu,bukan hanya manusia, tapi juga Allah akan menjadi musuhmu. Siapa yang bagi Allah menjadi musuh, maka dia akan jatuh. Sampai akhirnya ia merasakan dosanya begitu dalam dan memohon dengan sangat ampunan dari-Nya.

Tidak ada yang lebih bisa mengubah nikmat Allah dan mempercepat azab-Nya selain tidakan zalim. Sungguh Allah mendengar doa orang-orang yang terzalimi dan Dia maha Mengawasi orang-orang yang berbuat zalim.

Mengikut pandangan mata kasar saya, inilah apa yang diperjuangkan oleh pejuang-pejuang di Patani. Demi sebuah arti yang digelar ‘kebebasan’ ini mereka rela mengorbankan harta dan nyawa. Walaupun nama-nama beliau tidak tercatat dimata dunia, walaupun nama mereka tidak disebut-sebut, dan walaupun kubur mereka tidak kelihatan tapi segala budi dan pengabdiannya pada agama itu disanjung oleh Allah dan mereka di tempatkan di tempat yang terhormat yaitu Syurga Firdaus yang abadi.

Wahai prajurit pembela agama! Demi Tuhan yang engkau imani, demi Nabi yang engkau muliakan, demi kitab suci yang engkau bentengkan, demi rakyat yang engkau lindungi. Kami disini yakin! Yakin! Yakin! Dan seyakin-yakinnya bahwa perjuanganmu tidak akan sia-sia, tidak akan terputus dengan pemergianmu, karena masih ramai pemuda yang menjerit kelaparan akan kebebasan yang sedang menyambung langkah-langkahmu sekarang ini.

Wahai penjajah sampah dunia! Dan atas nama Tuhan kau berlagak seperti Tuhan, kau runtuhkan azam pemuda kami, kau nodai fikiran kami, kau perkosa anak gadis kami, kau bunuh abang kami, kau tangkap bapa kami. Dengan tegas kami berkata. Kau harus takut! Takut! Takut! Setakutnya karena, para Pemuda Patani tumbuh sebelum patah, berganti sebelum hilang!!




Sumber: http://www.facebook.com/home.php?#!/note.php?note_id=139678562754282&
id=100001483982042
Jeritan Rakyat

Selasa, 14 Disember 2010

KENAPA ANAK MELAYU SUKA BERBICARA DALAM BAHASA SIAM

KENAPA ANAK MELAYU SUKA BERBICARA DALAM BAHASA SIAM
By : Imaduddin Bahi

Kehidupan ini ibarat perjalanan meredah hutan rimba yang penuh pepohonan yang tinggi dan rendah, besar serta kecil, dan tidak luput juga ada duri-duri dan belukar yang senantiasa menghalangi jalan kita menuju keredhaan Ilahi. Dalam perjalan menempuh dunia yang kotor ini juga terdapat bercabang-cabang pilihan jalan untuk kita lewati. Persoalannya adalah bagaimana kita menyusun langkah kita dalam perjalanan panjang ini. Ada yang putus asa dan terbaring dipinggir jalan, ada yang berjalan sambil mengeluh  dan mencemuh pada pencipta, dan ada yang berlari meredah hutan semak berduri sambil berteriak ‘Allahu Akbar, jadikan darah ini sebagai saksi ketaatan ku’.
Seperti yang kita lihat, setiap Negara pasti memiliki fenomena-fenomena yang terkait dengan pendidikan,ekonomi, dan politik. Disini akan disajikan informasi tentang fenomena yang berlaku secara terang-terangan di Patani tetapi disembunyikan dimata dunia. Ini adalah karena tiada keadilan dan hak bangsa melayu patani telah dipijak-pijak oleh pemerintah siam. Apa yang diterima oleh bangsa melayu di patani hanyalah sekatan-sekatan, keterbatasan, dan pemaksaan dalam kehidupan.
Jika ditinjau dari aspek pendidikan, yaitu dari segi bahasa dalam percakapan seharian. Semenjak dari sekolah dasar lagi anak-anak melayu dididik untuk berbicara dalam bahasa Thai, ini dapat dikatakan pemaksaan secara lembut yang sukar kita lihat dan yang jarang kita titik beratkan. Bagaimana anak-anak tidak tertarik untuk bercakap bahasa siam, karena mereka telah ‘dibasuh’ fikirannya tentang kepentingan bahasa thai dan kelemahan bahasa melayu. Bahkan murid akan di hukum jika berbicara dalam bahasa melayu. Dan pada akhirnya berbicara bahasa siam telah menjadi kebiasaan dan menjadi bahasa seharian sehinggalah mereka dewasa.
Marilah kita berubah dari jajahan kafir kepada kemerdekaan dalam islam

Akhirnya kebiasaan ini mereka bawakan sehingga kealam perkuliahan.  Apa yang paling menyedihkan adalah ada yang merasa bangga jika dapat bercakap siam dengan lancar, bahkan dengan megah mereka berbicara bahasa siam sesama melayu dan menunjuk-nunjuk pada orang luar tentang bahasa mereka yaitu siam. Tapi akibat yang terjadi adalah sebaliknya. Apa yang mereka banggakan itu ternyata menjadi satu penghinaan pada bangsa melayu patani dimata orang luar. Mereka bahkan mengejek-ejek bahwa “bangsa melayu patani tidak sedar diri,  bukan bumi sahaja dijajah, malah sanggup membiarkan fikirannya juga turut terjajah. Wahai saudaraku, ingatlah Amaran dari Allah, "Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah maha mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang".(QS 39:53).
Kita adalah seorang pengembara, tentu saja kita mampu memilih jalan kita sendiri, tapi yang kita tidak mampu memilih adalah siapa musuh kita dalam perjalanan tersebut. Sudah tentu hati kecil kita menjawab, ‘siam musuh kami’. Tapi bagaimana cara menentang mereka? Ini karena mereka telah menjajah bangsa melayu patani dalam seluruh segi, kecuali jiwa . Tapi apakah mampu jiwa-jiwa kita menentang mereka?

Wahai rakyat patani kalian sayangilah bahasa ibunda kamu

Sumber: http://www.facebook.com/update_security_info.php?wizard=1#!/note.php?note_id=139481089440696&id=100001483982042
 Jeritan Rakyat

Ahad, 12 Disember 2010

Keciciran Pelajar Melayu Patani

Keciciran Pelajar Melayu Patani
Oleh: Isma Ae Mohamad

Pahit untuk ditelan tatkala melihat anak-nak Patani ramai yang tercicir dari arus pendidikan samaada perdana Thailand mahupun aliran sekolah agama atau tradisional pondok. Walaupun tidak dapat dibuktikan melalui data-data tetapi masalah ini dapat dilihat di kalangan masyarakat Patani.

Jika kita melawat ke kampung-kampung di Selatan Thai khususnya tiga wilayah bergolak, kita dapat merasai hakikat ini. Ataupun pergilah ke restoran-restoran Tom Yam di sini ( Malaysia), tentu ada anak-anak Patani yang selayaknya di bangku sekolah berkerja di situ. Dan ia bukan rahsia lagi.Ramai antara mereka ini berumur bawah 18 tahun,ada yang baru berusia 13 tahun sudah pun berkerja di sini.

Rata-rata anak-anak Patani, pada fikiran mereka hanya nampak untuk berkerja di Malaysia atau Singapura terutama di restoran Tom Yam.Contohnya, Fauzi, baru berusia 15 tahun, berasal dari daerah Muang, Patani, sudah pun berkerja di sini sebagai pencuci pinggan mangkuk. Tentulah beliau tidak habis belajar di sekolah. Apabila ditanya,mengapa tidak belajar, jawapanya, dia rasa tiada masa depan untuk itu, baik berkerja.Seorang lagi, Muhamad,14 tahun, sedang mencari atau menunggu peluang untuk berkerja di Malaysia. Beliau hanya sempat belajar di tingkatan satu sekolah agama hanya setahun iaitu pada tahun lepas. Tahun ini dia tidak mahu lagi belajar. " Malas dan tidak suka dengan sistem sekolah,'' katanya. Habis ikhtiar keluarganya supaya dia terus belajar.

Satu lagi kisah ialah tentang seorang ibu yang gagal dalam mencapai impian dalam memberi pendidikan buat anak-anaknya. Beliau bernama Habibah Che Ngah, seorang guru al-Quran di Patani. Lebih kurang lima tahun lepas,beliau bersemangat menceritakan tentang impiannya itu. Termasuk keinginan menghantar empat anaknya ke Malaysia melanjut pendidikan. Atau setidak-tidaknya anak perempuan sulung tamat kelas sepuluh sekolah agama ( tingkatan enam).

Dari segi kewangan beliau tidak mempunyai masalah kerana harta peninggalan arwah suaminya cukup untuk mereka.Namun, apa yang dirancangnya jauh meleset. Dalam pertemuan dengannya baru-baru ini, jelas terpapar rasa kecewa di wajahnya.Semuanya tidak menjadi.'' Segala-galanya sudah diberikan kepada anak-anak, cukup duit pitis,'' katanya meskipun redha dengan ketentuan ilahi. Semua empat anaknya tidak tamat sekolah atau tidak mahu ke sekolah. Yang perempuan sulung, baru berusia 16 tahun terpaksa dikahwinkan. Anak lelaki keduanya, tidak mahu sekolah lagi, sekarang berkerja di Malaysia.Kegagalan anak-anaknya menamatkan persekolahan disebabkan oleh persekitaran masyarakat yang masih sempit pemikiran terhadap pendidikan. Dengan kata lain ramai yang tidak habis sekolah di kampung-kampung. Ini saling mempengaruhi antara satu sama lain.Mereka merasakan cukup buat anak-anaknya jika pandai membaca atau bercakap Siam dan paling penting tahu mengaji al-Quran serta tahu sedikit hukum hakam.

Kenyataan ini dipersetujui oleh seorang pentadbir sekolah agama di Patani, Tuan Guru Ahmad Kamae, yang berpendapat masalah keciciran ini berlaku disebabkan oleh kurang kesedaran ibubapa tentang pendidikan untuk anak mereka. Sekaligus mewujudkan masyarakat yang tidak cakna pada sekolah.Ramai anggap sekolah ini untuk golongan berada, golongan miskin hanya sekadar tahu membaca dan menulis. Ia menjadi cabaran buat ibubapa yang mementingkan pendidikan buat anak mereka.

Juga, katanya, masyarakat melihat pendidikan tidak memberi peluang pekerjaan yang baik. Pandangan ini timbul kerana masalah ekonomi yang dihadapi sekarang ini.Pengangguran lepasan universiti banyak berlaku. Yang paling membimbangkan katanya: ''Ramai yang berpendapat mereka yang belajar tinggi-tinggi ( terutama pendidikan agama ) apabila pulang nanti akan memecahbelahkan masyarakat dengan fahaman-fahaman baru.'' Persepsi seperti ini secara tidak langsung membantutkan usaha memerdekakan minda ramai umat Patani yang sedang terkongkong oleh pemikiran minoriti.

Lebih menyedihkan lagi, ramai juga ibubapa Patani yang mengabai terus persekolahan anak mereka. Iaitu tidak menyekolah anak mereka. Kes ini banyak berlaku di kawasan pedalaman Kelantan terutama di kalangan ibubapa yang berkerja menoreh getah di sana. Biasanya ibubapa ini membawa semua anak mereka. Kemiskinan biasa diberi alasan mengapa tidak sekolahkan anak. Tindakan ini sebenarnya akan menyusahkan anak-anak mereka apabila pulang ke Thailand kelak. Anak -anak ini tidak tahu berbahasa Siam,apatah lagi membaca atau menulis. Ini yang akan menjadi masalah dengan negara. Seterusnya mereka ini senang dipergunakan pihak tertentu.

Di Thailand semua murid-murid belajar di sekolah dasar atau rendah dalam satu aliran iaitu sekolah kebangsaan. Namun, di peringkat menengah, umumnya,pendidikan di Selatan Thai terbahagi beberapa aliran.

Pertama, sudah tentu sekolah aliran kebangsaan Thai yang rata-ratanya dipenuhi anak-anak Melayu dari golongan elit atau berada. Kebanyakan pelajar yang belajar di aliran ini semua akan tamat tempoh pengajian. Jarang ibubapa dari golongan bawahan menghantar ke sekolah ini atas faktor kepentingan pendidikan agama.

Kedua, aliran sekolah agama. Aliran sekolah ini menggabungkan pendidikan akademik dan agama.Sekolah jenis ini boleh dianggap telah memberi jalan penyelesaian buat ibubapa yang mencari konsep 'menang-menang' dalam pendidikan. Ia sekarang menjadi pilihan utama ibubapa. Tetapi sekolah jenis ini masih gagal juga memenuhi setengah ibubapa dalam soal penerapan amalan agama pada faham mereka.Oleh itu, untuk mereka ini sekolah pondok menjadi pilihan yang ideal. Dalam pada itu, pergolakan yang tiada tanda akan reda banyak menyumbang kepada kegagalan untuk mengubah minda masyarakat. Untuk apa belajar jika tiada masa depan! Di pihak kerajaan pun tidak ada tindakan konkrit dalam menamatkan konflik. Lebih-lebih lagi dalam masa sekarang kerajaan campuran Samak masih ditekan pembangkang. Oleh itu tidak banyak yang mampu dibuat kerajaan.

Tambahan pula pemberontakan di Selatan Thai melibatkan pembakaran sekolah dan pembunuhan guru-guru. Sudah berpuluh-puluh sekolah dibakar dan lebih enam puluh guru terbunuh dalam tempoh kekacauan dari tahun 2004 hingga sekarang. Setiap kali berlaku kebakaran sekolah atau pembunuhan guru disesuatu kawasan, pasti sekolah di kawasan tersebut akan ditutup. Tidak kira siapa yang melakukan, yang sedihnya tindakan ini telah memberi banyak kerugian buat para pelajar -- anak-anak orang Islam.Walaupun ada pihak yang berpendapat usaha itu dapat menyekat atau menakutkan kerajaan dari menyebarkan doktrin mensiamkan umat Melayu Patani.

Tidak! Pembakaran sekolah dan pembunuhan guru telah menyebabkan anak-anak Patani banyak ketinggalan dari anak-anak bangsa Siam di wilayah lain.Dikala pelajar-pelajar di wilayah lain sedang belajar di kelas, pelajar-pelajar di sini ( Patani) sibuk mengejar bola di padang atau mandi-manda di sungai. Bila ditanya mengapa tidak ke sekolah?"Sekolah katup. Sekolah kena bakar.''
 



*Indeks Pendidikan di Thailand.'Merah' adalah yang paling rendah.Lihat ia termasuk Narathiwat.
 
(Rencana ini pernah di siar di Majalah I bulan Ogos 2008)
Sumber: http://aebooker.blogspot.com/2010/12/keciciran-pelajar-melayu-patani.html

Jumaat, 10 Disember 2010

Wahai Mujahid Yang Terkorban Di Bumi Patani

Wahai Mujahid Yang Terkorban Di Bumi Patani
Oleh: UmmahPatani

Menang atuapun Shahid

Kuciptakan lagu untukmu
Kunyanyikan syair buatmu
Tentang perjuangan
Tentang pengorbanan
Laungan bertubuh kecil
Tetapi berjiwa besar
Tegas pendirian
Dan berhati mulia
Dari utara hingga selatan
Lantang suaramu
Menentang penjajahan
Melawan penindasan
Demi untuk negara
Demi untuk merdeka
Kau sering terpenjara
Kebebasanmu dirampas
Tapi jiwamu tetap merdeka
Di atas robohan Patani
Kita dirikan jiwa merdeka
Kata-kata azimat darimu
Tak pernah kami lupa
Walaupun kini jasadmu telah tiada
Namun semangatmu membakar jiwa
Rakyat Patani yang tak pernah melupakan pengorbananmu
Rakyat Patani yang cintakan perjuanganmu
Wahai Mujahid Yang Terkorban 


Kata Kata Yang Keramat Dan Hikmat



Merdeka Merdika Merdeka Allah Hu Akbar

Rabu, 8 Disember 2010

CITIZEN JULING, Matinya Guru di Kucing Buta

CITIZEN JULING, Matinya Guru di Kucing Buta(Rencana ini dimuat dalam majalah Milenia Muslim edisi bulan Januari 2009)

Dalam ramai guru yang menjadi mangsa konflik Selatan Thai, nama Khru Juling Pongkunmul banyak lekat diingatan rakyat Thailand kerana aksi brutal terhadapnya. Guru pendidikan seni di sekolah rendah kampung Gujingruepo (Kucing Buta), Narathiwat itu telah diculik dan dipukul teruk pada May 2006, telah menyebabkan beliau koma selama lapan bulan. Akhirnya meninggal dunia Januari 2007 ketika masih dalam ICU pada usia 24 tahun.

Yang menimbul kemarahan masyarakat Thai adalah kerana Juling dikerjakan oleh segolongan surirumah penduduk kampung tersebut, juga ibu-ibu kepada murid-murid yang diajar Juling. Biasanya guru-guru menjadi mangsa tembak. Justeru itu, tragedi menimpanya mendapat perhatian dan simpati masyarakat Thai begitu meluas.Hingga beliau diangkat sebagai hero masyarakat. Seterusnya ikon guru.

Media-media pula sentiasa menggambarkan kecekalan beliau mendidik anak bangsa. Beliau dianggap seorang guru yang berani dengan mengenetepikan segala halangan dan persepsi masyarakat dan keluarganya di utara mengenai ancaman di selatan demi mengajar erti toleransi buat anak-anak Pattani melalui pendidikan seni. Lukisan-lukisan beliau banyak menggambar hal sedemikian. Untuk itu media Thai melabelkannya sebagai '' Sleeping Beauty'' ketika beliau terlantar koma di ICU.

Sesungguhnya ramai orang Thai emosi apabila bercakap tentang Juling. Tidak hairan ada yang mengambil kes Juling untuk membenarkan tindakan lebih keras ke atas penentang selatan. Tidak terkecuali kerajaan pimpinan Thaksin yang tidak mahu memberi muka kepada pemberontak selatan.

Namun tidak bagi aktivis filem Thai, Ing K dan Manit Sriwanichpoon serta Kraisak Choonhavan, ahli parlimen Parti Demokrat ketika itu, melihat kes Juling satu pintu untuk memahami konflik yang berlaku dengan membikin sebuah dokumentari bermula dari insiden tersebut.Untuk itu judulnya diberi nama Citizen Juling ( Polamuang Juling) yang bergerak dalam masa 222 minit. Bahasa yang digunakan loghat Melayu Pattani selain bahasa Thai. Asas utama pembikinan filem tersebut adalah untuk memahami konflik sekurang-sekurangnya dapat memberi pandangan yang lebih bertanggungjawab pada masa akan datang tanpa terlalu terikut dengan sentimen nasionalisme.

Selama ini kita mendapat dan memberi pandangan buruk setiap perkara yang berlaku di selatan, kata Kraisak. Beliau percaya, filem ini boleh mendedah perkara sebenar yang berlaku. "Mungkin saya boleh bercakap banyak perkara dalam filem,'' ujarnya lagi berbanding kesuntukan ruang di parlimen. Oleh itu pembikinan dokumentari ini tidak seperti filem yang lain, ia tidak mengandungi naratif yang jelas tetapi dibikin secara spontan supaya khalayak dapat menilai keadaan sebenar dalam masyarakat.

Bertitik-tolak dari itu, Kraisak bergerak dengan kamera mengikutinya, bertemu dan cuba menyelami perasaan semua lapisan masyarakat tidak kira Islam mahupun Buddha. Bermula dari ketua kampung kepada penduduk, pelajar, imam-imam hingga ahli politik. Juga dihadapi Kraisak, saudara mara suspek yang ditahan pihak berkuasa atau yang sudah terbunuh. Pengembaraan video Kraisak berakhir di hospital yang menempatkan Juling yang koma.

Semua ini dapat dihasilkan kerana imej Kraisak yang lebih dikenal seorang lantang bercakap mengenai keadilan untuk selatan.Kerana itu beliau senang mendampingi penduduk. Selama ini masyarakat Islam di wilayah konflik boleh dianggap 'bisu'. Mereka tersepit di tengah-tengah antara pihak kerajaan dan pemberontak yang tidak jelas identiti. Mereka takut bertemu pegawai-pegawai kerajaan dan tidak tahu memberi nasihat buat pemberontak. Kerjasama yang diperolehi Kraisak ini telah melahirkan filem dokumentari yang kaya dengan kesedihan, kekeliruan dan pendedahan yang bertahun-tahun terpendam.

Ambil sahaja contoh ini, bapa seorang anak yang terkorban dalam tragedi Masjid Krue Sue, menangis dan berharap keadilan untuk anaknya dapat dipercepatkan. Dan juga balu-balu yang kehilangan suami dalam tragedi tersebut yang mahu keadilan. Mungkin bagi masyarakat Thai ini mengelirukan. Mengapa pula mahu keadilan untuk mereka? Sedangkan mereka itu terlibat dalam serangan terhadap tentera dalam kejadian tersebut. Sebenarnya bagi masyarakat Islam selatan, lebih-lebih lagi keluarga mangsa tetap beranggapan anak-anak mereka itu telah diperguna pihak berkuasa dalam usaha kerajaan mencari dalang sebenar pelaku keganasan. Teori diperguna pihak berkuasa ini menguasai masyarakat Islam.Mereka percaya sampai hari ini. Walaupun kerajaan mengatakan mereka menyertai pemisah atau diperguna pemisah.Walaupun hasil forensik kerajaan yang mengatakan mereka itu di bawah pengaruh dadah.

Selain itu Citizen Juling juga mendedahkan keadilan gagal ditegakkan. Ramai yang ditahan di bawah undang-undang tentera sesuka hati. Bertimbun-timbun kes tertunggak di makhamah. Dimana keadilan? Begitu juga dengan kes Juling. Buat orang Islam atau lebih tepat lagi penduduk kampung Gujingruepo, mereka mempunya cerita dan alasan tersendiri, bagaimana insiden ini boleh berlaku. Sayangnya, mereka tidak menjelaskan terang-terang kepada Kraisak.

Mengikut hasil temuramah dengan saudara mara dan bekas guru Juling apa yang kita dapat ialah Juling seorang yang bijak, perwatakannya ala-ala tomboy, seorang yang lasak; pemanjat pokok dan pernah menyelamat ular tedung dari dibunuh penduduk kampung. Kesihan, Juling tersalah tempat mengajar. Tidak salah rasanya mengatakan, insiden tersebut boleh berlaku disebabkan oleh pertembungan budaya ekstrem antara kedua-duanya. Juling berasal dari Chiang Rai tentunya dibesar dalam suasana ekstrem cara utara, hadir sebagai guru dan berdepan pula masyarakat di wilayah konflik yang hidup dalam ''kepanasan'' sejak bertahun-tahun lalu.

Kehadiran orang seperti Juling boleh di salah anggap.Lantas, apalagi orang seperti Juling dicap mata-mata kerajaan oleh pemberontak. Yang menjadi persoalan adakah guru muda seperti Juling cukup faham untuk mengajar di tiga wilayah bergolak?Atau apakah persiapan lain yang perlu ada pada guru yang ingin mengajar di selatan?Apapun moral buat kerajaan Thai, asingkan pendidikan dari propaganda politik.

Menyelami Citizen Juling akhirnya memberi jawapan kepada soalan pertama Ing K, Manit Sriwanichpoon dan Kraisak Choonhavan atau juga soalan orang Thai yang lain iaitu mengapa ada ibu-ibu sanggup membunuh guru yang mengajar anak-anak mereka?

Untuk itu, Ing K mengungkap begini dalam satu temual stesen radio:''Bila saya ke kampung( Gujingruepo) ini, ia sebuah tempat yang indah di selatan Thai; hijau, damai, penuh dengan ketenangan tetapi tentulah sekatan dan kubu-kubu beg pasir ada di mana-mana." Beliau menyambung, itu pada siang hari, bila tiba waktu malam, ketakutan dan kecurigaan menguasai segenap ruang kehidupan.Dan tiada lagi yang indah.Semuanya berkurung dalam rumah, dalam bilik masing-masing. Jelas sekali,semua ini berakar dari rasa curiga-mencurigai antara satu sama lain -- orang Islam dengan tentera -- orang Islam dengan penduduk Buddha -- orang Islam dengan orang luar.

Keruntuhan nilai kepercayaan ini pula berpunca dari ketidakadilan banyak berlaku dalam menangani konflik yang berakar berpuluh-puluh tahun dahulu. Oleh itu, jurang syak ini semakin menjarak saban hari bermula dari kegagalan kerajaan lalu hingga kini kerana oleh ketiadaan polisi yang konkrit dari kerajaan sekarang. Tambahan pula pemberontak tidak diam dengan propaganda meraih simpati.

Soalnya, adakah penduduk kampung percaya pada Juling dari utara? Oleh kerana dokumentari ini dirakam ketika pemerintahan Thaksin, jelas sekali Kraisak ingin memapar kegagalan kerajaan masa itu dalam menangani konflik yang melarat hingga kini. Seolah-olah Kraisak ingin meletak semua masalah di Thai kini bermula dari Thaksin.Itulah kelompangan yang ada pada Citizen Juling. Isu sebenar tidak digali dengan mendalam. Hanya menyalah satu pihak.

Buat penyokong parti pembangkang mereka bersetuju dengan filem ini, mungkin tidak buat penyokong parti kerajaan PPP. Bagi pemberontak pula masalah di selatan bukan soal kepimpinan di Bangkok tetapi ini soal kedaulatan kekuasaan Melayu-Islam. Tidak kira siapa yang memerintah di Bangkok pemberontak akan berlaku. Namun, setidak-tidaknya kehadiran filem ini dapat memberi dimensi baru ke arah saling memahami.Dengan harapan keadilan dapat ditegakkan. Semoga kehadiran filem ini orang Thai tidak hanyut dengan slogan tidak rasmi kebanggaan mereka; kami ada matahari, ada laut dan ada seks yang menjadi rencah dalam filem Thai.
 
Sumber: http://aebooker.blogspot.com/2010/12/citizen-juling-matinya-guru-di-kucing.html?spref=fb

Isnin, 6 Disember 2010

Penyiksaan Terhadap Tahanan Muslim Oleh Militer Musyrik Thailand Tak Terungkap Publik

Penyiksaan Terhadap Tahanan Muslim Oleh Militer Musyrik Thailand Tak Terungkap Publik
Oleh: Hanin Mazaya
Telah di Edit Oleh: Patani Fakta dan Opini

Dunia masih diramaikan oleh pemberitaan mengenai bocornya dokumen-dokumen rahasia yang memperlihatkan keburukan AS yang dirilis oleh situs Wikileaks milik Julian Assange.  Dalam dokumen tersebut terungkap bagaimana AS menyiksa tahanan Irak serta pembunuhan terhadap sipil Irak.  Publik internasional seperti terlupa dengan adanya penyiksaan lain di dunia ini.

Yaitu Thailand, penyiksaan terjadi di sana, bukan karena AS bercokol di Thailand dan memerangi "Pejuang Pembebasan" di sana.  Sejak tahun 2004, lebih dari 4.400 orang telah tewas di Thailand selatan dalam conflict berdarah antara pasukan musyrik Thailand dan "Pejuang Pembebasan" Melayu Muslim.  Majority penduduk Thailand merupakan penganut Budha, namun di provinces selatan seperti Pattani, Yala dan Narathiwat sebagian besar penduduknya beragama Islam dan berbahasa Melayu yang berada di bawah pemerintahan Bangkok selama satu abad.

Cheakwae Naesa, 58, holds a picture of his son Sulaiman, who died at age 25 in military custody. Sulaiman's mother Maetsoh is in the background at their home in Pattani, Thailand, on June 30, 2010, Madaree Tohlala / AFP / Getty Images
Saya, baru-baru ini mengunjungi wilayah bersama direktur Orlando de Guzman, untuk bersama-sama mendokumentasikan kematian seorang tersangka "pejuang" yang berusia 25 tahun bernama Sulaiman Naesa. Ia ditahan pada bulan Mei di kamp militer di Pattani, Ingkhayutthabariharn.  Pasukan musyrik Thailand meng-claim Sulaiman mengakui perannya dalam pembunuhan sembilan orang, kemudian mengikat handuk ke jeruji selnya dan menggantung diri.

Orang tua Sulaiman mengatakan anaknya merupakan seorang penduduk desa yang setengah buta huruf, bukan militan dan bahwa darah dan memar yang terlihat di tubuh jenazahnya membuktikan ia disiksa sampai mati, bukan gantung diri.

Apa yang sebenarnya terjadi?  Kita mungkin tidak akan pernah tau.  Orangtuanya melihat tidak ada gunanya autopsy.  "Bagaimana mungkin kami melawan pemerintah?" ujar ibu Maetsoh.  Tapi kasus Sulaiman harus menjadi focus perhatian internasional tentang pelanggaran hak asasi manusia di Thailand selatan, khususnya pada tubuh yang terus semakin membuktikan bahwa militer secara rutin melakukan penyiksaan terhadap tahanan Muslim.  Hal ini juga menjadi pertanyaan, mengapa AS terlihat tenang dalam hal ini?

Militer Thailand sangat antusian untuk memperlihatkan kepada kru kami wajah kemanusiaan Letjen Pichet Visaijorm, seorang mantan komandan regional, yang memberi kami tur pribadi dari proyek peliharaannya.  Hal ini termasuk operasi gigi secara gratis bagi masyarakat lokal di markasnya di provinsi Yala.

Kami melihat seorang dokter gigi tentara yang tengah memasang satu set gigi palsu terhadap seorang Muslim tua.  Orang itu berseringai, "apakah mereka cantik?" mendesak Jenderal Pichet untuk tersenyum balik dan mengatakan "Kamu menyukainya?"  Lalu senyumnya memudar.  Perhatian kami berikutnya adalah Ingkhayutthabariharn, rumah untuk tahanan militer dan facility interrogation.  Ini disebut juga Pusat Promosi Reconciliation.  Bagi ummat Islam, Ingkhayutthabariharn adalah kata yang mengerikan.  Mereka tahu apapun dapat terjadi di sana.

Sulaiman ditemukan tewas di sebuah blok yang disebut oleh tentara sebagai "resort".  "setiap orang takut berada di sana," ujar seorang mantan tahanan kepada kami.  Mantan napi mengatakan ia sempat berbicara kepada Sulaiman, yang mengatakan bahwa tentara telah menendangnya dengan begitu keras di perutnya dan ia tidak diberi makan selama empat hari.  Ia mengatakan ia melihat tahanan dipukuli dan kantong plastik menutupi kepalanya hingga membuat tahanan tersebut mati lemas.  Sangat banyak complain mengenai penyiksaan terhadap tahanan militer di Thailand selatan dan semakin banyak setiap tahunnya, sangat menakjubkan bahwa dunia tidak sedikitpun memiliki perhatian lebih akan hal ini.

Pelanggaran yang dilaporkan oleh para tahanan termasuk pemukulan berat, sengatan listrik, dipaksa telanjang, suhu ruangan extreme yang sangat panas atau dingin, dimasukkan jarum ke dalam luka yang menganga, dan menahan keluarga para tahanan sebagai sandera termasuk sebuah kasus penyanderaan terhadap anak berusia 6 tahun.

"Kami tidak pernah melakukan penyiksaan," ujar Letjen Udomchai Thamsarorat, komandan regional saat ini.  "Kami disini untuk menolong orang-orang, bukan menyakiti mereka," claim-nya.  Selimut penolakan ini tidak mengesankan para pengamat ahli.  "Tentara keamanan terus menggunakan penyiksaan meskipun komandan senior meng-claim telah melarangnya," ujar International Crisis Group yang berbasis di London pada November lalu.  Dalam dua bulan menjelang kematian Sulaiman, Amnesti Internasional menerima delapan laporan penyiksaan dan enam diantaranya terjadi di Ingkhayutthabariharn.

Penolakan tersebut juga tidak mampu menipu penduduk setempat.  Di Pattani, aku menemui seorang guru bahasa Melayu yang sedang memberikan latihan kepada muridnya dan meminta muridnya (yang semuanya Muslim) untuk menulis sebuah laporan bergaya surat kabar.  Belasan dari mereka memilih kisah mengenai kerabat atau teman mereka yang pernah ditahan atau disiksa.  Ketika saya bertanya kepada seorang Muslim tentang pelanggaran ini dan mengapa mereka tidak berbicara lantang mengenai hal tersebut, ia menjawab : "Kami benci tentara tapi kami juga takut kepada mereka.  Ketakutan kami lebih besar dari kebencian kami."  Pandangan seperti itu nampaknya telah diketahui oleh petugas yang berbicara kepada saya.  Letjen Udomchai mengatakan ia "100 persen" yakin bahwa tentaranya telah memenangkan hati dan pikiran kaum Muslim.

Penyiksaan adalah illegal dan menjijikkan.  Setelah peristiwa 911, CIA menyiapkan jaringan global penjara rahasia dimana tersangka "terorisme" menjadi sasaran waterboarding dan bentuk-bentuk penyiksaan lainnya.  Sistem pertama, dua tahanan secara brutal diinterogasi di sebuah penjara di Thailand pada 2002.  Di bulan november Departemen Kehakiman AS memutuskan bahwa para pejabat CIA tidak akan menghadapi tuduhan kriminal untuk menghancurkan rekaman video yang menunjukkan penyiksaan.

CIA tidak pernah mengungkapkan lokasi tepat dari penjara rahasia yang laporannya ditutup pada 2003.  Thailand membantah semua pengetahuan itu.  Namun banyak dari "teknik interogasi yang telah disempurnakan", apa yang disebut halus di facility-facility ini menciptakan stress yang berkepanjangan, kurang tidur, penggunaan anjing.  Ini bukan bukti bahwa Amerika sedang mengajar Thailand cara penyiksaan, tetapi ini bukan suatu kebetulan.  Tentara Thailand tampaknya tengah meng-adoption praktek buruk yang hanya diketahui militer dan mengaguminya sendiri.

Pada Januari mendatang, Pejuang Pembebasan di Thailand selatan akan memasuki tahun keenam (2004-2010).  Perdamaian tidak akan berdiri sampai Jenderal Thailand melihat penyiksaan sebagai cancer dalam barisan mereka.  Ingin memenangkan hati dan pikiran ummat Melayu Muslim?  Apa yang diinginkan penduduk setempat adalah keadilan, bukan gigi palsu gratis.

Sumber ini berasal dari: http://www.time.com/time/world/article/0,8599,2033902,00.html
Sumber dari: http://arrahmah.com/index.php/news/read/10134/penyiksaan-terhadap-tahanan-muslim-oleh-militer-musyrik-thailand-tak-terung
Utk melihat gambar atas penyeksaan ini bisa lihat di:  http://www.facebook.com/note.php?saved&&note_id=171720076184714#!/album.php?aid=27269&id=100001008597745